Rasio Solvabilitas: Ini Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Sebesar dan sesukses apa pun bisnis yang dijalaninya, semua perusahaan tidak bisa terlepas dari yang namanya utang. Tidak hanya jangka pendek seperti pembayaran pada supplier, perusahaan juga umumnya memiliki tanggungan keuangan jangka panjang berupa dividen saham dan semacamnya. 

Jika sebuah perusahaan tidak mampu menangani seluruh beban utang tersebut, tentu hal ini bisa menjadi pertanda buruk terhadap kondisi keuangannya. Oleh karena itulah rasio solvabilitas sebuah perusahaan penting untuk dipahami.

Secara umum, yang dimaksud dengan rasio solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan atau bisnis dalam melunasi segala beban utang yang ditanggungnya. Jika perhitungan rasio ini dilakukan dengan tidak akurat, tingkatannya bisa menjadi tidak stabil serta mengancam reputasi sebuah perusahaan. Nah, agar lebih memahami tentang apa itu rasio solvabilitas, fungsi, jenis, dan cara menghitungnya, simak penjelasan berikut ini.

Baca juga: Rasio Profitabilitas: Ini Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Pengertian Rasio Solvabilitas

loader

Rasio Solvabilitas

Dalam aspek ekonomi, yang dimaksud dengan solvabilitas ialah metrik yang dipakai untuk menilai kapasitas sebuah perusahaan dalam melunasi utang. Informasi tersebut umumnya digunakan sebagai dasar pertimbangan dan penilaian para kreditur.

Pada solvabilitas, pihak stakeholder, khususnya kreditur, mampu menilai kemampuan perusahaan dalam menuntaskan kewajiban keuangannya. Hal ini berlaku pada tanggungan finansial jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan kata lain, maksud dari rasio solvabilitas adalah rasio pengukur terkait mampu atau tidaknya perusahaan dalam melunasi utangnya di masa mendatang.

Sementara itu, kamu juga bisa lebih memahami pengertian rasio solvabilitas menurut para ahli. Menurut Irham Fahmi, rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola utangnya untuk memperoleh keuntungan serta bisa melunasi kembali utangnya. Pengertian rasio solvabilitas menurut para ahli lainnya adalah dari Mamduh M. Hanafi & Abdul Halim, yaitu sebagai rasio pengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban dan likuiditas jangka panjang, serta memfokuskan pada segi kanan neraca.

Fungsi Rasio Solvabilitas

loader

Rasio Solvalbilitas

Setelah memahami apa itu rasio solvabilitas, kini saatnya untuk membahas tujuan dari perhitungan rasio tersebut. Berikut adalah tujuan perhitungan rasio solvabilitas.

  • Merangkum Kondisi Keuangan Perusahaan 

Penghitungan rasio solvabilitas adalah kegiatan yang amat krusial terhadap reputasi sebuah perusahaan atau bisnis di mata pihak kreditur. Kreditur yang dimaksud ini tidak hanya terbatas pada pihak pemberi utang atau pinjaman saja.

Melainkan, kreditur ini juga bisa mencakup badan atau lembaga peminjam dana, perusahaan asuransi atau anjak piutang, dan juga investor. Jika tingkat solvabilitas sebuah bisnis rendah, para kreditur tersebut akan merasa ragu untuk memberikan pinjaman modal. Bahkan, jika kondisinya terlampau buruk, tidak jarang bisnis atau perusahaan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar hitam atau blacklist.

  • Mengukur Kemampuan Bisnis dalam Melunasi Bunga

Dalam melakukan transaksi secara kredit, salah satu konsekuensi yang harus siap dihadapi adalah bunga. Konsekuensi tersebut berlaku tidak hanya pada pihak perusahaan atau bisnis yang terutang, tapi juga para krediturnya.

Di samping menilai kapasitas atau kemampuan perusahaan dalam membayar utang, fungsi rasio solvabilitas adalah sebagai alat yang ampuh memproyeksikan peluang perusahaan dalam melunasi bunga pinjaman sampai beberapa tahun ke depan. Jadi, jika terlihat perusahaan tak mampu mengatasi beban keuangan ini, pihak kreditur pun dapat menolak pengajuan kreditnya.

  • Memberi Informasi Seputar Kesehatan Neraca

Saat sebuah perusahaan memiliki neraca keuangan dengan kondisi yang sehat, serta memiliki aktiva dan modal yang seimbang, pihak kreditur bisa menganggapnya sebagai lampu hijau. Informasi mengenai kesehatan neraca tersebut salah satunya dapat diperoleh melalui perhitungan rasio solvabilitas.

  • Memperkirakan Total Pinjaman Ketika Jatuh Tempo Pelunasan

Tujuan yang terakhir dari penghitungan rasio solvabilitas adalah menunjukkan total dana yang mampu diperoleh kreditur melalui pembayaran kredit oleh pihak perusahaan. Perkiraan total pembayaran tersebut penting untuk diketahui kreditur saat pihak perusahaan menjanjikan pengembalian pinjaman beserta bunga, ataupun perkembangan dividen.

Beragam Jenis dari Rasio Solvabilitas

Jika sudah memahami tentang pengertian dan tujuan rasio solvabilitas, kamu juga perlu mengetahui apa saja jenisnya. Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis dari rasio solvabilitas.

  • Debt to Assets Ratio

Jenis yang pertama dari perhitungan solvabilitas ini bisa juga disingkat sebagai D/A ratio. Secara umum, rasio ini menghitung perbandingan antara total kewajiban yang belum dibayar dengan jumlah aset yang dimiliki perusahaan. Perhitungan aset tersebut mencakup aset tidak lancar, seperti bangunan dan mesin, serta aset lancar, seperti uang tunai, kas, dan tabungan non deposito.

  • Debt to Equity Ratio

Jenis rasio ini bisa juga disebut sebagai D/E ratio, yaitu perbandingan antara jumlah kewajiban atau tanggungan dengan jumlah modal operasional perusahaan atau ekuitas. Jika angka rasio utang perusahaan lebih tinggi ketimbang modal operasionalnya, hal tersebut bisa mengindikasikan solvabilitas perusahaan atau bisnis yang bersangkutan bermasalah.

  • Debt to Capital Ratio atau Leverage Ratio

Leverage ratio atau D/C ratio adalah jenis solvabilitas yang membandingkan jumlah utang dengan keseluruhan kekayaan perusahaan. Kekayaan perusahaan yang dimaksud meliputi yang telah diubah menjadi aset maupun valuasi saham.

Rumus Rasio Solvabilitas dan Contoh Menghitungnya

Setiap jenis rasio solvabilitas di atas tentu memiliki rumus dan cara perhitungan yang berbeda. Berikut adalah rumus rasio solvabilitas beserta contohnya.

  • Rasio Debt to Assets

Rumus dari rasio ini sebenarnya sederhana, yakni total utang atau debt dibagi dengan jumlah aset perusahaan atau assets. Jika nilai dari rasio D/A lebih tinggi dari 1.0, artinya solvabilitas perusahaan tengah bermasalah. 

Agar lebih mudah memahaminya, simak contoh berikut ini.

Sebuah perusahaan mempunyai total utang yang belum dibayar sejumlah 215 miliar dan memiliki aset sebesar 200 miliar. Berdasarkan informasi tersebut, maka perhitungan rasio D/A adalah sebagai berikut.

Utang : Aset = 215 miliar : 200 miliar = 1,075

Jadi, solvabilitas perusahaan tersebut adalah 1,075 yang berarti kemampuannya dalam membayar kewajiban utang tidak cukup besar dan berisiko bermasalah.

  • Rasio Debt to Equity

Rumus rasio D/E sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rasio D/A. Yang berbeda hanya pada akumulasi dari ekuitasnya saja. Idealnya, nilai rasio D/E yang optimal adalah 2.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mempunyai ekuitas 100 miliar dan jumlah aset sebesar 250 miliar. Artinya, sebanyak 150 miliar dari aset perusahaan tersebut merupakan utang. Sedangkan perusahaan ini memiliki kewajiban lain yang berjumlah 25 miliar.

Berdasarkan informasi tersebut, perhitungan rasio solvabilitas adalah sebagai berikut.

(Total Utang) / Ekuitas = (150 miliar + 25 miliar)/100 miliar

175 miliar/100 miliar = 1.75

Dengan rasio solvabilitas jenis D/E sebesar 1.75, artinya perusahaan tersebut mempunyai rasio jumlah utang dan ekuitas yang masih berada di bawah batas maksimalnya.

  • Rasio Debt to Capital 

Terakhir, untuk leverage ratio atau rasio D/C, rumus perhitungannya sedikit berbeda dibanding kedua jenis rasio sebelumnya. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan membagi jumlah utang dengan jumlah kekayaan perusahaan, baik yang berasal dari utang ataupun ekuitas. 

Sebenarnya, rasio ini tak memiliki batas maksimal. Namun, jika nilainya semakin rendah, artinya nominalnya semakin bagus. Untuk lebih jelasnya, simak contoh perhitungan rasio D/C berikut ini.

Sebuah perusahaan memiliki tanggungan utang sebesar 100 miliar dan total ekuitas 150 miliar. Berdasarkan informasi tersebut, perhitungan rasio D/C akan menjadi sebagai berikut.

Utang/(Utang + Ekuitas)

100 miliar/(100 miliar + 150 miliar)

100 miliar/250 miliar = 0,4.

Berdasarkan perhitungan tersebut, diketahui jika rasio utang perusahaan adalah 40% dari jumlah kapitalisasinya. Dalam kata lain, perusahaan tersebut masih dalam kategori sehat dalam segi solvabilitasnya.  

Perbedaan Solvabilitas, Viabilitas, dan Likuiditas

loader

Rasio Solvabilitas

Meski sudah memahami pengertian solvabilitas, sebagian dari kamu mungkin masih bingung membedakannya dengan likuiditas atau viabilitas. Secara umum, yang dimaksud dengan rasio solvabilitas adalah rasio atau perbandingan antara jumlah utang dengan jumlah aktiva yang dimiliki sebuah perusahaan. Sementara itu, likuiditas adalah perbandingan antara jumlah aset lancar atau kas perusahaan dibanding dengan aset tidak lancarnya. 

Viabilitas adalah perbandingan atau rasio antara likuiditas dan solvabilitas. Sebuah perusahaan dianggap sehat jika tingkat likuiditasnya minimal sepadan atau setara dengan solvabilitas. Jika tingkat solvabilitas lebih besar ketimbang likuiditas, artinya kondisi finansial perusahaan sedang buruk dan perlu dilakukan restrukturisasi neraca dengan segara maupun melakukan strategi finansial lainnya. 

Baca juga: Rasio Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis, Hingga Rumus Perhitungannya

Perhatikan Rasio Solvabilitas Perusahaan agar Reputasi di Mata Investor Terjaga

Itulah penjelasan mengenai pengertian rasio solvabilitas, jenis, tujuan, rumus, dan contoh menghitungnya. Pemahaman tentang jenis rasio ini penting untuk dilakukan guna mengetahui kapasitas perusahaan dalam melunasi utang dan menjadi dasar penilaian kreditur. Karena itu, menjaga rasio solvabilitas ini penting untuk dilakukan agar reputasi perusahaan di mata investor tetap positif.