Pengeluaran Bengkak saat Ramadan? Ini 5 Penyebabnya

Setiap umat Muslim wajib menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Menahan haus dan lapar, dan hanya makan ketika sahur dan berbuka. Logikanya, jatah makan berkurang dan bisa menghemat uang banyak. Namun faktanya, bulan puasa malah bikin pengeluaran bengkak.

Sehingga terjadi besar pasak daripada tiang. Akibatnya, banyak orang yang mengalami masalah keuangan. Uang sudah habis sebelum gajian berikutnya tiba.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diwaspadai dan bisa bikin pengeluaran kamu meningkat selama bulan Ramadan:

Baca Juga: 7 Trik Lawan Lapar saat Puasa

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

loader
Belanja kebutuhan pokok

  1. Harga Kebutuhan Pokok Naik

    Berbagai kebutuhan pokok selalu naik menjelang Ramadan dan di awal puasa. Setelah itu sedikit turun dan biasanya akan meningkat lagi sebelum Lebaran.

    Kenaikan harga ini dipicu karena tingginya permintaan pasar, sementara pasokan yang ada tetap dalam jumlah yang sama. Sebut saja minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging sapi, cabai-cabaian, dan sebagainya.

    Jika biasa menyiapkan makanan sendiri di rumah, maka pengeluaran kamu pasti akan membengkak karena harga kebutuhan pokok yang lebih mahal di pasar. Pun dengan yang suka makan di luar, harga jual makanan pun bakal terkerek naik.

    Kenaikan harga ini juga bisa terjadi pada tiket moda transportasi umum, terutama yang akan digunakan untuk kebutuhan mudik lebaran nanti.

  2. Kehilangan Kontrol Saat Beli Makanan untuk Berbuka

    Bulan Ramadan identik dengan berbagai menu buka yang lezat dan selalu menggugah selera, seperti kolak pisang, sop buah dan beragam panganan lainnya yang tak kalah sedap.

    Godaan untuk selalu membeli makanan buka puasa ini memang sulit untuk ditolak, apalagi setelah menjalani puasa sepanjang hari. Namanya juga lapar mata, semua ingin dibeli walaupun nanti ujung-ujungnya tidak kemakan dan malah mubazir.

    Inilah yang membuat kantong terkuras. Kalau setiap hari katakanlah beli takjil dan makan malam di luar Rp50 ribu, maka totalnya sebulan Rp1,5 juta.

    Jika gajimu Rp5 juta sebulan, kamu menghabiskan 30% dari penghasilan hanya untuk membeli makanan buka puasa. Tidak termasuk untuk sahur, dan kebutuhan pangan lainnya.

    Baca Juga: Tips Hemat Pesan GoFood, Grab Food, ShopeeFood untuk Sahur dan Buka Puasa

  3. Mengikuti Terlalu Banyak Acara Buka Bersama

    Ini juga kebiasaan yang sering bikin dompet boncos. Buka bersama (bukber) di luar. Di kafe atau restoran dengan teman TK, SD, SMP, teman kuliah, rekan kerja di kantor lama, kantor yang sekarang, keluarga, sampai teman main di rumah.

    Semua undangan bukber ini diiyakan, maka ludeslah gajimu. Harga minuman di kafe atau restoran paling murah Rp 20-30 ribu per item. Sedangkan untuk makanannya berkisar Rp 30-100 ribu per item.

    Semakin banyak mengikuti acara buka puasa bersama, semakin banyak juga uang yang harus dikeluarkan. Jadi, selektif dalam memilih dan mengikuti acara buka bersama, misalnya hanya dengan keluarga dan rekan kerja di kantor yang sekarang agar pengeluaran bisa dikendalikan.

  4. Tergoda Diskon dan Promo Ramadan

    Bulan Ramadan hingga menjelang lebaran biasanya dipenuhi beragam promo dan diskon Ramadan. Menggoda? Tentu saja, sehingga sering membuat orang kalap berbelanja.

    Karena ada promo, barang yang tidak terlalu penting pun dibeli. Itu karena tidak bisa menahan hasrat belanja atau ada dorongan lain untuk membeli, seperti ingin pamer ke tetangga, flexing di media sosial, dan lainnya.

    Padahal bukan kebutuhan, hanya bersifat keinginan. Akibat dari belanja impulsif ini, masalah keuangan muncul di pertengahan bulan atau setelah lebaran. Pastikan kamu bisa membedakan keinginan dengan kebutuhan, dan nikmati berbagai diskon Ramadan dengan cara yang bijak.

  5. Selalu Mengandalkan THR

    Tunjangan Hari Raya (THR) selalu yang paling ditunggu di bulan Ramadan atau menjelang lebaran. Uang THR bisa menjadi suntikan dana untuk memenuhi keinginan belanja yang belum kesampean.

    Jadi, THR bukan digunakan untuk membayar cicilan utang, membeli kebutuhan Hari Raya, menabung atau investasi, tetapi untuk belanja berbagai barang.

    THR juga diandalkan banyak orang, tetapi untuk sesuatu yang konsumtif. Misalnya, kamu jor-joran belanja dengan gaji bulan kemarin saat awal Ramadan, karena merasa nanti bakal dapat THR penuh, sehingga kalau uang habis sekarang, tak masalah.

Belanja Bijak Agar Keuangan Selamat

Bulan Ramadan seharusnya kamu bisa menabung jutaan rupiah dari penghematan, seperti uang makan siang, dan belanja bijak. Jika tidak bisa mengatur keuangan dengan baik, khawatir kamu akan mengalami ‘krisis keuangan’ pasca lebaran.

Baca Juga: 12 Game Seru Ini Rekomendasi Banget untuk Menunggu Waktu Buka Puasa