Penyebab, Gejala Infeksi Saluran Kemih, dan Cara Mengobatinya

Pernahkah Anda mendapatkan nasihat dari orang tua tentang “Kalau terasa mau kencing jangan ditahan-tahan”. Setidaknya sekali dalam seumur hidup, Anda pasti pernah mendapatkan nasihat yang satu ini. 

Mungkin, tidak hanya datang dari orang tua saja. Dari teman, rekan kerja, keluarga, atau sang tambatan hati. Siapa yang menyangka, dari hal sekecil ini bisa berpengaruh besar pada kehidupan seseorang di masa depan.

Baca Juga: Infeksi Mungkin Terlihat Sepele, Ini Fakta Penyakit Infeksi yang Harus Diketahui

Penyebab Infeksi Saluran Kemih

infeksi saluran kemih

Infeksi Saluran Kemih atau ISK

  1. Menahan Kencing

    Menahan kencing dalam jangka waktu yang panjang, merupakan salah satu penyebab infeksi saluran kemih. Urin yang ditahan, menyebabkan terjadinya penyumbatan. Hal ini, memicu terjadinya infeksi di saluran kemih.

    Infeksi tersebut terjadi karena penumpukan bakteri yang ada di saluran kemih, akibat menahan kencing. Kotoran yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh, justru menumpuk karena sering menahan kencing. Terlebih, jika kencing ditahan dalam waktu yang lama.

  2. Jarang Minum atau Kurang Mengonsumsi Air Putih

     Air putih berfungsi sebagai pembersih bakteri dan kotoran yang masuk ke tubuh. Termasuk diantaranya adalah saluran kemih. Minimnya asupan air putih ke dalam tubuh, membuat saluran kemih kering. Sehingga, Anda pun jadi jarang buang air kecil. 

    Hal tersebut membuat bakteri yang ada di saluran kemih pun menumpuk dan memicu infeksi.

  3. Menggunakan Kateter

    Beberapa penyebab yang sering terjadi pada pria adalah menggunakan kateter urine dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hal ini juga menimbun bakteri yang memicu terjadinya infeksi di saluran kemih.

  4. Bawaan dari Lahir

    Terlahir dengan kondisi fisik yang berbeda di bagian saluran kemih, juga menjadi salah satu penyebabnya. Ini merupakan penyebab yang tidak bisa dihindari. Karena terjadi secara alami sejak lahir.

  5. Dipicu Penyakit Lain

    Penyebab lainnya juga terjadi karena penyakit lain. Misalnya, penderita diabetes yang memiliki sistem imun rendah sehingga rentan terserang penyakit. Salah satunya, ISK.

    Penyakit lainnya yang memicu adalah, adanya batu ginjal dan pembesaran kelenjar prostat. Hal ini menjadi penyebab kantung kemih tidak bisa mengosongkan isinya dan terjadi penumpukan bakteri.

    Namun, tahukah Anda, jika ISK lebih banyak menyerang perempuan? Perempuan bisa saja menderita infeksi saluran kemih, selama lebih dari sekali dalam hidupnya. Ini Penjelasannya.

Baca Juga: Sayangi Ginjal Kamu dengan 7 Cara Mudah Ini

Secara Alami Perempuan Lebih Rentan Terkena Infeksi Saluran Kemih

Penyebabnya, karena perempuan memiliki ukuran uretra yang lebih pendek ketimbang pria. Sehingga bakteri pun lebih gampang berkumpul di saluran kemih dan menimbulkan infeksi. Ini merupakan kondisi alami yang dialami perempuan dan tidak bisa dihindari.

Oleh karena itu penyebab infeksi saluran kemih di perempuan cenderung lebih banyak dan beraneka ragam. Penyebab ISK lainnya yang rentan diderita perempuan adalah:

  • Menopause: Secara alami, ketika perempuan sedang mengalami menopause, kadar hormon estrogen mereka akan berkurang. Hal ini akan meningkatkan jumlah bakteri normal pada vagina.
  • Hamil: Perempuan juga bisa terkena infeksi saluran kemih, karena mereka sedang hamil lho. Ini biasanya terjadi di pertengahan trimester pertama kehamilan sampai awal trimester ketiga kehamilan. Di mana tubuh mereka sedang menyesuaikan perubahan yang ada. Penyebab infeksi saluran kemih pada ibu hamil, terjadi karena ada perubahan di kandung kemih. Sebab, posisi rahim yang dikandung berada tepat di atas saluran kemih. Oleh karena itu, saluran uretra ibu hamil pun menjadi semakin pendek. Semakin membesar kehamilan, dan semakin berat janinnya, akan terus menggeser kandung kemih ibu hamil tersebut. Tidak hanya itu, ISK pada ibu hamil juga terjadi karena kandungan hormon dan gula dalam urine. Hal ini bisa meningkatkan pertumbuhan bakteri secara alami. Di satu sisi, ini juga menurunkan ketahanan tubuh untuk menghalau bakteri untuk masuk.
  • Menggunakan Kondom: Penyebab infeksi saluran kemih lainnya pada perempuan, adalah penggunaan kondom ketika sedang berhubungan intim. Terutama, kondom yang mengandung spermisida. Memang repot jika kita hendak berhubungan seksual secara aman, malah terkena resiko lainnya. Namun, ini lah kenyataannya. Pelumas spermisida merupakan salah satu pelumas yang melapisi kondom. Fungsi pelumas ini, adalah untuk membunuh sel-sel sperma yang kemungkinan bocor atau masuk ke organ intim perempuan. Hal ini disertakan ke dalam kondom, untuk lebih mengurangi kemungkinan hamil seusai berhubungan intim. Di satu sisi, hal ini justru membahayakan perempuan. Karena akan memicu ISK, bahkan infeksi menular seksual pada pria dan perempuan.

Cara Mencegah dan Mengobati Infeksi Saluran Kemih

Menggunakan kondom tanpa pelumas spermisida

Selalu baca kantong kondom sebelum membeli. Jika memang ingin menggunakan pelumas, pakai lah pelumas yang berasal dari air. Sehingga mengurangi kemungkinan infeksi menular seksual dan saluran kemih pada perempuan.

Rajin membersihkan organ intim

Terlepas laki-laki maupun perempuan, harus rajin menjaga kebersihan organ intim. Sebab, kebersihan area intim tersebut menjadi kunci kesehatan saluran kemih.

Jangan lupa untuk mengenakan celana dalam yang longgar dan bersih. Hal ini penting dilakukan, karena celana dalam yang sempit dan kotor akan memicu penumpukan bakteri di uretra.

Hindari Sabun Pembersih Kewanitaan

Bagi para perempuan, hindari dan jangan pernah menggunakan pembersih organ intim yang menyebabkan iritasi. Sebaiknya, gunakan saja air mengalir yang bersih untuk membersihkan organ intim.

Banyak minum air putih 

Taatilah anjuran untuk meminum (setidaknya) 8 gelas air putih dalam sehari. Ini setara dengan sekitar 2 liter air putih.

Jika dirasa perlu, Anda boleh mengonsumsi lebih dari jumlah tersebut. Sebab, air putih berfungsi untuk membersihkan kotoran yang ada di seluruh organ tubuh. Termasuk saluran kemih.

Air putih akan membantu membersihkan bakteri-bakteri yang menumpuk di kandung kemih Anda. Terutama ketika hendak berhubungan intim. Pengonsumsian air putih bisa memicu kencing setelah berhubungan intim.

Hal ini sangat penting, karena mencegah masuknya bakteri-bakteri yang tidak diinginkan melalui uretra. Tidak hanya mencegah infeksi saluran kemih, hal ini juga mencegah terjadinya infeksi menular seksual.

Baca Juga: Kanker Serviks: Penyebab Kanker Serviks, Gejala Kanker Serviks, Ciri-Ciri, Pencegahan dan Pengobatan yang Perlu Diketahui

Obat Infeksi Saluran Kemih

Biasanya, infeksi saluran kemih akan sembuh dengan sendirinya jika masih tergolong ringan. Anda hanya perlu minum air putih dengan cukup yang akan otomatis membersihkan uretra dan saluran kemih dari bakteri.

Jika gejala terus berlanjut, seperti nyeri saat buang air kecil, frekuensi buang air meningkat namun intensitas urin yang dikeluarkan semakin sedikit, merasakan nyeri di bagian bawah atau pinggul (pada perempuan), hingga terdapat darah atau nanah di urin. Anda harus segera pergi ke dokter atau rumah sakit (RS) terdekat. 

Biasanya, Anda akan diberikan resep antibiotik untuk meredakan infeksi tersebut. Antibiotik sendiri merupakan obat yang selalu diresepkan oleh dokter untuk mengatasi infeksi.

Terutama jika infeksi disebabkan oleh bakteri. Antibiotik ini bekerja untuk membunuh bakteri-bakteri tersebut agar tidak berkembangbiak di tubuh.

Beberapa antibiotik yang menjadi obat infeksi saluran kemih adalah, nitrofurantoin, sulfamethoxazole, dan fosfomycin

Ada beberapa obat infeksi saluran kemih lain yang biasa diresepkan dokter. Obat tersebut adalah obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Obat ini diberikan untuk mengurangi peradangan, jika memang sudah dinyatakan serius. Obat ini dikonsumsi untuk menekan rasa sakit yang dirasakan oleh pasien.

Obat infeksi saluran kemih, merupakan obat yang tergolong sensitif. Oleh karenanya, Anda tidak akan menemukan obat-obatan ini dijual secara bebas. Jika tanpa resep dokter, Anda pun tidak akan bisa membelinya.

Sebab, pengonsumsian jenis dan antibiotik yang salah, akan memicu kekebalan penyakit. Oleh karena itu, biasanya dokter akan menyarankan Anda untuk menghabiskan obat yang diberikan.