Kesalahan-Kesalahan Penggunaan Kartu Kredit yang Sebaiknya Dihindari

Kehadiran kartu kredit benar-benar dirasakan manfaatnya. Sebab memudahkan banyak orang dalam melakukan pembayaran. Apalagi sekarang ini, kebanyakan orang lebih menyukai melakukan transaksi tanpa uang tunai (cashless).

Dalam perkembangannya, fungsi kartu kredit kemudian bertambah menyesuaikan dengan kebutuhan.  Bahkan, lebih dari itu, kartu kredit dijadikan sebagian orang sebagai bagian dari gaya hidup.

Ironisnya, pemilik kartu kredit kadang-kadang seolah menutup mata bahwa seringnya melakukan transaksi dengan kartu kredit akan membebani keuangan mereka. Dari sinilah banyak kesalahan yang dilakukan dalam menggunakan kartu kredit. Yang ujung-ujungnya membawa pemegang kartu terperangkap dalam utang.

Berikut adalah kesalahan-kesalahan penggunaan kartu kredit yang sering dilakukan banyak pengguna kartu kredit.

Baca Juga: 10 Cara Benar Menggunakan Kartu Kredit

1. Kartu Kredit Itu Kartu Utang, Bukan Debit

Kartu Kredit Terbaik

Transaksi yang Dilakukan dengan Kartu Kredit Nanti Dibayar sebagai Tagihan via shutterstock.com

 

Kartu debit mensyaratkan Anda harus punya saldo baru bisa digunakan. Sementara kartu kredit tidak mensyaratkan demikian. Apapun kebutuhan/belanjaan Anda akan dibiayai kartu kredit. Seluruh biaya Anda yang ditanggung kartu kredit nantinya menjadi utang yang harus dibayar.

Menggunakan kartu kredit layaknya kartu debit seperti penarikan tunai di mesin ATM jelas merupakan kesalahan mendasar. Ingat, penarikan uang tunai dengan kartu kredit akan dikenakan biaya disertai bunga sebesar 4% atau minimal Rp50.000 setiap kali melakukan penarikan.

2. Kartu Kredit Bukan Gaji Tambahan

UMR 2017

Jangan Menganggap Kartu Kredit sebagai Gaji Tambahan via shutterstock.com

 

Jika Anda menganggap kartu kredit layaknya sebagai gaji tambahan, itu berarti ada yang salah dalam perencanaan keuangan Anda. Pemilik kartu pemula biasanya bergembira ketika permohonan kartu kredit disetujui dan segera menggunakannya untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Ingat, menjadikan kartu kredit seperti gaji tambahan akan menciptakan defisit dalam keuangan Anda. Atau dengan kata lain, pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Kembali ke konsep awal. Jadikan kartu kredit hanya sebagai sarana atau alat bantu pembayaran.

3. Tergoda Diskon dan Terjebak Berbelanja Barang-barang yang Tidak Perlu

Diskon Kartu Kredit

Jangan Kebablasan Memanfaatkan Diskon Kartu Kredit via shutterstock.com

 

Bank pada umumnya menjadikan transaksi kartu kredit sebagai sarana meraup keuntungan. Salah satu cara untuk mempertahankan market di segmen kartu kredit adalah gencar memberikan promo atau diskon jika transaksi menggunakan kartu kredit. Separuh dari pengguna kartu kredit yang memanfaatkan diskon ini adalah orang-orang yang sebenarnya tidak atau belum membutuhkan produk tersebut.

4. Memiliki Banyak Kartu Kredit

Kartu Kredit yang Banyak Dipakai

Memiliki Banyak Kartu Kredit Cenderung Bisa Lepas Kontrol via shutterstock.com

 

Biaya kartu kredit yang pasti dikeluarkan adalah biaya tahunan. Banyak orang tergoda memiliki kartu karena banyaknya fasilitas yang diberikan penerbit kartu. Yang biasanya terjadi makin banyak kartu kredit yang dimiliki, makin sulit pula untuk mengontrol pengeluaran. Idealnya, cukup satu atau dua kartu saja buat memudahkan transaksi Anda dengan tetap memperhatikan kontrol keuangan.

5. Kartu Kredit Dijadikan Alat Gali Lubang dan Tutup Lubang

Utang

Terperangkap Utang Adalah Hal yang Mengerikan via shutterstock.com

 

Banyak orang dalam kondisi darurat memanfaatkan kartu kredit untuk menutup utang. Misalnya, menggunakan kartu kredit untuk membayar angsuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Multiguna (KMG), ataupun Kredit Tanpa Agunan (KTA). Solusi praktis ini membawa dampak berat di kemudian hari bila sampai terjebak utang. Dengan menjalankan praktik tersebut, pengguna kartu kredit melakukan hal yang diistilahkan gali lubang tutup lubang.

6. Tergoda Hanya Membayar Cicilan Minimum (Minimum Payment)

Minimum Payment Kartu Kredit

Jangan Terus-Terusan Hanya Membayar Minimum Payment via shutterstock.com

 

Minimum payment adalah jebakan paling umum yang tidak disadari pengguna kartu kredit. Seolah ringan dalam membayar tagihan dan baru terasa cicilan membengkak di periode berikutnya membuat pengguna kartu terjebak dalam bunga berbunga yang makin menjerumuskannya ke dalam angsuran tak terbayar (bad debt).

Minimum payment pada praktiknya membolehkan pengguna kartu membayar jumlah cicilan minimumnya saja (sebesar 10% dari total tagihan). Jika ini dilakukan, sisa tagihan yang belum terbayar ditambah bunga akan menjadi utang yang cukup besar.

7. Suka Menunda Pembayaran sehingga Muncul Denda

Denda Kartu Kredit

Ilustrasi Denda Kartu Kredit via shutterstock.com

 

Menunda pembayaran bisa terjadi karena tidak peduli atau memang tidak mampu membayar sesuai tanggal jatuh tempo. Dampak bagi pengguna adalah munculnya denda yang membuat tagihan kartu kredit semakin membengkak dan berujung pada laporan kredit dengan kolektabilitas buruk yang merusak riwayat perbankan Anda. Dampak lanjutannya, hal ini menyulitkan untuk mendapatkan pinjaman atau berganti kartu kredit.

8. Mengabaikan Laporan Bulanan Kartu Kredit

Laporan Kartu Kredit

Hindari Mengabaikan Laporan Kartu Kredit via shutterstock.com

 

Secara periodik setiap bulan, penerbit kartu akan mengirimkan laporan penggunaan kartu kepada nasabahnya. Jika Anda rutin memeriksanya, hal ini akan membantu Anda dalam membayar tagihan tepat waktu dan mengontrol pengeluaran setiap bulannya.

Monitoring rutin juga bisa menjadi alat deteksi dini apabila jumlah tagihan kartu kredit tidak sesuai. Toleransi yang diberikan bank adalah 60 hari kalau ingin melakukan gugatan atas tagihan yang tidak sesuai.

9. Sering Melampaui Limit Sampai Meningkatkan Limit Kartu Kredit

Limit Kartu Kredit

Asal Bisa Mengontrol dengan Baik Tak Masalah Menaikkan Limit via shutterstock.com

 

Limit kartu kredit mengingatkan pengguna kartu untuk melakukan transaksi sesuai dengan batas kemampuan. Banyaknya godaan dari produk yang dijual sering membuat pemilik kartu terjebak over limit. Pada awalnya, sistem akan menolak pemakaian kartu yang melebihi limit. Sampai akhirnya mendapat penawaran kenaikan limit yang membuat Anda tertarik menggunakannya. Dan pemakaian kartu kredit makin tidak terkontrol.

10. Laporan Kartu Kredit Tidak Jadi Acuan dalam Rencana Keuangan

Laporan Kartu Kredit

Penting Menjadikan Laporan Kartu Kredit sebagai Acuan Membuat Rencana Keuangan via shutterstock.com

 

Sebenarnya, laporan pemakaian kartu kredit merupakan acuan yang membantu dalam membuat rencana keuangan bulanan. Semua transaksi tercatat dengan rapi dan bisa dijadikan alat monitoring dan kontrol keuangan. Tidak rutin melakukan monitor mengakibatkan rencana keuangan tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga membuat Anda semakin boros.

Baca Juga: Cara Memanjakan Diri dengan Kartu Kredit Pertama

Pintar-Pintar dalam Menggunakan agar Tidak Merugikan

Kartu kredit punya sisi positif dan juga negatif. Benar dalam menggunakan, sisi positiflah yang dirasakan. Bila salah dalam memanfaatkan, sisi negatiflah yang dialami. Sebagai pemilik, Anda harus pintar-pintar dalam menggunakan kartu kredit. Sebaliknya, jika terjebak dalam kesalahan seperti di atas, kartu kredit hanya merugikan bagi Anda.

Baca Juga: Perbedaan Kartu Kredit dan Kartu Debit serta Ancamannya