Menyangka Pneumonia Sama dengan Corona? Inilah Perbedaan Hingga Gejala Pneumonia

Pasca pertama kali dikonfirmasi di Indonesia pada awal bulan Maret lalu, hingga kini kasus positif penderita virus Corona terus meningkat tajam dan mengkhawatirkan. Bahkan, belum genap satu bulan, telah dikonfirmasi penderita virus Corona di Indonesia telah mencapai angka ribuan. Dengan adanya fakta tersebut, baik pemerintah maupun masyarakat harus bisa bekerja sama dalam menekan penyebaran virus mematikan tersebut.

Mulai dari menjaga jarak dengan orang lain dan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan mendesak, hingga segera memeriksakan diri saat merasa memiliki gejala virus Corona harapnya bisa dilakukan dengan kompak oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini bertujuan agar rantai penyebaran virus Corona dapat diputus dan tidak menimbulkan lebih banyak korban lagi.

Berbicara soal gejala virus Corona, tak sedikit dari laporan ODP atau orang dalam pemantauan maupun PDP atau pasien dalam pemantauan yang negatif terjangkit virus tersebut. Melainkan, ODP atau PDP yang tidak terkonfirmasi virus Corona tersebut sebenarnya terjangkit dengan penyakit lain yang sama-sama berbahayanya, yaitu pneumonia. 

Virus Corona dan pneumonia memang sedikit banyak memiliki gejala yang sama pada penderitanya. Jadi, tak sedikit penderita pneumonia yang merasa dirinya terjangkit virus Corona, padahal tidak. Lantas, apa sih perbedaan dari gejala penyakit pneumonia dan virus Corona ini?

Apa Itu Penyakit Pneumonia?

Pneumonia adalah suatu penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan di kantong udara yang ada di paru-paru. Pneumonia juga seringkali disebut dengan istilah paru-paru basah oleh masyarakat pada umumnya. Penyebutan istilah lain dari pneumonia ini bukanlah tanpa alasan.

Pneumonia atau paru-paru basah terjadi karena beberapa kantong udara yang kecil pada ujung saluran pernapasan paru-paru sedang meradang. Akibat peradangan ini, paru-paru menjadi dipenuhi oleh cairan maupun nanah dan menyebabkan penderitanya sering mengalami sesak napas, demam, batuk berdahak, hingga menggigil. 

Penyebab seseorang bisa terserang penyakit pneumonia ini adalah karena terinfeksi dengan virus, bakteri, atau jamur dalam paru-paru. Akan tetapi, pada kasus pneumonia orang dewasa, penyebab penyakit tersebut seringkali karena infeksi dari bakteri. 

Penyakit ini memiliki risiko yang lebih tinggi menyerang pada orang dengan sistem imun yang rendah. Oleh karena itu, penyakit paru-paru basah ini tak jarang diderita oleh para lanjut usia maupun pasien dengan riwayat penyakit tertentu yang menurunkan imunitas tubuh. 

Namun, tidak menutup kemungkinan pula pneumonia juga dapat menjangkit para bayi yang baru lahir karena sistem imunnya belum berkembang secara sempurna. Para perokok berat dan pecandu minuman beralkohol juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjangkit pneumonia ini. Jadi, gaya hidup yang kurang tepat juga dapat menjadi pemicu seseorang menjadi penderita pneumonia. 

Berdasarkan laporan dari Badan Kesehatan Dunia atau WHO, pneumonia menjadi salah satu penyakit mematikan pada anak dengan angka kematian yang paling tinggi di dunia. Menurut WHO, pneumonia ini memiliki risiko kematian hingga 16 persen pada penderita bayi dengan usia kurang dari 5 tahun. 

Jadi, berdasarkan fakta tersebut, pneumonia bukanlah penyakit yang bisa dipandang sebelah mata dan memastikan bahwa penderitanya  mendapatkan penanganan medis yang tepat.  

Baca Juga: Inilah Penyebab Vertigo Hingga Cara Mengobatinya

Gejala yang Dirasakan Oleh Penderita Pneumonia

Sebagai penyakit yang menyerang saluran pernapasan, gejala pneumonia yang sekilas terlihat mirip dengan flu atau influenza. Beberapa gejala pneumonia antara lain:

  1. Suhu tubuh tinggi.
  2. Berkeringat.
  3. Batuk.
  4. Menggigil.
  5. Nafsu makan yang hilang. 

Untuk kasus yang lebih serius, penderita juga bisa mengalami gejala pneumonia yang lebih berbahaya. Gejala yang dapat dirasakan oleh penderita pneumonia akut meliputi:

  1. Pernapasan tidak stabil atau cepat.
  2. Adanya rasa nyeri atau sakit pada bagian dada.
  3. Rasa sakit yang bertambah parah saat mengambil napas yang dalam. 

Sebenarnya, penyakit ini bukanlah masalah kesehatan yang sukar untuk disembuhkan. Terlebih saat pneumonia masih belum menimbulkan infeksi yang terlalu parah pada sistem pernapasan. Penderita pneumonia ringan dapat disembuhkan dengan kurun waktu beberapa hari atau paling lama satu minggu dengan mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Akan tetapi, pada kasus pneumonia yang lebih parah, proses penyembuhan penyakit tersebut akan memerlukan waktu yang lebih lama. Penanganan penderita pneumonia akut juga jauh lebih intensif agar tidak menyebabkan kematian. Dalam kasus yang sudah parah ini, pneumonia baru bisa disembuhkan dengan memakan waktu mencapai enam bulan lamanya. 

Khusus pada penderita yang memiliki kondisi kesehatan yang buruk dan sistem kekebalan tubuh yang rendah, pneumonia harus bisa dapat ditangani dengan segera. Pasalnya, infeksi pada saluran pernapasan tersebut membuat paru-paru menjadi lebih sulit untuk bisa mendapatkan kadar oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi, dengan semakin cepatnya penderita pneumonia mendapatkan perawatan, risiko kerusakan jaringan tubuh akibat kekurangan asupan oksigen lebih kecil terjadi. 

Perbedaan Pneumonia dan Corona

Tak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa pneumonia dan COVID-19 atau penyakit akibat infeksi virus Corona ini sama. Pasalnya, beberapa gejala yang dirasakan oleh penderita penyakit tersebut sekilas terlihat sama sebab keduanya terjadi karena adanya infeksi pada saluran pernapasan. Padahal, kedua penyakit mematikan tersebut memiliki beberapa perbedaan spesifik meski saling berkaitan satu sama lain. 

  • Gejala yang Serupa Tapi Tak Sama

    Perlu dicatat bahwa seseorang yang terjangkit dengan virus Corona memiliki risiko menyebabkan pneumonia. Dilaporkan bahwa pasien yang positif terjangkit virus Corona merasakan gejala mirip pneumonia, yaitu batuk, suhu tubuh tinggi, hingga kesulitan untuk bernapas. Jadi, tak mengherankan bahwa penderita pneumonia menjadi orang yang dicurigai telah terjangkit virus Corona dan termasuk sebagai ODP ataupun PDP sehingga perlu untuk diisolasi. 

    Pada potensi kematiannya, pneumonia akan menjadi lebih tinggi saat penderitanya tidak mendapatkan perawatan medis sama sekali walaupun gejala yang muncul sudah berada dalam tahap yang membahayakan. Sedangkan pada penyakit COVID-19, risiko kematiannya tinggi terjadi pada pasien yang telah lebih dulu memiliki masalah kesehatan yang kurang baik. 

    Akibatnya, virus Corona yang sebetulnya bukanlah sebuah penyakit yang mematikan dapat menimbulkan kegagalan pada organ tubuh. Sehingga, dari kasus korban yang meninggal akibat penyakit COVID-19, kebanyakan adalah pasien yang memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik. 

  • Vaksin

    Perbedaan selanjutnya adalah pneumonia sudah ditemukan vaksinnya. Dalam kata lain, pneumonia dapat dicegah infeksinya dengan menggunakan vaksin tersebut. Sebaliknya, sebagai penyakit yang tergolong baru, virus Corona masih belum ditemukan vaksin maupun cara tepat untuk menyembuhkannya.

    Dari hampir seluruh kasus terkonfirmasi virus Corona, pasien COVID-19 dapat sembuh dengan senantiasa meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Semakin kuat sistem imun yang dimiliki oleh penderitanya, COVID-19 akan lebih tinggi potensinya untuk disembuhkan. 

Baca Juga: Ini Manfaat Madu Asli Bagi Kesehatan, Yuk Mulai Mengonsumsinya!

Cara Pengobatan Penyakit Pneumonia

Cara pengobatan atau penanganan pada penderita pneumonia adalah dengan langsung mengatasi pusat infeksinya. Penderita pneumonia juga biasanya akan mendapatkan penanganan psikologis berupa terapi suportif. 

Pada umumnya, penderita akan diberikan antibiotik oleh dokter jika infeksi pneumonia disebabkan oleh bakteri. Konsumsi antibiotik tersebut akan terus dilakukan hingga habis atau sesuai anjuran dari dokter. 

Untuk terapi suportifnya, penderita akan diberi obat penurun demam saat suhu tubuh terlalu tinggi dan mengakibatkan pasien tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Sedangkan untuk meredakan batuk dan mengencerkan dahak, dokter biasanya akan memberikan obat batuk. Dengan begitu, frekuensi batuknya dapat dikurangi dan dahak pun menjadi lebih mudah untuk dikeluarkan. 

Adapun beberapa perawatan intensif, seperti rawat inap, saat penderita pneumonia berusia lanjut dan sering mengalami gangguan kesadaran. Fungsi ginjal yang terganggu pada pasien pneumonia juga disarankan untuk melakukan rawat inap agar penanganan dokter bisa selalu didapatkan.  

Rawat inap juga perlu dilakukan saat penderita pneumonia mengalami tekanan darah rendah, nafas tidak stabil dan terlalu cepat, serta suhu tubuh yang terlalu rendah. Jadi, agar tidak menimbulkan masalah kesehatan lain yang lebih serius, penderita pneumonia dengan ciri tersebut sangat dianjurkan untuk melakukan rawat inap. 

Pentingnya Mengetahui Perbedaan Pneumonia dengan Corona

Ditengah gentingnya suasana di dunia saat ini karena wabah virus Corona, tak sedikit masyarakat yang merasa panik dan merasa was-was akan terjangkit penyakit tersebut. Hal inilah yang mungkin menjadi alasan utama kenapa banyak orang yang merasa tertular COVID-19 padahal gejala yang muncul hanyalah flu biasa atau pneumonia. 

Namun, tetap perlu digaris bawahi jika anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan masih harus dipatuhi. Dengan begitu, pandemi virus Corona ini dapat segera berakhir dan dunia bisa berjalan seperti sedia kala. 

Baca Juga: Obat Paracetamol, Berikut Cara Pakai, Dosis dan Efek Sampingnya