6 Cara Hidup Hemat di Jakarta Buat Para Pengabdi UMR

Jakarta menjadi salah satu kota primadona para pencari kerja, khususnya yang berasal dari daerah. Mendapatkan pekerjaan di ibu kota dianggap lebih mudah ketimbang di desa, sehingga Jakarta selalu disesaki pendatang baru setiap tahunnya.

Di balik tawaran pekerjaan yang menjanjikan, iming-iming gaji lebih besar dengan upah minimum saat ini sekitar Rp 4,4 juta per bulan, biaya hidup di Jakarta juga lebih tinggi dibanding desa.

Oleh karena itu, buat kamu pengabdi UMR, harus pintar mengatur keuangan agar gaji cukup untuk sebulan. Bukan hanya untuk hari ini saja, tetapi juga masa depan.

Terlebih bagi para perantau tulang punggung keluarga. Kamu harus hidup hemat di Jakarta agar bisa mengirim uang di kampung halaman.

Bagaimana caranya? Berikut tips hidup hemat di Jakarta dengan gaji UMR:

Baca Juga: Cara Menghitung Cicilan KPR yang Aman agar Keuangan Tak Berantakan

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

loader
Ilustrasi menyisihkan uang dari penghasilan

  • Belanja kebutuhan pokok dengan promo

Pusat perbelanjaan modern, seperti mal, supermarket, minimarket seringkali memberikan promo cuma-cuma kepada konsumen. Promo ini bisa berupa potongan harga atau diskon, buy 1 get 1, cashback, special price, atau tebus murah.

Manfaatkan promo ini dengan baik untuk menghemat pengeluaran belanja kebutuhan pokok, seperti bahan pangan. Promo ini biasa diberikan menjelang akhir pekan, akhir bulan, atau saat hari-hari besar.

Makanya, sering-sering cek promosinya dari website atau katalog supermarket, kepoin instagram, dan sumber informasi lainnya. Namun ingat, hindari belanja konsumtif.

Alih-alih mau hemat dengan promo, malah kalap belanja. Meskipun suatu barang lagi promo, tapi kalau tidak penting, sebaiknya tidak dibeli agar pengeluaran terkendali.

  • Sesuaikan gaya hidup dengan kondisi keuangan

Pengeluaran boros bisa jadi karena mengikuti gaya hidup orang lain. Misalnya diajak nongkrong di kafe setiap hari, ikut. Sedangkan kalau pergi ke kafe, pasti jajan.

Dan harga makanan minuman di kafe sekitaran Jakarta paling murah Rp 20 ribu. Sekali nongkrong bisa keluar kocek Rp 50 ribu.

Jika seminggu dua kali kongkow, berarti pengeluaran jajan mencapai Rp 400 ribu. Itu sama saja dengan 10% apabila gaji bulananmu Rp 4 juta.

Alokasi anggaran sebesar itu seharusnya buat investasi, tabungan, atau dana darurat. Bukan porsi untuk bujet hiburan, karena jumlahnya terlalu besar.

Gaya hidup inilah yang tidak sesuai kondisi keuangan. Kalau seperti ini terus, kamu auto bakal tak punya masa depan keuangan yang bagus.

Risiko lain, gaji selalu habis di awal bulan. Selanjutnya hidup dari utang, gali lubang tutup lubang sehingga terancam miskin selamanya.

Oleh karena itu, gaya hidupmu harus disesuaikan dengan kondisi keuangan. Tidak berlebihan, tidak ikut-ikutan orang lain. Jadi diri sendiri, hidup hemat di Jakarta supaya mapan finansial.

Baca Juga: Keuangan Jebol akibat Salah Kelola? Pulihkan dengan Satu Cara Ini

  • Cara pekerjaan sampingan

Di Jakarta cuma ngandelin gaji bulanan UMR saja? Cukup sih cukup buat biaya hidup, bahkan untuk investasi dan tabungan bila cerdas mengatur keuangan.

Tetapi apa kamu tidak mau bisa mengalokasikan uang lebih banyak untuk masa depan? Atau mewujudkan impian bisa membeli rumah, jadi tidak ngontrak terus.

Jakarta keras bung! Kamu harus punya penghasilan tambahan. Jadi, manfaatkan waktu luang atau di sela-sela pekerjaan utama untuk bekerja sampingan.

Apapun pekerjaannya yang penting halal. Entah itu jualan online, jadi ojek online, atau ‘menukar’ keahlianmu dengan uang, seperti menjadi freelancer, guru les privat, dan pekerjaan sampingan lainnya yang menghasilkan.

loader
Ilustrasi menghemat keuangan

  • Masak sendiri dan bawa bekal ke kantor

Cara lain untuk menghemat pengeluaran, yaitu masak dan bawa bekal makan siang ke kantor. Lebih irit dibandingkan beli di warung makan.

Kalau kamu masak nasi dan lauk pauk di rumah, bisa untuk tiga kali makan sehari. Dengan uang Rp 20 ribu misalnya, kamu bisa memasak sayur, ikan, tahu/tempe untuk makan pagi, siang, dan malam 

Sedangkan beli makanan jadi di luar, uang Rp 20 ribu hanya untuk sekali makan. Uang dari penghematan tersebut, bisa untuk investasi atau kebutuhan lain yang sama pentingnya.

  • Pindah kos yang lebih murah

Jika kamu merasa sewa kos atau kontrakan kemahalan, sebaiknya pindah ke kos yang lebih murah. Misalnya dari yang tadinya Rp 1,2 juta per bulan menjadi yang Rp 800 ribu sebulan. Lumayan kan hemat Rp 400 ribu per bulan.

Walaupun ada konsekuensi yang harus kamu tanggung, misal kamar mandi di luar, tidak ada wifi, AC, dan laundry. Tak apa, toh kamu tetap bisa mandi, mencuci sendiri, ganti pakai kipas angin, dan gunakan kuota internet sendiri.

Baca Juga: Gesek Tunai Kartu Kredit, Nikmat Sesaat Membawa Sengsara Keuangan

  • Beralih gunakan sepeda ke kantor

Punya sepeda nganggur? Kenapa tidak dimanfaatkan. Naik sepeda, selain membuat badan lebih sehat, juga dapat menghemat pengeluaran.

Uang bensin yang sebelumnya bisa mencapai Rp 200 ribu per bulan, dengan naik sepeda, sama sekali tidak pakai ongkos. Uang penghematan dapat digunakan untuk mewujudkan impian atau masa depan.

Investasikan Uangmu

Selain itu, sisihkan uang atau gajimu untuk investasi. Contohnya di emas, saham, obligasi pemerintah, reksadana, peer to peer lending, atau instrumen lainnya.

Investasi bisa menjadi jalan untuk mengembangkan uang, meskipun sambil rebahan sekalipun. Jadi, investasi bekerja untukmu. Ini yang dinamakan kerja cerdas.

Kamu dapat mengalokasikan minimal 10% dari gaji sebulan untuk investasi. Apabila kamu telah melakukan penghematan dan mencari pekerjaan sampingan, hasilnya dapat kamu sisihkan untuk investasi.

Baca Juga: Exchange Traded Fund ETF, Investasi Kekinian yang Lebih Murah dari Harga Skincare