Pengertian Deflasi, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Bagi masyarakat awam, mungkin kata-kata yang satu ini cukup asing di telinga mereka. Padahal, ini merupakan salah satu situasi genting pada perekonomian di sebuah negara. Jika terjadi, baik pemerintah dan bank sentral harus segera memikirkan pemecahan masalahnya.

Istilah ini, sebenarnya sering digunakan terutama di media-media yang membahas tentang ekonomi. Meskipun, memang tidak semua orang tertarik membaca atau melihat berita mengenai ekonomi.

Banyak yang beranggapan, kegiatan dan kejadian yang terjadi di berita ekonomi tidak berdampak secara langsung ke mereka. Pada akhirnya, pengetahuan masyarakat tentang hal ini pun kurang. Padahal ini adalah pengetahuan umum yang harus diketahui masyarakat.

Seperti namanya, deflasi memiliki ikatan erat dengan inflasi. Bedanya, deflasi merupakan kebalikan dari inflasi. Hal yang menyamakan kedua kata ini hanya pada fenomena yang terjadi di dunia perekonomian sebuah negara.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah. Apa Hubungannya dengan Harga Barang di Pasar?

Apa Itu Deflasi?

Deflasi

Deflasi

Deflasi adalah suatu kejadian di mana harga barang yang ada di sebuah negara menjadi menurun. Penurunan harga barang tersebut, bisa terjadi secara periodik maupun secara langsung atau bersamaan. 

Jika disimak sekilas, mungkin hal ini akan membuat girang para ibu rumah tangga. Mereka bisa langsung melakukan kegiatan belanja bulanan secara besar-besaran. Biasanya, masyarakat akan langsung menyetok barang-barang yang mereka butuhkan.

Dalam saat yang bersamaan, deflasi yang terjadi di sebuah negara akan lebih berdampak ke pemilik usaha. Hal ini akan berdampak ke semua pemilik usaha, baik yang menyediakan barang maupun jasa.

Perusahaan terus-menerus dirugikan dengan aktivitas jual beli tersebut. Alhasil, para pengusaha harus menyiasatinya dengan cara melakukan pengurangan biaya produksi.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) ke karyawannya menjadi opsi paling masuk akal. Sebab, banyak dari pemilik usaha yang tidak mau mengurangi biaya produksinya di sektor lain seperti menggunakan bahan baku yang lebih murah. Hal ini akan berisiko membuat selera konsumen pun berubah. 

Memengaruhi Para Investor

Aktivitas jual beli yang lesu, membuat banyak investor yang memutuskan untuk menarik modalnya. Sebab, mereka takut ikut merugi jika tidak menarik sahamnya. 

Biasanya, para investor memilih untuk menunggu deflasi reda. Baru melakukan aktivitas jual beli saham lagi.

Berkurangnya peminat saham akan sebuah perusahaan, membuat harga saham tersebut turun. Jika ini dibiarkan terus-menerus, bisa saja kegiatan bisnis yang terjadi di sebuah negara berhenti begitu saja.

Perlu ditekankan sekali lagi bahwa deflasi adalah kejadian di mana harga barang dan jasa di sebuah negara turun secara drastis yang dipicu oleh berbagai hal. Berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan terjadinya deflasi.

Baca Juga: Mengenal Bank Indonesia: Sejarah Berdiri, Tugas, dan Tujuannya

Penyebab Deflasi

  1. Meledaknya Jumlah Hasil Produksi yang Sama dari Beberapa Perusahaan

    Persaingan oleh beberapa pemilik usaha merupakan hal yang wajar. Beberapa hal dilakukan oleh perusahaan yang memiliki bidang bisnis yang sama. Misalnya para pemilik usaha yang bergerak di bidang kecantikan.

    Beberapa perusahaan kecantikan berpikir, mereka akan mendatangkan salah satu produk pelembab wajah dari Korea. Dengan harapan, akan ada banyak konsumen yang membeli produknya. Apalagi di tengah banyaknya gadis yang gemar menonton drama korea.

    Namun, pada saat yang bersamaan, pesaing mereka juga memiliki pikiran yang sama. Pemilik usaha pun akan terus berlomba untuk memenangkan hati konsumennya. Dengan cara memotong proses produksi sehingga produk yang mereka jual pun dihargai lebih murah. Sayangnya, hal tersebut juga dilakukan oleh perusahaan lain.

    Mereka berlomba-lomba untuk mengurangi biaya produksi. Salah satunya dengan pengurangan karyawan. Namun, setelah dikurangi pun permintaan tidak kunjung melonjak. Hal ini, biasanya terjadi karena pemilik usaha gagal memperhitungkan permintaan konsumen kedepannya. Serta, bagaimana pesaingnya akan bereaksi akan meningkatnya permintaan konsumen yang temporer tersebut. 

    Akhirnya, mereka pun memiliki persediaan produk yang lebih besar dibandingkan dengan permintaan konsumen. Perusahaan pun akan semakin merugi, karena harus menjual produk tersebut dengan harga sangat murah.

  2. Menurunnya Permintaan Produksi Sebuah Produk

    Banyaknya jumlah produk di pasaran, membuat pemilik usaha mengurangi produksi akan sebuah produk. Hal ini tentu saja akan memengaruhi sebuah perkonomian negara. 

    Sebuah perusahaan pasti membutuhkan perusahaan atau pengusaha lainnya untuk memenuhi kegiatan produksinya. Misalnya pemilik usaha kopi, akan bergantung ke supplier susu untuk menjual produk kopi susu. Begitu juga perusahaan-perusahaan lainnya di luar sana. 

    Pemberhentian kegiatan produksi, pun akhirnya berdampak juga ke supplier penyedia bahan baku dari produk tersebut. Berhentinya produksi kopi susu pada sebuah usaha kopi, juga akan memengaruhi supplier susu.

    Ini terjadi, karena kejadian yang sudah dijelaskan sebelumnya. Perusahaan salah memperkirakan keinginan konsumen yang melonjak secara temporer. Akhirnya, mereka berhenti melakukan produksi karena persediaan produknya masih banyak.

    Perusahaan pun lebih berkonsentrasi untuk menjual sisa hasil produksinya sebelumnya ketimbang mereka harus memproduksi produk baru lagi.

    Hal tersebut juga akan menyebabkan terjadinya deflasi dan pada akhirnya banyak usaha yang memutuskan untuk gulung tikar. Hal ini bisa saja terjadi, jika sebuah perusahaan sudah terlalu banyak menjual produknya dengan murah dan tidak mendapat untung.

  3. Semakin Menurunnya Jumlah Uang yang Ada di Pasaran

    Mungkin banyak dari kalian yang tidak menyadari kejadian yang satu ini. Terutama yang tidak memahami aktivitas ekonomi. Padahal, banyak tidaknya uang yang dibelanjakan akan memengaruhi perekonomian sebuah negara pula.

    Kejadian ini, terjadi ketika banyak dari warga di sebuah negara mulai sadar untuk menabung dan mereka pun enggan untuk membelanjakan uangnya. Sehingga, tidak ada aktivitas jual beli yang dilakukan oleh sebuah negara.
    Sekalipun ada, jumlahnya tidak terlalu banyak. Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah uang yang beredar di pasaran lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah uang yang berada di bank milik nasabah.

    Bagi masyarakat, mungkin ini merupakan sebuah sinyal positif. Berarti banyak dari mereka yang tidak lagi konsumtif dan lebih memikirkan kehidupannya di masa mendatang. Sedangkan, di satu sisi hal ini juga berpengaruh ke negara.

    Menurunnya jumlah uang di pasaran menjadi penyebab terjadinya deflasi. Karena jika banyak orang yang lebih memilih menabung, maka banyak pemilik usaha yang tidak mendapatkan untung. 

    Alhasil pemilik usaha pun menurunkan harganya, untuk bersaing dengan kompetitornya. Walaupun hal tersebut ternyata juga tidak menolong pemasukannya. 

Hal yang Dilakukan Pemerintah dan Bank Sentral dalam Mengatasi Deflasi

Ketika deflasi sudah melanda, pemerintah dan bank sentral pun harus segera mengambil langkah. Mereka harus segera memperbaiki siklus perputaran uang yang ada di negaranya. Sebelum negara merugi semakin banyak.

Dua kebijakan yang menjadi upaya pemerintah dan bank sentral dalam menangani deflasi yakni:

Kebijakan Moneter

Kebijakan Non-Moneter

Kebijakan moneter adalah kegiatan di mana bank sentral meminta semua bank untuk mengurangi suku bunga bank.

Semakin kecil suku bunga yang diberikan oleh bank, semakin banyak pula nasabah yang memilih untuk menarik uangnya. Sebab, mereka berpikir menabung pun tidak akan memberikan mereka keuntungan yang signifikan. 

Hal ini akan mendorong masyarakat untuk menjajankan uangnya, ketimbang hanya membiarkannya di bank.

Kebijakan kedua, adalah kebijakan yang dianggap paling ampuh dalam menangani deflasi. Kebijakan tersebut, adalah kebijakan non-moneter. 

Dalam kebijakan ini, perlu kerjasama yang erat antara pemerintah dan bank sentral.

Beberapa hal yang biasa dilakukan adalah:

  • Mengurangi suku bunga pinjaman perusahaan. Sehingga, pemilik usaha bisa sedikit bernapas lega karena tidak terbebani pengeluaran yang terlalu banyak.
  • Mengurangi nilai pajak yang dikenakan. Dengan harapan, uang yang digunakan untuk membayar pajak itu bisa diputar lagi oleh perusahaan. Sehingga bisa menguatkan kegiatan jual beli yang ada.
  • Menaikkan nilai upah masyarakat. Hal ini membuat masyarakat akan semakin bersemangat untuk melakukan aktivitas jual beli.
  • Menetapkan Kebijakan Fiskal. Dalam kebijakan ini pemerintah akan bertindak secara penuh untuk mengelola perekonomian negara. Sehingga, perekonomian negara bisa kembali stabil.

Baca Juga: Mengenal Kebijakan Fiskal, Salah Satu Strategi Pemerintah Mengatasi Masalah Internal Negara