Investor Saham Layak Mendapat Dividend Yield yang Menggiurkan
Secara jangka panjang, IHSG sedang berada dalam tren turun (bearish) dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di Asia, bahkan dunia. Sejak awal tahun 2026, IHSG sudah turun lebih dari 29,11%. Angka tertingginya sempat mencapai 9.174,474, sementara level terendahnya berada di 5.966,86. Saat ini, level support terdekat yang belum tertutup ada di 5.395,7119. Kondisi IHSG juga terlihat oversold (jenuh jual), sehingga ada harapan akan terjadi rebound. Target kenaikan yang diharapkan adalah ke 6.348,247 (R1), lalu menuju 6.723 (R2), dengan dorongan utama dari sektor transportasi, infrastruktur, konsumsi non-primer, dan industri bahan baku.
Di sisi lain, sektor energi paling tertekan pada kuartal II ini. Hal tersebut dipicu oleh penyesuaian tarif royalti pertambangan mineral dan batu bara (minerba) yang berlaku mulai Juni 2026, serta penerapan sistem ekspor sumber daya alam satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang efektif berlaku pada Januari 2027.
Dari sisi makroekonomi, ada harapan rupiah bisa menguat. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026, diputuskan kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,25%, dan Lending Facility menjadi 6,00%.
Strategi Dividend Hunter Saat Pasar Bearish
Bagi investor di pasar modal Indonesia, pemulihan ekonomi pada tahun 2026 ini mungkin membutuhkan waktu lebih lama, apalagi untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain). Namun, para pemilik saham tetap memiliki kesempatan untuk menikmati dividen, yaitu bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Bahkan, jika saham baru dibeli tepat pada cum date, investor masih berhak atas dividen yang diumumkan. Cum date adalah tanggal terakhir di mana pemegang saham tercatat berhak menerima dividen.
Dalam kondisi pasar bearish seperti tahun ini, dividen yang dibagikan emiten bisa terlihat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena harga saham turun, sehingga dividend yield terlihat besar. Dividend yield adalah rasio keuangan yang menunjukkan besarnya keuntungan yang dibayarkan perusahaan kepada pemegang saham dibandingkan dengan harga sahamnya saat ini, lalu dikali 100%.
Dividend yield yang tinggi sangat menarik bagi para dividend hunter. Dividend hunter adalah orang-orang yang aktif berburu dividend yield tinggi. Mereka biasanya rajin memantau jadwal pembagian dividen dan kapan cum date berlangsung, lalu membeli saham suatu emiten yang memiliki dividend yield besar. Durasi kepemilikan saham mereka relatif sangat singkat, bahkan hanya beberapa hari, demi mengejar dividen tinggi atau memanfaatkan momentum pergerakan harga saham saat cum date.
Mengacu pada suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini, emiten dengan dividend yield yang relatif tinggi berdasarkan harga saham terkini (29 Mei 2026) adalah:
|
Corp. Action |
Code |
Cum Date |
Current Price |
Dividen |
Yield |
Payment Date |
Note |
|
Dividen |
INTP |
03-Jun-26 |
4990 |
468 |
9.38% |
19-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
MAHA |
04-Jun-26 |
148 |
12 |
8.11% |
24-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
NRCA |
04-Jun-26 |
500 |
40 |
8.00% |
23-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
STAA |
02-Jun-26 |
1010 |
75 |
7.43% |
11-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
PGAS |
04-Jun-26 |
1905 |
125.61 |
6.59% |
24-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
GJTL |
04-Jun-26 |
1220 |
80 |
6.56% |
18-Jun-26 |
FINAL |
|
Dividen |
MAIN |
05-Jun-26 |
825 |
52 |
6.30% |
29-Jun-26 |
FINAL |
Mau mulai investasi saham?
Bagaimana, tertarik menjadi dividend hunter? Hati-hati dengan risikonya, ya. Di saat pasar bearish, berburu dividen dengan yield tinggi relatif sangat berisiko. Terdapat risiko harga saham akan turun lebih dalam lagi setelah ex date, sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.