3 Tahap Merancang Investasi Keluarga demi Hidup Sejahtera

Keuangan saat Anda lajang dan sudah berkeluarga pasti akan berbeda. Dari segi pemenuhannya, yang sebelumnya sendiri, kini harus terbagi untuk pasangan dan anak.

Meski setelah berkeluarga, kebutuhan sehari-hari Anda semakin banyak, tetapi investasi tetap wajib dilakukan. Tentunya dari uang bulanan.

Tujuan investasi pun mulai berbeda. Saat single, tujuan investasi untuk jalan-jalan, menikah, naik haji. Jika sudah keluarga, tujuan investasi buat beli rumah, dana pendidikan anak, pensiun, dan lainnya.

Kalau Anda yang sudah menikah ingin investasi, berikut tahapan dalam merencanakan investasi keluarga.

Baca Juga: Ikuti 7 Cara Mengatur Keuangan ala Raditya Dika Biar Kamu Gak Miskin Pas Tua

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Tahapan Pertama 

Keluarga Memprioritaskan untuk kebutuhan pokok dan rutin

Pada tahap pertama, Anda perlu memilah uang berdasarkan kebutuhan keluarga dalam sebulan. Ada beberapa jenis kebutuhan yang wajib dialokasikan pada tahap ini, di antaranya:

1. Biaya kebutuhan sehari-hari

Mulai dari anggaran untuk belanja bahan pangan pokok, bayar tagihan air, listrik, telepon, dan internet. Membayar cicilan utang sampai biaya SPP anak

Prioritaskan uang untuk kebutuhan rutin tersebut. Jangan sampai ada yang terlupa, agar biaya rutin ini terpenuhi. Idealnya 30-40% dari gaji atau penghasilan.

2. Tabungan dana darurat

Ini penting, menyisihkan uang untuk dana darurat. Jadi kalau tiba-tiba butuh uang tunai, dalam kondisi mendesak, belum gajian, dana darurat bisa menjadi penyelamat.

Sisihkan minimal 10% dari gaji Anda untuk tabungan dana darurat. Simpan dana darurat di rekening tabungan terpisah. Biar tidak diganggu gugat atau diutak-atik.

Porsi dana darurat yang ideal bagi yang sudah berkeluarga, memiliki lebih dari 2 anak sekitar 6-12 bulan pengeluaran.

3. Tabungan atau asuransi pendidikan anak

Jika sudah menikah, Anda harus mulai berpikir tentang anak, terutama masa depannya. Walaupun belum dikaruniai anak, tak ada salahnya mempersiapkan biaya pendidikan anak sedari dini.

Sisihkan sekitar 20% dari gaji untuk tabungan pendidikan anak ataupun asuransi pendidikan. Pilih sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial Anda.

4. Simpanan pensiun

Ini yang sering diabaikan, mempersiapkan dana pensiun. Anda dan pasangan juga harus memikirkan masa tua.

Pastinya Anda tidak ingin bergantung pada anak setelah dewasa nanti. Oleh sebab itu, perlu menyisihkan uang sebagai simpanan pensiun. Simpanan pensiun ini dapat Anda tempatkan di DPLK maupun tabungan pensiun.

5. Membayar premi asuransi

Namanya sudah berkeluarga, bukan hanya diri Anda yang harus dikover asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa. Pasangan dan anak-anak pun demikian.

Bila sudah punya BPJS Kesehatan dari kantor, Anda bisa melengkapinya dengan asuransi kesehatan swasta. Yang akan menjamin biaya perawatan dan pengobatan penyakit yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. 

Baca Juga: Survei: 64% Masyarakat Ingin Beli Mobil Mulai April 2021

Tahap Kedua

Investasi
Investasikan ke instrumen yang sesuai kebutuhan Anda

Setelah kebutuhan utama dianggarkan, rencana keuangan selanjutnya adalah berinvestasi. Investasi di sini tergantung tujuan Anda.

Sisihkan sekitar 20% dari gaji untuk investasi. Bisa ditempatkan pada surat utang atau obligasi, investasi saham, reksadana, peer to peer lending, deposito, emas, maupun investasi properti, seperti tanah, rumah, dan lainnya.

Selain mempertimbangkan tujuan investasi, Anda juga harus mengenali karakteristik Anda. Apakah Anda tipe orang yang takut atau cari aman, ataupun berani mengambil risiko.

Yang harus Anda ingat, imbal hasil investasi berbanding lurus dengan risikonya. Jika instrumen investasi punya risiko tinggi, pasti imbal hasilnya atau keuntungannya besar, seperti saham. Dan sebaliknya.

Baca Juga: Hindari 7 Pola Pikir Ini agar Keuangan Makmur

Tahap Ketiga 

Keluarga Menggunakan hasil investasi untuk hal produktif

Tahap ketiga adalah bagaimana Anda menggunakan hasil dari investasi. Keuntungan yang Anda dapatkan dari kegiatan investasi, harus diputar lagi untuk kegiatan produktif, seperti membuka usaha atau diversifikasi investasi ke produk lain.

Misalnya Anda cuan besar dari saham, hasilnya Anda gunakan lagi untuk membeli reksadana atau emas. Dengan demikian, Anda dapat meminimalisir kerugian bila suatu saat harga saham sedang anjlok.

Bisa juga hasil dari investasi untuk modal usaha, sehingga dapat memberi keuntungan lagi untuk mewujudkan tujuan investasi Anda.

Diskusikan Bersama Pasangan

Jika sudah berumahtangga dan ingin investasi, diskusikan bersama pasangan Anda. Sebab investasi membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak agar berjalan dengan lancar, termasuk dalam pengalokasian bujet untuk investasi. 

Bila salah satu pihak tidak setuju, maka tujuan investasi maupun keuangan Anda tidak akan pernah tercapai. Yang ada malah menimbulkan pertengkaran maupun masalah keuangan dalam rumahtangga dan berujung perceraian. Tidak mau kan seperti itu?

Baca Juga: Asuransi Pendidikan Terbaik untuk Anak