Kaleidoskop 2020: Deretan Ujian Ekonomi RI Akibat Covid-19

Tahun 2020 telah memberi warna bagi warga Indonesia. Berbagai peristiwa ekonomi silih berganti meninggalkan bekas di hati.

Tahun 2020 merupakan tahun Tikus Logam. Sejatinya melambangkan kesuburan, kekayaan, dan keberuntungan.

Tetapi apa yang terjadi? Cobaan bertubi-tubi menerpa bumi pertiwi. Bukan hanya sebulan, dua bulan, namun sepanjang tahun ini.

Cobaan terberat bagi bangsa Indonesia adalan virus corona atau Covid-19. Virus asal Kota Wuhan, China ini bak petir di siang bolong.

Menjadi salah satu ‘setan’ ekonomi seluruh negara, tak terkecuali Indonesia. Dari sebuah wabah menjadi pandemi. Melumpuhkan sendi-sendi perekonomian.

Bahkan ‘luka’ akibat Covid-19 masih terasa sakit hingga saat ini. Belum ada obatnya. Entah kapan akan sembuh. Hanya waktu yang dapat menjawab.

Berikut rentetan peristiwa ekonomi yang tersaji dalam Kaleidoskop 2020, seperti dirangkum Cermati.com dari berbagai sumber:

Baca Juga: Mau Investasi Cuan di 2021? Buruan Serok Saham Pilihan Ini

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Januari – Banjir Jakarta

Banjir
Banjir Jakarta melanda di pergantian tahun 2020

Mengawali tahun 2020, musibah datang menyapa. Tepat di malam pergantian tahun baru, terjadi banjir di Jakarta dan sekitarnya.

Banjir Jakarta merenggut korban jiwa. Sebanyak 66 orang dilaporkan tewas dan nyaris 400 ribu orang terpaksa mengungsi.

Banyak rumah terendam air, jaringan transportasi lumpuh parah, kegiatan ekonomi terganggu. Kerugian akibat banjir Jakarta diklaim mencapai Rp 1 triliun.

Sampai muncul gugatan class action. Menggugat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan secara perdata. Menuntut ganti rugi para korban banjir di Ibu Kota.

Februari – Kartu Pra Kerja

Presiden Jokowi resmi menandatangani Perpres Kartu Pra Kerja. Bantuan untuk pengangguran dan pencari kerja yang kena PHK atau ingin meningkatkan kompetensi.

Bantuan peserta Kartu Pra Kerja yang memenuhi syarat, totalnya senilai Rp 3.550.000. Terdiri dari biaya pelatihan Rp 1 juta, insentif pasca pelatihan Rp 600 ribu per bulan selama 4 bulan, insentif pasca pengisian survei evaluasi Rp 50 ribu per survei untuk 3 kali.

Maret – Covid-19 Masuk RI

Virus corona menjadi ujian maha berat bagi dunia, termasuk Indonesia. Virus dengan nama lain Covid-19 ini muncul pertama kali di Wuhan, China. Baru secara resmi dilaporkan ke WHO pada Desember 2019.

Sementara Indonesia mengonfirmasi kasus Covid-19 untuk pertama kalinya pada 2 Maret 2020. Dua orang WNI diumumkan terinfeksi corona. Sejak saat itu, jumlah pasien Covid-19 terus bertambah.

Dari data Satgas Penanganan Covid-19, hingga saat ini, yang terkonfirmasi positif Covid-19 berjumlah 598.933 orang. Angka tersebut bertambah sebanyak 6.033 jiwa.

Tercatat pasien yang sembuh sebanyak 491.975 orang dan meninggal 18.336 jiwa. Kasus aktif tercatat 88.622 kasus. Disebut-sebut rekor tertinggi sejak badai pandemi menerpa.

Kemunculan Covid-19 membawa dampak besar bagi perekonomian Indonesia. Bukan untung, tapi buntung. Hampir seluruh sektor terserang, seperti pariwisata, makanan dan minuman, properti, transportasi, dan lainnya.

Total kerugian akibat pandemi Covid-19 di Tanah Air diperkirakan mencapai Rp 320 triliun selama kuartal I-2020. Tidak hanya rugi materi, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan mental. Sebab banyak orang di rumahkan, gaji dipotong, bahkan kena PHK.

April – IHSG dan Rupiah Ambles

IHSG
IHSG dan rupiah sempat terjun bebas akibat pandemi Covid-19

Peristiwa ini jadi awal kejatuhan akibat pandemi Covid-19. Sejak Maret hingga awal April, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ambles terus. Sempat tembus ke level Rp 16.000 per dolar AS.

Pun dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Merosot tajam hingga menyentuh level terendah dalam sejarah ke level 3.937.

Kala itu, pasar saham dan pasar uang dalam negeri goyang tersengat sentimen Covid-19 dan dimulainya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta dengan protokol ketat.

Banyak investor panik, kabur, dan melakukan aksi jual. Sehingga IHSG dan rupiah ambrol. Namun kini, keduanya bangkit.

IHSG makin ijo royo-royo jelang akhir tahun 2020. Malah diprediksi menembus level 6.000. Sementara kurs rupiah kian berjaya menekuk dolar AS di kisaran Rp 14.102.

Mei – Ekonomi RI Mulai ‘Oleng’

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin begitu yang dialami bangsa Indonesia di awal-awal tahun. Guncangan juga datang dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020.

Ekonomi nasional hanya mampu bertumbuh 2,97%. Terendah sejak kuartal I-2001 di era pemerintahan Gus Dur. Realisasi tersebut jauh lebih rendah dari prediksi pemerintah dikisaran 4,5 sampai 4,6%. Lagi-lagi penyebabnya gegara Covid-19.

Juni – Banjir Bansos dari Pemerintah

Banjir bantuan pemerintah bagi masyarakat terdampak Covid-19. Ada Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, diskon listrik, bansos sembako, BLT subsidi gaji bagi pekerja, guru honorer.

Ada pula, bantuan kuota internet gratis untuk pelajar dan mahasiswa serta tenaga pengajar, kartu pra kerja, bebas bayar pajak bagi karyawan dan pengusaha.

Selain itu juga bantuan UMKM, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) Super Mikro bebas bunga, maupun BLT senilai Rp 2,4 juta.

Juli – Harga Emas Tembus Rp 1 Juta

Emas
Harga emas tembus Rp 1 juta per gram

Harga emas untuk pertama kalinya tembus ke level Rp 1 juta. Tepatnya pada 28 Juli 2020, emas Antam menyentuh harga Rp 1.022.000 per gram.

Melonjak Rp 25.000 dari harga sehari sebelumnya Rp 997.000 per gram. Bahkan sempat mencetak rekor termahal sepanjang sejarah pada harga Rp 1.065.000 per gram.

Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran pelaku pasar karena pandemi Covid-19 belum mereda. Sehingga lari ke emas sebagai investasi safe haven.

Baca Juga: Daftar Iuran BPJS Kesehatan Terbaru 2021, Kelas 3 Naik Rp 9.500

Agustus – Pertumbuhan Ekonomi RI Negatif

Kembali, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi parah. Di kuartal II, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh minus 5,32%.

Menjadi yang terburuk sejak pertumbuhan ekonomi kuartal I-1999. Waktu itu, ekonomi tumbuh negatif 6,13%. Tekanan ini adalah imbas dari badai Covid-19, di mana motor penggerak pertumbuhan ekonomi seluruhnya terkontraksi.

September – Tarif Listrik PLN Turun

Selain diskon listrik bagi pelanggan subsidi, PLN menurunkan tarif listrik untuk non-subsidi. Khususnya 7 golongan tegangan rendah.

Harga listrik PLN untuk golongan rendah turun sebesar Rp 22,58 per kWh menjadi Rp 1.444,70 per kWh. Penurunan tarif listrik berlaku mulai Oktober sampai Desember 2020, tanpa syarat.

Oktober – Omnibus Law UU Cipta Kerja Terbit

Pekerja
Terbitnya Omnibus Law UU Cipta Kerja mengundang kontroversi

Tok! DPR sahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja menjadi UU di masa pandemi. UU setebal 1.187 halaman tersebut sangat kontroversial.

Yang paling jadi sorotan adalah soal ketenagakerjaan. Sebut saja menyangkut uang pesangon. Di UU yang baru ini, nilai maksimal pesangon yang diterima pekerja bakal berkurang menjadi 25 kali upah.

Selain itu, pekerja makin gusar karena waktu kerja lembur ditambah. Sementara jatah libur mingguan dipangkas, cuti haid dihapus. Status kontrak bakal seumur hidup, dan klausul lainnya.

November - RI Resmi Resesi hingga Bunga Acuan BI Turun

Di bulan ini, nasib Indonesia seperti di ujung tanduk. Negara ini resmi masuk resesi ekonomi.

Ditunjukkan dari data pertumbuhan ekonomi yang lagi-lagi negatif sebesar 3,49% di kuartal III-2020. Menyusul puluhan negara lain yang sudah lebih dulu mengalami resesi.

Pertumbuhan ekonomi berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyatnya. Saat ekonomi sebuah negara jatuh, rakyat kena getahnya.

Jumlah pengangguran naik 2,67 juta orang menjadi 9,77 juta jiwa. Rata-rata gaji pekerja pun turun menjadi Rp 2,76 juta per bulan. Biang keroknya adalah Covid-19.

Di sisi lain, pada November 2020 juga terjadi penurunan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%.

Tingkat suku bunga acuan ini merupakan yang terendah sejak BI7DRR mulai diberlakukan 21 April 2016. Dan level terendah sepanjang masa saat masih menggunakan BI Rate.

Desember – Kasus Korupsi 2 Menteri Jokowi

Lobster
Paling heboh kasus korupsi benih lobster dan bansos oleh 2 menteri Jokowi

Peristiwa korupsi menjadi penutup tahun kelabu bagi Indonesia. Dua menteri Jokowi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi.

Pertama, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo diciduk KPK terkait dugaan korupsi ekspor benih lobster. Edhy diduga menerima uang senilai Rp 3,4 miliar dan 100 ribu dolar AS dari pihak PT Aero Citra Kargo.

Kedua, penahanan Menteri Sosial, Juliari Batubara atas dugaan suap bansos penanganan pandemi Covid-19. Uang haram yang diterima totalnya sebesar Rp 17 miliar dari pengadaan dan penyaluran bansos.

Bagaimana dengan Keuanganmu di 2020?

Tahun 2020 akan segera berakhir, apakah sudah mengevaluasi keuanganmu? Bagaimana hasilnya, sehat atau justru sakit?

Jika keuanganmu sehat, lebih besar pemasukan dibanding pengeluaran, itu berarti kamu mampu mengatur uang dengan baik. Mengontrol belanja, sehingga kondisi finansial tetap stabil meski ada pandemi dan resesi.

Sebaliknya, bila keuanganmu sakit atau sedang mengalami krisis, segera atur ulang. Mulai dari memangkas pengeluaran yang tidak penting, setop pakai kartu kredit, dan cari penghasilan tambahan.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Vaksin Moderna, Ampuh 94% Cegah Virus Covid-19