Deposito Syariah vs Konvensional, Manakah yang Menguntungkan?

Perkembangan layanan perbankan syariah di Indonesia terbilang cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari jumlah bank yang memiliki layanan bank syariah di luar layanan perbankan konvensional yang dijalankan selama ini.

Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi nasabah, terutama bagi yang memang menginginkan layanan perbankan yang menerapkan hukum syariah. Namun, seberapa besar sebenarnya minat masyarakat akan layanan perbankan syariah?

Jika ditilik dari jumlah penggunanya, jumlah nasabah perbankan syariah masih belum maksimal. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 2015, jumlah total nasabah bank syariah mencapai 15 juta. Masih kalah jauh dibandingkan nasabah bank konvensional yang mencapai 80 juta.

Pengetahuan yang kurang lengkap mengenai berbagai produk bank syariah merupakan salah satu alasan yang membuat minat masyarakat untuk menggunakan layanan yang satu ini terbilang masih rendah.

Baca Juga: Mengenal Istilah Bagi Hasil (Nisbah) Perbankan Syariah

Fitur Berbeda dalam Produk yang Sama

Pada umumnya, produk yang ditawarkan bank syariah sama atau sejenis dengan produk bank konvensional lainnya yang telah lebih dulu dikenal masyarakat. Penerapan akad syariah dalam perbankan syariah yang kemudian menjadi pembedanya.

Sebab jika dilihat lebih jauh, sudah jelas sistem yang akan dijalankan dengan menganut akad syariah akan jauh berbeda dengan sistem perbankan konvensional. Selain tabungan, deposito syariah adalah produk yang terbilang populer di dalam layanan bank syariah.

Mengingat ini adalah produk bank syariah, deposito syariah juga tentu akan memiliki sejumlah perbedaan dengan deposito konvensional. Hal inilah yang dapat menjadi nilai lebih sekaligus nilai jual produk yang satu ini.

Jika masyarakat jeli, mereka tentu bisa memahami bahwa deposito syariah juga memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki deposito konvensional. Deposito ini dijalankan layaknya deposito konvensional di mana dana yang ada di dalamnya hanya bisa ditarik ketika telah jatuh tempo. Dengan kata lain, tidak bisa ditarik setiap waktu sebagaimana dana tabungan.

Meskipun demikian, kedua produk deposito ini tetap memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Inilah yang perlu dijadikan pertimbangan bagi para calon nasabah yang sedang mencari layanan deposito.

Selain itu, beberapa perbandingan antara deposito syariah dan deposito konvensional berikut ini bisa dijadikan pertimbangan bagi Anda yang berminat dengan deposito syariah.

1. Sistem yang Digunakan

Sistem Perbankan Syariah

Antara Layanan Konvensional dan Syariah Dapat Dilihat dari Sistem via shutterstock.com

 

Sebagaimana namanya, deposito syariah sudah pasti dijalankan dengan menggunakan sistem syariah. Akad yang digunakan di dalamnya tentu saja disesuaikan dengan fatwa yang ditetapkan dewan syariah. Hal ini menjadi nilai lebih tersendiri, terutama bagi mereka yang mengharapkan instrumen investasi yang sesuai dengan ketentuan syariah yang berlaku.

Lain halnya dengan deposito konvensional yang menerapkan sistem perbankan modern. Semua aturan dan ketentuan dalam deposito konvensional disusun sedemikian rupa oleh pihak bank dengan mengikuti aturan dan undang-undang yang berlaku.

Perbedaan pengelolaan ini jelas akan menimbulkan sejumlah perbedaan dari tata cara dan perhitungan yang berbeda antara deposito konvensional dan deposito syariah. Sebab keduanya memang dijalankan dengan aturan tersendiri.

2. Imbal Hasil dan Risiko

Deposito Syariah

Sistem Bagi Hasil Jadi Ciri Khas Perbankan Syariah via shutterstock.com

 

Di dalam deposito syariah, nasabah akan mendapatkan sejumlah keuntungan atas investasi yang dilakukannya dalam bentuk sistem bagi hasil. Hal inilah yang patut dipahami dengan baik sejak awal, mengingat pendapatan ini akan selalu disesuaikan dengan kinerja investasi di pasar, yang tentunya akan dibarengi dengan sejumlah risiko di dalamnya.

Jika investasi bekerja dengan baik, imbal hasil yang didapatkan juga akan lebih maksimal. Namun, kalau kinerja investasi sedang memburuk, imbal hasil atas deposito syariah juga akan berkurang (kecil). Dari satu sisi, hal ini bisa saja menguntungkan nasabah. Di sisi lain, nasabah juga memiliki sejumlah risiko atas fluktuasi yang terjadi.

Hal seperti ini justru tidak berlaku di dalam deposito konvensional. Sebab imbal hasil yang akan didapatkan nasabah telah ditetapkan sebelumnya dan itu bersifat tetap. Pada dasarnya, deposito konvensional telah menetapkan imbal hasil (bunga) deposito sejak awal. Hal ini biasanya ditetapkan dalam bentuk persentase.

Jadi, apa pun investasi yang dilakukan pihak bank atas sejumlah dana deposito nasabah, hal tersebut tidak akan memengaruhi jumlah pendapatan yang akan diperoleh nasabah atas investasi yang dilakukan di dalam deposito konvensional.

3. Sistem Pengelolaan Dana

Pengelolaan Dana Perbankan Syariah

Perbankan Syariah Pantang Menginvestasikan Dana Nasabah ke Instrumen Tertentu via shutterstock.com

 

Kedua deposito ini, baik deposito konvensional maupun deposito syariah, akan sama-sama dikelola dalam bentuk investasi oleh pihak bank selaku pengelola dana. Ada hal-hal yang membedakannya, yakni pemilihan instrumen dan jenis investasi yang akan dilakukan. Sebab deposito syariah haruslah diinvestasikan pada berbagai perusahaan/instrumen investasi yang memenuhi hukum syariah.

Hal ini telah diatur dengan jelas pada ketentuan yang berlaku yang melarang adanya pembiayaan terhadap perusahaan yang tidak mengikuti ketentuan syariah yang terkait dengan beberapa kegiatan, seperti gharar, maisir, dan riba. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa deposito syariah memberikan jaminan halal atas berbagai kegiatan investasi yang dilakukan dengan menggunakan sejumlah dana nasabah.

Sementara di dalam deposito konvensional, hal seperti ini tidak berlaku. Pihak bank memiliki kebebasan untuk memilih jenis investasi apa pun yang sesuai dengan peraturan Pemerintah dan dianggap dapat memberikan keuntungan atas kegiatan tersebut.

4. Biaya Penalti

Biaya Penalti

Tidak Ada Ketentuan Biaya Penalti dalam Deposito Syariah via shutterstock.com

 

Biaya penalti merupakan sejumlah biaya yang dikenakan pihak bank kepada nasabahnya apabila sewaktu-waktu nasabah tersebut melakukan pencairan depositonya sebelum masa jatuh temponya tiba. Sejumlah biaya ini tidak dikenal di dalam deposito syariah. Sebab bank syariah tidak menerapkannya kepada nasabahnya.

Dalam deposito syariah, nasabah yang melakukan penarikan dana lebih awal (sebelum jatuh tempo) hanya akan dikenakan sejumlah biaya administrasi (nilainya telah disepakati sejak awal).

Hal berbeda justru terdapat dalam deposito konvensional. Sebab hampir semua bank menerapkan sejumlah persentase biaya penalti kepada nasabahnya. Jumlahnya beragam. Mulai dari 0,5% hingga 2%.

Bukan hanya itu, penarikan lebih awal ini juga bisa dibarengi dengan pengurangan jumlah bunga (hasil investasi) atau bahkan penghapusan bunga sekaligus (tergantung kebijakan bank). Jika melihat kenyataan ini, jelas sekali deposito konvensional akan lebih berpotensi menimbulkan kerugian atas hal tersebut.

5. Perhitungan Bunga

Bunga Deposito

Karena Sistem Bagi Hasil, Tidak Ada Bunga dalam Deposito Syariah via shutterstock.com

 

Ketika membicarakan investasi, kurang lengkap rasanya bila tidak membicarakan besaran hasil (bunga) yang akan didapatkan nasabah. Deposito syariah tidak mengenal sistem bunga (riba). Deposito syariah menerapkan sistem bagi hasil.

Jumlah pendapatan ini dihitung berdasarkan persentase yang telah disepakati sejak awal. Misalnya, jika Anda mendapatkan 70% hasil investasi, pihak bank berhak atas 30%-nya. Sesuai dengan konsepnya, besaran pendapatan yang akan didapatkan nasabah atas deposito syariah tentu akan berubah-ubah, sesuai dengan hasil investasi yang dikelola pihak bank atas dana tersebut.

Pada investasi konvensional, besaran bunga ini telah ditetapkan sejak awal (pasti) dalam jumlah persentase tertentu. Kinerja pasar dan berbagai risiko yang akan dihadapi pihak bank (pengelola) tidak akan memengaruhi jumlah pendapatan bunga yang akan diperoleh nasabah pemilik deposito konvensional.

Baca Juga: 5 Perbedaan Bank Konvensional dan Syariah

Prinsip Berbeda, Risikonya Pun Juga Berbeda

Pada dasarnya, baik deposito konvensional maupun syariah, keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Kalau memilih di antara keduanya, calon nasabah tentu perlu mempertimbangkan dengan baik prinsip mana yang paling tepat untuknya. Bukan hanya itu saja, kedua produk ini juga memiliki risiko yang berbeda dan patut dicermati dengan baik sejak awal.

Baca Juga: Kelebihan Kartu Kredit Syariah dan Perhitungan Tagihannya