Punya Banyak Anak? Anda Harus Pintar Mengatur Keuangan. Begini Caranya

Hadirnya buah hati tentu menjadi anugerah bagi setiap pasangan. Kehidupan rumah tangga terasa lebih lengkap.

Setiap pasangan punya keinginan terhadap jumlah anak. Ada yang ingin punya anak dua, tiga, lima, bahkan 11 juga ada. Pokoknya sudah seperti klub sepakbola.

Orangtua zaman dulu umumnya memiliki banyak anak. Ya, itu karena mereka masih percaya kalau banyak anak, banyak rezeki. Sah-sah saja.

Tetapi perlu diingat, punya banyak anak konsekuensinya ada pada keuangan. Terkadang yang memiliki satu atau dua anak saja, kondisi keuangan sudah megap-megap. Apalagi lebih dari itu.

Pastinya harus ekstra keras mengatur keuangan agar segala kebutuhan terpenuhi. Mulai dari makan, pakaian, kesehatan, dan paling penting adalah pendidikan anak.

Jika Anda adalah pasangan yang punya banyak anak, berikut tips mengatur keuangannya agar tetap hemat, tabungan gak jebol, pengeluaran tidak membengkak.  

Baca Juga: Biaya Sekolah Makin Mahal, Begini Loh Caranya Mengatur Dana Pendidikan Anak

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

1. Rajin memasak

Makan
Rajin memasak supaya mengurangi jajan di luar

Untuk menghemat pengeluaran, Anda harus rajin memasak di rumah. Supaya menghindari jajan di luar. Masak banyak untuk makan tiga kali sehari dengan menu sederhana, tetapi gizi tetap tercukupi.

Biasakan membawakan bekal untuk suami ke kantor dan anak ke sekolah. Termasuk cemilannya, agar anak tidak terlalu sering jajan.

Masak makanan sendiri selain lebih murah, juga pastinya lebih higienis karena bebas bahan pengawet dan bahan berbahaya lainnya, sehingga aman bagi kesehatan keluarga.

2. Belanja online

Belanja Online
Belanja online lebih praktis dan murah

Untuk mengakali pengeluaran, Anda bisa membeli kebutuhan di marketplace, seperti bahan makanan, perlengkapan kebersihan rumah tangga, dan barang lainnya.

Biasanya harga barang lebih murah saat belanja online ketimbang belanja offline. Lebih praktis, tidak buang uang, waktu, dan tenaga pula. Tidak perlu ongkos transportasi buat ke pasar, sehingga bisa lebih hemat.

Namun sebelum belanja online, sebaiknya Anda susun daftar barang yang merupakan kebutuhan mendesak untuk dibeli demi menghindari khilaf. Komitmen saat belanja, artinya tidak membeli barang di luar daftar tersebut.

Saat mencari barang yang dibutuhkan, Anda juga harus jeli melihat promo. Siapa tahu barang yang Anda cari sedang didiskon atau ada promo cashback. Atau Anda bisa belanja online saat ada momen khusus, seperti 12.12, harbolnas, ulang tahun marketplace, dan momen besar lainnya.

Pastikan pula Anda memilih situs belanja online yang menawarkan gratis ongkos kirim tanpa batas minimum pembelian. Jadi semakin hemat bukan?

3. Gunakan barang turun temurun

Bayi
Gunakan barang turun temurun untuk anak

Siapa bilang punya banyak anak bikin boros? Cara menyiasati untuk menghemat pengeluaran dan mengatur keuangan adalah menggunakan barang turun temurun.

Biasanya anak pertama, para orangtua jor-joran membeli perlengkapan bayi yang baru. Baju, popok, celana, tempat tidur, baby walker, stroller, pompa asi, dan masih banyak lainnya.

Sebaiknya pilih warna netral agar perlengkapan bayi tersebut bisa diwariskan ke anak kedua, ketiga, keempat, atau seterusnya. Jadi, anak cewek atau cowok bisa tetap menggunakan barang-barang itu.

Jika dari barang tersebut ada yang sudah rusak atau tidak layak pakai, barulah Anda membeli yang baru. Jadi perlengkapan anak tidak harus selalu baru.

Baca Juga: Bingung Mau Ngasih Uang Jajan Anak Berapa? Baca Dulu Tipsnya

4. Berikan anak ASI selama 2 tahun

ASI
Berikan ASI  kepada anak selama 2 tahun

Pemberian ASI ekslusif umumnya 6 bulan. Selanjutnya diberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI).

Nah begitu anak sudah usia 6 bulan lebih, walaupun sudah makan, tetap lanjutkan pemberian ASI hingga umur 2 tahun. Dengan syarat ASI Anda banyak atau cukup untuk si kecil.

Anda bukan saja tetap dapat memenuhi nutrisi anak, tetapi juga hemat pengeluaran cukup besar. Maklum, harga susu formula terbilang mahal sampai ratusan ribu per kaleng.

Buat anak yang doyan susu, sekaleng susu formula habis tidak sampai sebulan. Kalau misalnya harga susu formula Rp 100 ribu per kardus cuma untuk 2 minggu, maka pengeluaran untuk beli susu Rp 200 ribu per bulan. Belum biaya popok sekali pakai, dan lainnya.

Jika Anda memberikan ASI selama 2 tahun (24 bulan), Anda dapat menghemat biaya susu sekitar Rp 4,8 juta. Penghematan ini bisa dialokasikan untuk tabungan pendidikan anak.

5. Lindungi keluarga dengan asuransi kesehatan atau BPJS Kesehatan

Asuransi Kesehatan
Lindungi keluarga dengan asuransi kesehatan atau BPJS  Kesehatan

Ini juga penting perlindungan kesehatan bagi anak-anak. Daftarkan anak Anda pada program BPJS Kesehatan maupun asuransi kesehatan swasta.

Tujuannya kalau anak sakit, ada yang menanggung biaya pengobatan dan perawaran anak. Tentunya Anda harus membayar premi atau iuran setiap bulan agar mendapatkan manfaat tersebut.

Lebih baik sedia payung sebelum hujan, daripada terlambat. Jadi mengeluarkan uang untuk ‘tabungan’ kesehatan, tidak apa. Daripada Anda harus membayar mahal nantinya apabila anak menderita sakit tanpa perlindungan asuransi atau BPJS Kesehatan.

6. Hindari merokok

Rokok
Hindari merokok

Kalau ini buat orangtua. Hindari kebiasaan merokok. Selain merugikan kesehatan diri Anda dan keluarga, rokok juga bikin pengeluaran boros.

Jika Anda perokok, mulai sekarang berhentilah. Lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan anak-anak.

Bila sebungkus rokok seharga Rp 20 ribu habis dalam waktu seminggu, berarti sebulan Rp 80 ribu. Dikalikan 10 tahun (120 bulan), total penghematan sebesar Rp 9,6 juta.

Masa Depan Anak Ada di Tangan Orangtua

Sebagai orangtua Anda memiliki tanggung jawab besar terhadap pemenuhan kebutuhan anak-anak. Terutama pada pendidikannya.

Kalau Anda tidak pintar-pintar mengatur keuangan, maka masa depan anak Anda bisa kacau balau. Tidak punya uang atau tabungan untuk biaya pendidikan, sehingga terpaksa putus sekolah.

Jangan sampai seperti itu. Masa depan anak ada di tangan Anda sebagai orangtua.

Baca Juga: Menghitung Biaya Sekolah Anak dan Pilih Tabungan Pendidikan yang Tepat