Harga Emas Lagi Mahal, Waktunya Jual atau Beli?

Harga emas sedang bersinar. Emak-emak yang punya emas perhiasan maupun batangan pasti semringah, langsung buru-buru mau jual. Mumpung harga lagi tinggi, bisa dapat untung besar.

Ambil contoh emas cetakan Antam. Per 21 Agustus 2019, emas Antam dibanderol Rp756.000 per gram. Harga tersebut naik Rp7.000 per gram dari sebelumnya Rp749.000 per gram.

Emas yang dikeluarkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini pernah mencapai rekor tertinggi sebesar Rp766.000 per gram pada 15 Agustus 2019.

Coba bandingkan dengan 3 bulan lalu, saat harga emas Antam sebesar Rp663.000. Itu berarti selisihnya sudah Rp93.000 per gram. Jika dihitung secara persentase, kenaikannya mencapai 14,03%.

Kenaikan harga emas ritel di dalam negeri tak terlepas dari pengaruh harga emas dunia yang ‘berotot.’ Harganya di pasar spot menyentuh USD1.500 per ounce.

Bukan kebetulan kalau harga emas global terus menanjak dalam beberapa waktu terakhir. Ada beberapa faktor yang mendorong harga emas kian berkilau.

Baca Juga: Jangan Ragu, Investasi Emas Masih Untung Saat Rupiah Buntung

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Faktor Pendorong Harga Emas Kian Silau

Emas
Faktor pendorong kilau harga emas

Penguatan tersebut ‘disulut’ beberapa sentimen dari eksternal atau luar negeri:

1. Isu resesi ekonomi

Amerika Serikat (AS) dikabarkan bakal dililit resesi ekonomi. Yakni, suatu kondisi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB). Bisa juga diartikan ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal atau lebih dalam 1 tahun.

Negeri Paman Sam diprediksi bakal ‘terserang’ resesi mulai tahun 2020. Tapi ada juga yang menerawang akan terjadi tahun ini atau tahun 2021. Tanda-tanda resesi ini nampak pada imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor pendek lebih tinggi dari kupon surat utang jangka panjang.

Kondisi imbal hasil tersebut sudah berangsur pulih, di mana yield surat utang tenor panjang lebih besar dari tenor pendek. Sentimen ini yang kemarin (20/8) mendorong penurunan harga emas, sementara bursa saham AS menghijau.

Tanda lainnya resesi AS, angka pengangguran merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Juga kemerosotan indeks manufaktur (ISM Manufacturing Index).

2. Perang dagang sampai perang mata uang

Meski sedikit mereda, tensi perang dagang dan perang mata uang antara AS dan China belum sepenuhnya hilang. Tahu sendiri, Presiden AS, Donald Trump susah ditebak. Bisa berubah sewaktu-waktu. Jika kebijakan perdagangan AS merugikan China, pastinya Presiden Xi Jinping tidak akan tinggal diam.

Bisa jadi China mengambil langkah dengan sengaja mendevaluasi mata uang Yuan untuk melawan Trump. Dampaknya bukan cuma terjadi perang dagang, tapi juga perang mata uang.

Faktor-faktor di atas telah mendongkrak harga emas, hingga mencetak rekor. Pasalnya ketidakpastian kondisi ekonomi global, membuat emas sebagai safe heaven menjadi buruan para investor. Banyak orang borong emas, bahkan bank sentral dunia sekalipun.

Harga Emas Diprediksi Makin Mahal

Emas
Harga emas diprediksi makin mahal

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Dendi Ramdani memproyeksikan tren harga emas akan terus berjaya di tengah situasi ketidakpastian ekonomi dunia maupun kondisi geo-politik di beberapa negara.

“Prospek ekonomi dunia ke depan masih akan diliputi ketidakpastian karena trade war AS dengan China, perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, bahkan ada yang meramalkan resesi. Ketidakpastian Brexit, serta konflik AS dengan Iran, sehingga orang memerlukan safe heaven, yaitu emas,” kata Dendi dalam pesan singkat kepada Cermati.com, baru-baru ini.

Harga emas diperkirakannya, berpeluang naik terus ke depan. Ia mencontohkan, harga emas Antam yang diramal akan mencapai rekor baru lagi tembus Rp800.000 per gram.

“Ke depan, harga emas masih akan cenderung tinggi. Masih akan mungkin naik jika ketidakpastian prospek ekonomi meningkat. (Harga emas Antam) bisa ke Rp800.000-an,” Dendi menjelaskan.

Baca Juga: Investasi Emas di Tokopedia dan Bukalapak, Mana yang Lebih Murah?

Waktunya Beli atau Jual?

Emas
Harga emas lagi mahal, waktunya beli atau jual?

Harga emas naik, mungkin jadi kabar baik bagi investor atau pemegang komoditi tersebut. Baik dalam bentuk perhiasan maupun batangan atau logam mulia. Tapi jangan mentang-mentang harga emas sudah naik, sempat cetak rekor, keburu nafsu langsung menjual emas.

Biasanya nih emak-emak yang gak mau rugi. Padahal gak terlalu mendesak pula untuk menjualnya. Kecuali ada kebutuhan penting, misalnya untuk biaya anak sekolah.  

Kalau investor yang main investasi emas jangka panjang, pasti akan mempertimbangkan prospeknya ke depan. Saran Dendi, pemegang atau investor emas justru perlu mengambil langkah beli dan tahan. Inilah saatnya membeli emas, karena harga masih berpotensi besar meroket. Atau tahan dengan tidak menjual emas yang sudah dimiliki.

“(Lakukan aksi) beli dan tahan. Karena emas biasanya kalau naik atau turun pelan-pelan. Emas biasanya untuk investasi agak panjang, di atas 3 tahun,” pungkas Dendi.

Emas, Investasi yang Cocok untuk Pemula

Buat kamu pemula atau milenial yang baru ingin memulai investasi, emas jadi instrumen yang tepat. Sebab investasi emas punya kelebihan rendah risiko, nilai relatif stabil, return sekitar 10-12% per tahun (lebih tinggi dari deposito), mudah dijual lagi, dan paling penting tidak harus punya dana besar untuk investasi ini.

Tapi perlu diingat, keuntungan baru akan terasa maksimal jika investasi dalam jangka panjang 4-5 tahun. Selain itu, disarankan pilih investasi emas batangan atau logam mulia bersertifikat dibanding perhiasan. Yuk, mulai investasi demi masa depan finansial yang lebih baik.

Baca Juga: Hati-hati Penipuan Emas Bodong, Ikuti 5 Tips Aman Beli Emas Online