Merasa Tak Boros Tapi Uang Selalu Habis: Berapa ‘Latte Factor’ Anda?

Pernahkan Anda bertanya-tanya ‘perasaan tidak beli apa-apa tapi kok habis ya uangnya?’ Anda pun tertegun dan mengingat-ingat apa saja barang-barang yang telah dibeli dan menguras kantong.

Ada banyak kebiasaan tanpa disadari yang sebenarnya justru merugikan diri sendiri. Salah satunya adalah gaya hidup yang -bisa bilang- remeh-temeh tapi mengacaukan kondisi keuangan.

Sebut saja, kebiasaan belanja di luar rencana pada momen tertentu seperti sebelum atau selama bekerja, bahkan sepulang kerja, atau momen lainnya, yang tanpa disadari menjadi rutinitas. Misalnya, kebiasaan jajan makanan-minuman, baju dan aksesoris, serta lainnya yang terkesan sepele, nyatanya tanpa disadari telah membuat kantong bolong.

Nahasnya, biasanya kebiasaan yang dipikir adalah ‘kecil’ itu ternyata sulit dihilangkan. Lebih parah lagi bila tidak pernah menyadarinya. Sementara, di sisi lain keuangan lambat laun telah digerogoti.

Nah, kebiasaan-kebiasaan yang dianggap kecil dalam kehidupan sehari-hari itulah dikenal sebagai Latte Factor. Istilah ini dipopulerkan oleh David Bach, penulis keuangan asal Amerika. Teorinya ini didasarkan pada pengalamannya minum kopi di kafe (latte, diambil dari kata dalam minuman kopi), yang sudah menjadi kebiasaan atau rutinitasnya sehari-hari, dan tanpa disadari telah banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.

Anda Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Jadi, apa itu Latte Factor?

Secara umum, latte factor bisa diartikan sebagai pengeluaran yang terjadi untuk hal-hal yang pada dasarnya tidak dibutuhkan, dimana pengeluaran ini pada awalnya terlihat kecil (ringan) dan dilakukan secara terus-menerus, hingga akhirnya menjadi pengeluaran dalam jumlah yang besar.

Banyak orang terbiasa melakukan pengeluaran skala kecil yang sifatnya rutin tapi sebenarnya tidak terlalu penting dilakukan ini. Awalnya pengeluaran-pengeluaran kecil itu tidak begitu terasa mengganggu keuangan karena telah menjadi kebiasaan sejak lama. Namun jika hitung lebih teliti lagi, jumlah pengeluaran total tersebut bisa saja begitu besar setiap bulannya.

Bila kita bisa menghematnya, tentu akan lebih bermanfaat lagi karena bisa meningkatkan jumlah tabungan untuk masa depan, bukan hanya sekedar memenuhi kebiasaan dan rasa puas saat itu juga.

Apa saja hal-hal yang biasa menjadi Latte Factor? Ada beberapa kebiasaan atau rutinitas sehari-hari yang masuk dalam kategori latte factor ini, diantaranya adalah:

Baca Juga: Inilah Pentingnya Punya Perencanaan Keuangan

1. Transportasi Online

Ojek Online
Ilustrasi transportasi online

Menggunakan transportasi online memang lebih mudah dan ‘terkesan’ murah dengan diskon promo yang ditawarkan. Namun tanpa disadari, jika dikalkulasikan sejatinya cukup besar juga nilainya, bila dibandingkan dengan transportasi online lainnya seperti bus rapid transite (bus transjakarta) atau kereta rel listrik (KRL/commuter line).

Bila dalam satu hari saja kita menggunakan transportasi online -katakanlah- Rp30.000 untuk 2 kali perjalanan yakni pergi dan pulang kerja, maka dalam 1 bulan (jika hari kerja 22 hari) ongkosnya mencapai Rp660.000. Ingat, itu hanya rutinitas pergi dan pulang kantor saja. Belum lagi bila ternyata Anda melakukan perjalanan hingga 3-4 kali dalam sehari, dan bepergian di kala hari libur kerja tiap minggunya.

Tentu ini berbeda bila Anda menggunakan transportasi umum bus transjakarta yang bertarif Rp3.500 ke segala tujuan tanpa ada biaya transit, dan Rp3.000 untuk 25 kilometer pertama tarif KRL. Jika Anda memilih transportasi bus transjakarta untuk melakukan rutinitas Anda, maka ongkos yang dikeluarkan dalam sebulan hanya sekitar Rp145.000 (PP 22 hari kerja) dan Rp132.000 bila naik KRL di hari kerja.

Anda bisa jauh lebih menghemat biaya transportasi bulanan itu dengan catatan tidak malas berjalan kaki menuju dan keluar halte busway maupun KRL ke tempat kerja dan kembali ke rumah.

2. Secangkir Kopi

Minum Kopi
Ilustrasi menikmati secangkir kopi di kafe

Bagi Anda penikmat kopi, tentu paham benar kapan dan bagaimana menikmatinya. Meski demikian, tak ada salahnya berpikir ulang dengan rutinitas ini. Terlebih lagi bagi Anda yang lebih suka menikmati secangkir kopi di kafe (coffee shop).

Tentu tidak asing lagi, berapa harga segelas atau secangkir kopi di kafe-kafe tersebut. Rata-rata harga secangkir atau segelas kopi di kafe mulai dari Rp20.000-an hingga Rp50.000-an, bahkan lebih.

Tentu, jika hanya sesekali membelinya, nyaris tidak terasa. Tapi bila sudah jadi rutinitas, katakanlah setiap hari, pasti jika ditotal dalam sabulan, jumlahnya pasti tidak sedikit lagi. Melainkan bisa saja uang Anda berkurang sekitar Rp1.000.000-an per bulannya hanya untuk secangkir kopi.

Bisa dibayangkan, berapa banyak uang Anda yang mengendap di tabungan setiap bulannya bila menghilangkan kebiasaan ngopi di kafe ini. Atau sebagai alternatifnya, bila Anda memang sudah ketagihan dengan minuman ini, Anda bisa meraciknya sendiri, yang tentunya lebih hemat ketimbang harga secangkir kopi di kafe.

3. Rokok

Merokok
Ilustrasi orang merokok

Kendati bisa dibilang sama sekali tidak ada manfaatnya, tapi hanya sebuah kepuasan saja, merokok memang kebiasaan yang cukup banyak dilakukan orang. Harga rokok memang bervariatif, mulai dari belasan ribu hingga di atas Rp22.000 per bungkus.

Jika sehari menghabiskan 1 bungkus rokok, dengan harga Rp22.000 per bungkus, maka dalam sebulan Anda mengeluarkan uang untuk beli rokok sebesar Rp660.000. Tapi tak jarang juga ternyata orang bisa menghabis rokok tidak cukup hanya sebungkus seharinya. Kalau sudah begitu, tentu jumlah pengeluaran untuk rokok ini akan lebih besar lagi, bukan?

4. Minuman Air Mineral

Air Mineral
Ilustrasi air mineral dalam kemasan botol

Kalau dilihat sepintas sepertinya memang sangat sepele. Apalah artinya sebotol minuman ini. Namun meski harga air mineral pada umumnya terbilang sangat murah, hanya sekitar Rp2.500 hingga Rp4.000 per botol saja, tapi sebenarnya tanpa disadari telah mengeluarkan cukup banyak uang untuk ini.

Tak percaya? Buktinya, bila kita membeli air mineral -katakanlah- 3 hingga 4 botol setiap harinya, maka dalam sebulan bisa menghabiskan uang sekitar Rp225.000 hingga Rp360.000. Ada baiknya, Anda menghilangkan kebiasaan sepele ini, dan rajin-rajinlah membawa bekal minum dari rumah saja.

5. Makanan Jajanan/Camilan

Makanan Ringan
Ilustrasi membeli makanan ringan atau jajanan

Sesekali memanjakan lidah, sah-sah saja. Asal jangan sampai ini menjadi gaya hidup yang tanpa disadari jadi kebiasaan dan rutinitas tiap hari dan membuat ‘kantong bolong’, seolah hidup hanya untuk makan. Tidak hanya membuat keuangan berantakan, jajan makanan yang tidak seharusnya sering dilakukan juga berdampak pada kesehatan yang terganggu.

Tentu bukan sebuah rahasia lagi bagaimana aneka jajanan dan makanan di luar sana diolah sedemikian rupa agar lezat dengan berbagai bahan yang lebih seringnya memang melebihi kapasitas normalnya, seperti gula, cokelat, minyak atau lemak, dan lainnya.

Padahal, pengeluaran untuk makanan pokok saja sudah relative cukup besar, rata-rata 30% dari pendapatan bulanan untuk penghasilan yang standar. Jika ditambah lagi dengan camilan, maka porsi pengeluaran untuk makanan ini tentunya juga semakin lebih besar lagi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan porsi anggaran untuk makanan jajanan atau camilan bisa saja lebih besar dari anggaran makanan pokok.

Bisa dibayangkan, jika setiap hari kita membeli makanan jajanan seharga Rp20.000-Rp30.000 sehari, maka dalam satu bulan bisa menghabiskan sekitar Rp600.000 hingga Rp900.000. Jumlah ini cukup besar hanya untuk pengeluaran yang bukan pokok. Tentu akan lebih baik bila dialihkan untuk mengisi saldo tabungan atau investasi buat masa depan yang lebih baik, bukan?

6. Hobi Beli Baju dan Aksesorisnya

Belanja Baju
Ilustrasi belanja baju

Baju dan aksesoris merupakan barang sandang yang sekunder alias bukan kebutuhan utama, bila hanya sekedar mencari model terbaru dan mengikuti tren yang ada. Tentu semua tahu, harga baju maupun aksesoris cukup lumayan mahal. Artinya kita pasti akan merogoh kocek minimal Rp50.000 untuk yang model atau jenis baju dan aksesoris sederhana. Bila mengedepankan kualitas atau bermerek (branded), sudah pasti harganya ratusan ribu bahkan jutaan.

Alangkah baiknya bila belanja-belanja yang bukan kebutuhan pokok ini lebih baik dikesampingkan saja, karena latte factor yang satu ini tanpa disadari bisa menguras uang.

Baca Juga: 10 Cara Efektif Untuk Menghindari Hasrat Belanja Berlebihan

Berapa Latte Factor Anda dan Bagaimana Cara Mengelolanya?

Aplikasi Keuangan Pribadi
Unduh aplikasi keuangan pribadi dan cermatlah berbelanja

Jumlah latte factor yang dimiliki oleh seseorang tentu akan berbeda dengan orang lain, mengingat berbagai kebiasaan ini juga akan berbeda pada setiap orang. Untuk mengetahui dengan jelas berapa jumlah latte factor kita, maka harus melakukan pencatatan pengeluaran bulanan secara detail.

Hal ini terbilang tidak mudah untuk dilakukan semua orang, terutama bagi kita yang tidak terbiasa memiliki catatan keuangan yang rinci setiap bulannya. Untuk memudahkan penghitungan latte factor, maka akan sangat tepat jika kita menggunakan aplikasi yang bisa diunduh (download) di aplikasi pada smartphone (ponsel).

Dengan demikian, kita lebih mudah untuk melakukan pencacatan untuk semua pengeluaran yang dilakukan. Aplikasi ini akan mencatat dan menyimpan semua pengeluaran kita secara detail, sehingga kita bisa menghitung dan menemukan latte factor kita dengan mudah. Cari aplikasinya dengan cara mengetik 'Aplikasi Keuangan Pribadi', dan Anda tinggal memilih aplikasi keuangan yang diinginkan.

Evaluasi Keuangan dan Lakukan Perubahan untuk Masa Depan Lebih Baik

Guna menemukan latte factor Anda, mulailah lakukan pencatatan pada tiap pengeluaran. Pencatatan memang bisa dilakukan secara manual, yakni dengan mencatat di kereta, tapi akan lebih efektif lagi bila menggunakan aplikasi keuangan online.

Setelah itu, lakukan evaluasi pada berbagai kebiasaan dalam mengeluarkan uang. Mulailah sebuah perubahan dalam mengelola keuangan, agar berbagai latte factor yang kita miliki bisa ditekan, syukur-syukur tentu lebih baik lagi bila dihilangkan. Kita bisa menambahkan nominal tabungan hingga jutaan rupiah hanya dari penghematan latte factor, bukan?

Baca Juga: Tujuan Keuangan: Bagaimana Cara Menyusunnya?