Ini Nih Biang Kerok Penyebab Fluktuasi Harga Saham

Mau untung besar? Jawabannya investasi saham. Jenis investasi yang kini digandrungi anak muda, termasuk milenial.

Punya uang Rp 100 ribu saja, kamu sudah bisa jadi investor saham. Tak heran bila saham sudah menjangkau mahasiswa.

Akan tetapi perlu diingat, saham termasuk investasi berisiko tinggi. Itu karena harga saham terlalu fluktuatif. Pergerakan naik turunnya sangat cepat.

Jika kurang pemahaman tentang investasi saham, jual beli saham, sampai tidak menguasai pengelolaan risikonya secara tepat, kamu bisa mengalami rugi besar.

Sebetulnya wajar sih fluktuasi harga saham. Faktor penyebab naik turunnya harga saham bisa karena internal dan eksternal atau dari dalam maupun dari luar perusahaan.

Berikut biang kerok fluktuasi harga saham:

Baca Juga: Strategi Jitu Sebelum Jual Beli Saham Bagi Investor Pemula

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Faktor Internal

Saham
Faktor internal menjadi penyebab harga saham naik turun

1. Aksi korporasi perusahaan

Yakni segala bentuk kebijakan yang ditetapkan manajemen perusahaan. Umumnya berupa, pelepasan saham atau divestasi, akuisisi, penggabungan atau merger, pembagian dividen, pemecahan saham atau stock split dan right issue.

Ketika emiten mengumumkan atau bahkan menerapkan aksi korporasi, pasti akan mempengaruhi harga sahamnya. Itulah mengapa investor harus sering mengecek keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bisa juga langsung mengunjungi laman resmi perusahaan tersebut agar kamu dapat segera mengambil tindakan selanjutnya, seperti jual, beli, atau hold saham.

2. Baik buruknya fundamental perusahaan

Faktor lain penyebab naik turunnya harga saham dilihat dari fundamental perusahaan, seperti laporan keuangan emiten, pangsa pasar, tren atau prospek bisnis, siklus bisnis, dan lainnya.

Emiten yang punya fundamental oke, meskipun terjadi guncangan dari luar, harga sahamnya akan bergerak stabil. Kalaupun turun tidak separah emiten dengan fundamental atau neraca keuangan buruk.

Oleh karena itu, pastikan kamu berinvestasi saham pada perusahaan yang memiliki fundamental baik.

3. Kinerja perusahaan di masa depan

Biasanya banyak analis atau pengamat memprediksi kinerja suatu emiten dalam beberapa tahun ke depan. Melihatnya dari sisi pembagian dividen, utang, modal, dan laba perusahaan dalam periode tertentu.

Prediksi tersebut dapat mempengaruhi harga saham perusahaan. Tapi yang jelas, perusahaan yang mempunyai prospek cerah dengan proyeksi kinerja bagus akan lebih disukai investor.

Faktor Eksternal

Saham
Harga saham naik turun juga disebabkan karena faktor eksternal

1. Ekonomi makro

Tingkat inflasi, deflasi, dan naik turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia merupakan faktor yang dapat menyeret harga saham naik atau turun. Contohnya, ketika inflasi terkerek naik, harga saham akan bergerak. Selanjutnya berpengaruh pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).  

Baca Juga: Harga Saham Anjlok? Investor Tak Perlu Panik, Ini 6 Tips Hadapi Saham Turun

2. Kurs rupiah terhadap dolar AS

Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS juga menjadi penyebab naik turunnya harga saham. Bila mata uang Garuda menguat, biasanya harga saham perusahaan eksportir ‘ijo royo-royo.’ Tapi sebaliknya, jika melemah, yang merah membara adalah harga saham perusahaan importir.

3. Panic Attack

Berita seputar politik dan ekonomi tertentu bisa membuat resah investor. Akhirnya investor ramai-ramai menjual sahamya. Dan berdampak pada harga saham ikut merosot. Investor tidak pikir panjang.

Dibenaknya hanya takut, cemas, khawatir, harga makin jatuh lebih parah, sehingga dengan emosi langsung menjualnya. Padahal bisa saja, saham emiten yang dilego punya fundamental yang bagus dan prospek cerah sehingga harga sahamnya kembali bangkit beberapa hari mendatang saat situasi stabil.

4. Kebijakan pemerintah

Kebijakan disahkannya UU Cipta Kerja contohnya, menjadi salah satu pendorong laju IHSG beberapa waktu lalu. Harga saham emiten di sektor perbankan dan konsumer tidak terpengaruh kebijakan tersebut. Termasuk demo anarkis yang terjadi.

Ya, apapun bentuk kebijakan yang masih menjadi wacana, segera direalisasikan, bahkan sudah berjalan, dapat berimbas ke harga saham emiten. Jadi kalau muncul suatu kebijakan pemerintah, jangan gegabah langsung menjual. Analisis dulu, baru eksekusi.

5. Kemunculan bandar saham

Bandar saham yang dimaksud di sini adalah investor pemilik modal besar untuk bermain saham. Mereka ini biasanya berasal dari kalangan korporat atau kaum borjuis yang sengaja memanfaatkan media untuk menguntungkan dirinya sendiri. 

Aksi bandar saham dalam memanipulasi pasar biasanya tidak bertahan lama. Namun, cukup membuat investor shocked hingga akhirnya menjual saham karena panik. Akibatnya, harga saham turun akibat tekanan jual.

Lakukan Diversifikasi Investasi

Diversifikasi dapat membantu melindungi keuanganmu, jika sewaktu-waktu salah satu produk investasi mengalami kerugian atau untung tidak maksimal. Pilih instrumen lain untuk melengkapi.

Contohnya kamu sudah investasi saham yang terkenal tinggi risiko, tapi return juga besar. Selanjutnya cari peluang investasi lain yang aman dan risikonya sangat rendah, yakni investasi emas.

Jadi, kalau kamu sedang rugi di investasi saham, masih ada emas yang memberi keuntungan. Begitupun sebaliknya.

Baca Juga: Imbas Corona di Pasar Saham, Cek Deretan Saham yang Potensi Cuan Terus