Reksadana Saham, Investasi Risiko Tinggi tapi Cuannya Paling Juara

Mau investasi yang memberi keuntungan besar, namun tidak punya waktu untuk mengawasinya? Jangan investasi saham, tetapi pilih reksadana saham. 

Ya, kalau investasi saham, Anda perlu mengamati pergerakan harga saham setiap hari. Bahkan setiap jam atau menit, karena terus berfluktuasi.

Namun jika memilih reksadana saham, dana yang Anda investasikan akan dikelola oleh manajer investasi (MI). Tidak perlu repot, percayakan saja pada ahlinya.

Reksadana saham adalah reksadana yang melakukan investasi minimal 80% dari Nilai Aktiva Bersih dalam bentuk efek bersifat ekuitas, dalam hal ini saham.

Bagi Anda yang ingin terjun investasi reksadana saham, ketahui beberapa hal ini:

Baca Juga: 5 Reksadana Paling Cuan di Awal Tahun 2021, Mau Beli yang Mana?

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

1. Risiko tinggi, keuntungan besar 

reksadana

Investasi reksadana saham sama seperti investasi saham. Dikenal sebagai investasi high risk, high return.

Manajer investasi memutar dana investasi Anda dengan cara melakukan kegiatan jual dan beli saham di saat yang tepat. Selisih kenaikan atau penurunan harga jual atau beli itulah yang akan menjadi keuntungan Anda.

Imbal hasil atau keuntungan reksadana saham bisa mencapai 15% atau 20% per tahun. Lebih tinggi dibanding jenis reksadana lain, seperti reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana pasar uang.

Tetapi tahu sendiri, harga saham fluktuasinya bisa gila-gilaan. Bikin jantung mau copot. Kalau lagi naik, sampai melambung tinggi. Atau turun, bisa sampai parah.

Maka dari itu, investasi reksadana saham sangat cocok untuk investor yang suka tantangan dan berani mengambil risiko dalam jangka panjang lebih dari 5 tahun.

2. Dapat dimulai dengan modal minim 

Investasi saham, Anda harus membeli saham dalam satuan lot. Satu lot sama dengan 100 lembar. Kalau harga saham perusahaan X Rp 2.000 per lembar, berarti modal yang harus dikeluarkan sebesar Rp 200 ribu.

Biar untung makin gede, gak mungkin dong cuma beli satu lot. Misalnya lima lot, berarti Rp 1 juta. Terus pastinya ngelirik saham lain, perusahaan C. Harga sahamnya Rp 500. Beli 20 lot, jadi modal lagi Rp 1 juta.

Kalau reksadana saham bisa dimulai dengan modal Rp 100 ribu. Reksadana online malah modalnya receh, mulai dari Rp 10 ribu. Sangat terjangkau, apalagi buat Anda yang gajinya pas-pasan, tetapi mau investasi demi masa depan.

3. Diawasi OJK, tidak dijamin LPS atau pemerintah 

reksadana

Pengelolaan semua jenis reksadana, termasuk reksadana saham diawasi dan diatur OJK. Jadi kalau nasabah dirugikan oleh perusahaan sekuritas ataupun manajer investasi, bisa lapor ke OJK.

Namun dana investasi pada produk reksadana, termasuk reksadana saham tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) karena bukan produk perbankan. Pun dengan pemerintah.

Baca Juga: Reksadana Pendapatan Tetap: Pengertian, Cara Hitung Untung, dan Produk yang Paling Cuan

4. Mudah dicairkan 

Reksadana umumnya adalah jenis investasi yang mudah dicairkan atau dijual kembali, termasuk reksadana saham. Berbeda dengan investasi saham.

Kalaupun saham Anda jual, belum tentu ada yang minat membelinya karena banyak faktor, seperti kinerja saham buruk, laporan keuangan jelek, prospek kurang menjanjikan, dan alasan lainnya. 

5. Butuh kemampuan mengelola risiko 

Reksadana saham adalah instrumen investasi risiko tinggi. Keuntungan dan kerugiannya gampang naik atau turun, tanpa diduga.

Anda harus memiliki strategi pengelolaan risiko yang tepat, manajemen keuangan yang baik, sehingga risiko dapat diminimalisir, bahkan dihindari dan memberi keuntungan besar.

Baca Juga: Panduan Lengkap Investasi Reksadana Bukalapak vs Tokopedia, Modal Receh Rp 10 Ribu

6. Butuh pemahaman cara menganalisa kinerjanya 

reksadana

Meskipun ada manajer investasi yang mengelola dana investasi, namun Anda harus memahami cara dalam menganalisa kinerja reksadana saham, baik dalam jangka pendek, menegah, maupun jangka panjang.

Dengan begitu, tidak mudah percaya dengan laporan kinerja reksadana saham yang dirilis di media massa. Menyuguhkan data tingkat imbal hasil yang tinggi, sehingga terkesan bagus dan menggiurkan calon investor.

Berpikir Investasi untuk Jangka Panjang

Investasi sebaiknya dilakukan dalam jangka panjang agar hasilnya maksimal. Contohnya lebih dari 10 tahun. Tinggalkan gaya berpikir mau untung cepat.

Semua butuh proses, begitupun investasi. Dengan kesabaran Anda dalam berinvestasi, mampu menghadapi dan mengelola risikonya, maka akan membuat keuntungan semakin berlipat.

Konsisten dan disiplin menyisihkan uang untuk investasi. Minimal 20% dari gaji atau penghasilan per bulan. Tujuannya agar masa depan keuangan Anda cerah dan terjamin.

Baca Juga: 6 Manajer Investasi Reksadana Terbaik Beserta Produknya