Yield, Definisi dan Jenis-Jenisnya

Salah satu keburukan seorang investor pemula adalah keengganan dalam mempelajari perbendaharaan kata yang ada di dunia saham. 

Sulit, kata-katanya tidak familiar, dan malas belajar. Mungkin beberapa alasan ini lah, yang menjadi alasan kenapa para investor enggan mempelajari perbendaharaan kata yang ada di dunia saham.

Padahal, suka tidak suka, seorang investor harus benar-benar belajar tentang berbagai macam istilah yang digunakan di dunia saham. Jika tidak, mereka akan terus tertinggal dan saham yang dimiliki tidak akan mendatangkan keuntungan secara signifikan.

Jika perlu, bayar tutor untuk memberikan pelajaran mendasar tentang kosakata yang sering digunakan. Hal ini, dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan atas saham yang telah dibeli.

Salah satu kata yang sering digunakan dalam dunia saham adalah yield. Menurut kamus Bahasa Inggris, yield adalah menghasilkan. Nah, apa yang dimaksud dengan menghasilkan, bagaimana dan kata-kata ini dipakai? Berikut penjelasan selengkapnya.

Baca Juga: Trik Berinvestasi Saham dengan Modal Minim

Yield adalah...

yield

Yield

Pada dasarnya, yield adalah keuntungan. Istilah ini, digunakan oleh para investor atau penjual saham untuk ‘menjajakan’ sahamnya. Jika banyak investor yang menyebutkan bahwa saham tersebut memiliki ‘yield besar’, artinya saham tersebut ‘keuntungannya besar’.

Artian secara lebih dalamnya lagi adalah sebuah imbalan dari aktivitas investasi yang akan atau sedang dilakukan. Dalam investasi, imbalan tersebut biasanya berasal dari tingkatan bunga di pasar selama investasi berlangsung.

Singkatnya, yield adalah sebuah pengukur dua poin penting yang terjadi selama investasi berlangsung yakni keuntungan atau profitabilitas dan viabilitas. Para investor yang paham, biasanya akan memantau yield di setiap saham mereka.

Yield sendiri memiliki periode tertentu untuk bertambah stabil atau justru berkurang. Biasanya, periode ini sama dengan satu periode akuntansi atau setahun sekali. Akan ada fluktuasi yield di setiap saham, tergantung pasar.

Salah-salah, bukan untung yang didapat, investor malah bisa rugi karena menjual investasi di harga yield yang rendah. 

Yield biasanya bergantung pada semua metode trading. Baik itu trading yang aktif maupun pasif. 

Selain itu, yield juga digunakan sebagai pengambil keputusan. Ketika rendah, investor harus memutar otak untuk mengembalikan nilainya di pasar.

Berbagai Jenis Yield Berdasarkan Investasinya

Investor juga harus mengetahui, bahwa yield sendiri terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:

  1. Yield Saham dan Obligasi 

    Seperti namanya sendiri, ini adalah jenis yield yang berkaitan dengan saham dan obligasi. Memahami yield kedua barang investasi tersebut merupakan alasan terpenting bagi Anda dalam memutuskan investasi apa yang hendak dilakukan


    Baca Juga: Cara Mudah untuk Mendapatkan Saham Terbaik

    Saham

    Obligasi

    Yield Deviden (Saham)


    Seperti namanya, penghitungan yield ini dilakukan dengan membagi deviden yang dibayarkan investor dengan harga saham.

    Banyak yang menyebutkan, bahwa yield deviden ini lebih sempurna. Jika dibandingkan dengan yang lainnya. Sebab, baru diketahui jika sudah melihat hasil pembagian yang sudah dijelaskan tadi.

    Ambil saja contohnya, sebuah perusahaan memiliki saham seharga Rp2 ribu. Deviden yang dimiliki seorang investor berjumlah Rp50 per-lembar. Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:


    Rp50 : Rp2 ribu x 100% = 2,5%


    Semakin tinggi deviden yang dimiliki oleh sebuah saham, maka akan besar kemungkinan pula saham tersebut akan memberikan pemasukan pasif. Oleh karena itu, mengetahui deviden perusahaan yang diinvestasikan sangat penting bagi orang-orang yang bermain saham.

    Current Yield (Saat Ini)

    Secara sederhana, Current Yield merupakan sebuah rasio antara harga obligasi yang dibeli di pasaran dengan kupon bunga yang dimiliki atas obligasi tersebut. 

    Rumus:

    bunga tahunan : harga obligasi

     

    Yield Maturity (Saat Jatuh Tempo)


    Yield Maturity adalah sebuah hasil yang diterima ketika masa tenor sebuah obligasi berakhir. Tepatnya, ketika uang hasil obligasi telah dikembalikan oleh perusahaan 100%.

    Yield Maturity tidak berpaku pada harga obligasi, dalam suatu masa saja. Tetapi akan beradaptasi dengan fluktuasi harga obligasi selama tenor masih berjalan. Ketika obligasi turun, yield maturity akan turun, begitu juga sebaliknya.

  2. Yield Management

    Ini merupakan jenis lainnya yang tidak terikat kepada saham dan obligasi. Bedanya, Yield Management bisa diterapkan ke investasi lainnya yang tidak berkorelasi dengan saham dan obligasi.

    Yield yang satu ini memiliki kesamaan erat dengan yang namanya revenue management. Nah, sebagai investor, Anda juga harus jeli dalam membedakan kedua istilah tersebut. Karena kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki arti yang berbeda meskipun serupa.

    Revenue Management adalah manajemen hasil dalam skala makro, alias besar. Karenanya, revenue management hampir mencakup keseluruhan penghasilan dari perusahaan. Perbedaannya, hanya di skalanya saja.
    Sedangkan, yield management adalah manajemen hasil perusahaan secara mikro dan bisa diartikan sebagai sebuah strategi pembuatan harga. Hal ini disesuaikan dengan pasar, produk, dan target konsumennya.

    Yield management ini, selalu dikorelasikan dengan informasi dan harga produk. Perusahaan bisa memaksimalkan penjualan sebuah produk milik mereka dengan memerhatikan target pembeli yang pas dan waktu penjualan paling bagus.

    Berbeda dengan revenue management, yield management hanya berfokus kepada satu hasil saja. Contohnya, yield management sebuah maskapai penerbangan yang hanya berkonsentrasi untuk mengisi penuh kursi setiap penerbangan yang dilakukan.

    Tingginya sebuah yield management tergantung dengan permintaan yang ada. Semakin tinggi permintaan pelanggan akan produk tersebut, akan semakin tinggi pula harganya. Sebaliknya, semakin rendah permintaan konsumen akan produk tersebut, maka harganya akan menurun pula.

    Yield management cocok diterapkan untuk Anda yang berinvestasi melalui sebuah bisnis. Namun, yield management juga memiliki kekurangan yakni sifatnya yang hanya sementara dan tidak baku.

    Hal ini, terjadi karena yield management ditentukan oleh lima poin penting di dalamnya yang juga bersifat sementara. Lima poin itu adalah:

    • Cost: Harga yang ditentukan kepada konsumen dalam suatu waktu.
    • Calendar: Waktu atau durasi bagi pelanggan untuk mendapatkan layanan.
    • Clock: Juga terkait waktu, yang melimitasi penawaran yang diberikan ke konsumen
    • Capacity: Kapasitas layanan yang bisa diberikan kepada pelanggan dalam sekali penawaran.
    • Consumer Demand: Permintaan konsumen di setiap produk.

Tidak Hanya Butuh Teori

Itu semua adalah pengertian dan jenis-jenis yield yang perlu diketahui. Tidak hanya perbendaharaan kata yang perlu diketahui dan dipahami, tapi untuk menjadi investor juga dibutuhkan nyali.

Tanpa adanya keberanian, tidak akan ada investor yang sukses. Karena semua investasi sukses tidak dimulai dari kekayaan dan banyak asetnya, tapi dimulai dari sekarang.

Baca Juga: Mau Berinvestasi Obligasi? Ketahui Ini Terlebih Dahulu