Hindari 7 Pola Pikir Ini agar Keuangan Makmur

Sudah tidak punya beban yang menyangkut keuangan, seperti utang dan mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan baik, itulah yang dinamakan merdeka finansial.

Ya, masing-masing orang mengartikan merdeka finansial berbeda, tergantung kebutuhan. Ada yang memaknai merdeka finansial adalah terbebas dari jeratan utang, kemampuan mengatur keuangan secara tepat, keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Ada juga yang berpendapat seseorang sudah dikatakan merdeka secara finansial kalau bisa menikmati hasil investasi yang sudah ditanamkan. Jadi tidak perlu kerja keras lagi, tinggal tidur alias ‘merem’, uang mengalir ke kantong.

Tetapi intinya adalah kamu dapat mengelola uang secara baik, sehingga tercipta merdeka finansial. Oleh karena itu, ubah pola pikirmu agar dapat mewujudkan cita-cita atau resolusi tersebut.

Baca Juga: Cara dan Harga Sewa Bioskop CGV, Cinema XXI, dan Cinepolis

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

7 Pola Pikir Buruk Ini Harus Dihindari agar Keuangan Makmur

Kartu Kredit Menghambur-hamburkan uang untuk keinginan

1. Uang datang dengan sendirinya

Nyatanya, uang tidak bisa datang sendiri. Harus dicari, dalam arti untuk mendapatkan uang, kamu harus bekerja, berusaha, atau bahkan mengorbankan banyak hal dalam hidup.

Sebab, berdiam diri dan mengucapkan mantra hebat sekalipun tidak bisa membuat uang datang ke hadapanmu. Bahkan berlipat-lipat.

Semakin giat mencari, semakin banyak uang yang didapat. Seperti itulah uang. Jadi, jangan pernah berandai-andai ingin punya banyak uang, tapi bermalas-malasan.

Selagi usiamu masih muda, giatlah mencari uang agar dapat menikmati hasil jerih payahmu di hari tua.

2. Meremehkan uang receh

Jika dilihat dari nilainya, uang receh seperti tidak ada harganya. Misalnya nominal Rp 100, Rp 200, Rp 500, atau Rp 1.000.

Namun, uang receh akan menunjukkan kekuatannya apabila kamu mengumpulkannya sedikit demi sedikit. The power of receh.  

Uang 500 perak misalnya, kalau dikumpulkan setiap hari selama 5 tahun, bisa mencapai Rp 900 ribu. Lumayan bukan, untuk tambahan membeli kebutuhan.

Kamu juga dapat mengajarkan anakmu menabung. Dimulai dengan uang receh, hasil kembalian. Simpan saja di celengan, botol atau kaleng bekas. Lama-lama pasti akan penuh. Jauh lebih bermanfaat ketimbang dibuang.

3. Investasi hanya untuk orang tua

Masih banyak yang berasumsi kalau investasi cuma untuk orang tua, bukan untuk anak muda. Sebab anak muda, masih kuat bekerja.

Tetapi tidak ada yang tahu nasib seseorang ke depan. Bisa saja meski usia muda, namun tiba-tiba menderita sakit keras, kecelakaan sehingga cacat seumur hidup, atau kondisi lainnya.

Pola pikir ini harus diubah. Justru milenial atau generasi Z sekarang yang harusnya lebih melek investasi. Banyak instrumen yang bisa dipilih, seperti reksadana, saham, peer to peer lending, emas, deposito, atau investasi properti.

Jadi investasi buat siapapun. Tidak pandang bulu. Semua bisa belajar atau memulai investasi. Dari modal kecil sampai modal besar.

Investasi akan menjadi jalan mengembangkan uangmu. Untuk kehidupan keuangan yang lebih baik di masa depan.

Baca Juga: 12 Cara Atur Keuangan Rumah Tangga dengan Gaji Kecil

4. Belanja sesuka hati karena hidup cuma sekali

Istilah YOLO atau hidup cuma sekali menjadi moto anak muda zaman sekarang, Ada benarnya, tapi bersikap konsumtif karena hidup cuma sekali tidaklah disarankan. 

Sebab, harimu tidak berhenti sampai di sini saja. Masih ada hari esok, lusa, dan seterusnya yang sejatinya butuh biaya besar.

Makanya jauhi hidup konsumtif dari sekarang agar kamu tidak terjebak gaya hidup berlebihan. Belanjakan uang untuk kebutuhan, bukan keinginan. Dengan begitu, kamu sukses mengatur keuangan dan meraih merdeka finansial.

Belanja
Belanja sesuka hati karena hidup cuma sekali

5. Manjakan dirimu sampai bahagia maksimal

Begitu juga dengan hal memanjakan diri, sebaiknya secukupnya saja. Beri penghargaan untuk dirimu dalam jumlah atau nominal kecil saja. Yang penting cukup membuatmu bahagia.

Tidak usah lebay, buang-buang uang. Lebih baik gunakan uang untuk hal produktif, seperti investasi, menabung, atau menjadi modal usaha.

6. Gaya hidup dijadikan sebagai penentu status sosial

Tidak dapat dipungkiri kalau status sosial di masyarakat masih tergantung dari berapa banyak uang yang dimiliki, berapa banyak rumah, kendaraan, atau asetmu.

Benar, tapi kamu salah kalau sampai menghabiskan uang untuk menunjang gaya hidup demi meningkatkan status sosial. Biar dipuji atau dibilang horang kaya.

Kamu tidak perlu membuktikan apapun kepada orang lain, misalnya dengan memakai barang branded, sering traveling, atau nongkrong di tempat mahal. Sebab orang yang sudah tahu tentang dirimu, tak membutuhkan pembuktian itu.

Baca Juga: Bagaimana Cara Bisa Menabung dengan Gaji Rp 5 Juta, Punya 2 Anak, dan Utang?

7. Menabung di akhir bulan

Mindset buruk yang mungkin masih diterapkan banyak orang adalah menabung di akhir bulan. Itulah yang dinamakan menyisakan bukan menyisihkan gaji.

Pola pikirnya gaji dipakai dulu untuk senang-senang. Kalau ada sisa, baru menabung. Ini cara mengatur keuangan yang salah.

Sebab bisa saja, belanjamu tidak terkontrol di awal bulan, sehingga tidak ada sisa sama sekali. Boro-boro sisa, uang sudah habis di tengah bulan. Untuk bertahan hidup, akhirnya ngutang.

Manfaatkan Uangmu dengan Baik, Biar Ekonomi Gak Morat Marit 

Jika kamu dapat memanfaatkan uang dengan baik, menganggarkan sesuatu yang memang dibutuhkan untuk hari ini dan ke depan, maka sudah pasti keuanganmu bakal terjaga.

Tak ada lagi beban pikiran masalah keuangan, karena semua sudah terencana dengan baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Baca Juga: Biar Keuangan Tetap Sehat, Begini Cara Bijak Pakai PayLater