Pajak Impor 1.147 Barang Naik, Pakai Cara Ini Agar Bebas Dari Bea Cukai

Lagi-lagi, pelemahan rupiah bikin semua kena getahnya. Mulai dari tempe setipis ATM, kenaikan harga barang elektronik, sampai Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 untuk impor barang konsumsi pun ikut dikerek. Nah buat kamu yang doyan belanja produk-produk luar negeri, baik secara langsung maupun online, sekarang harus membayar lebih mahal akibat penyesuaian pajak tersebut.

Eits, jangan kesal dulu. Yuk, cari tahu penyebabnya kenapa pemerintah harus mengambil langkah menaikkan pajak impor atas 1.147 barang konsumsi?

Baca Juga: Pajak Penghasilan: Pengertian dan Cara Menghitungnya

Anda Bingung Cari Kredit Mobil Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Kredit Mobil Terbaik! 

Salah Satu Strategi Menjaga Rupiah

Saat rupiah tenggelam hingga nyaris Rp15.000 per USD, otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia (BI) sibuk melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menyelamatkan rupiah.

Sementara pemerintah sebagai otoritas fiskal perlu berupaya meningkatkan ekspor dan mengendalikan impor, terutama barang-barang yang tidak terlalu mendesak kebutuhannya agar neraca perdagangan Indonesia surplus. Ujung-ujungnya, diharapkan dapat memperkecil defisit transaksi berjalan yang menjadi penyebab rentannya rupiah. 

Mengerem pembelian barang-barang impor merupakan salah satu cara menolong rupiah. Instrumen yang dipilih adalah menaikkan PPh Pasal 22 untuk impor barang konsumsi. Kenapa PPh Pasal 22? Karena pembayaran PPh Pasal 22 dapat dikreditkan sebagai bagian dari pembayaran PPh terutang di akhir tahun pajak.

Tak tanggung-tanggung, ada 1.147 komoditas atau barang konsumsi yang pajak impornya dinaikkan. Bukan tanpa alasan pemerintah membidik ribuan barang tersebut, karena nilai impornya sudah kelewat tinggi.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati pernah menyebut, total nilai impor 1.147 komoditas ini sudah mencapai USD5 miliar sepanjang Januari-Agustus 2018. Jika dihitung dengan asumsi kurs Rp14.800 per USD, maka nilainya sekitar Rp74 triliun selama 8 bulan ini. Padahal sepanjang 2017, Indonesia impor 1.147 barang konsumsi itu dengan nilai USD6,6 miliar atau sekitar Rp97,7 triliun.

“Kita mau kendalikan karena sudah terlampau tinggi,” tegas Sri Mulyani.

Daftar Barang Impor yang Pajaknya Naik

Daftar Barang Impor yang Pajaknya Naik
Daftar Barang Impor yang Pajaknya Naik

Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, meluncurlah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 110/PMK.010/2018 tentang Perubahan atas PMK Nomor 34/PMK.010/2017 tentang Pemungutan PPh Pasal 22 Sehubungan Dengan Pembayaran Atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang Lain.

Kalau dilihat, kenaikan pajak impor yang ditetapkan mencapai 4 kali lipat. Lumayan juga ya. Dominasinya memang barang-barang yang biasa masyarakat gunakan sehari-hari, mulai dari mobil, pakaian, sampai dengan kosmetik saja semua serba impor. Tarif PPh impor baru ini sudah berlaku sejak 13 September 2018.

Adapun 1.147 item barang yang mengalami kenaikan PPh Pasal 22, dibagi ke dalam 3 kelompok:   

1. 210 barang mewah, PPh naik dari 7,5% menjadi 10%. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil secara utuh atau (Completely Built Up/CBU) dan motor besar

2. 218 barang, naik dari 2,5% menjadi 10%. Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri. Jadi produk lokal bisa menjadi penggantinya

3. 719 item komoditas, naik dari 2,5% menjadi 7,5%. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya.

Barang-barang impor yang naik pajaknya menurut PMK Nomor 110/2018, di antaranya:

1. Untuk kenaikan PPh Pasal 22 barang-barang impor menjadi 10%, contohnya barang elektronik (dispenser air, pendingin ruangan, lampu, dan sebagainya), keperluan sehari-hari seperti sabun, shampo, kosmetik (parfum, anti jerawat, deodoran, krim wajah atau kulit, dan lainnya), serta peralatan masak atau dapur (microwave, dan lainnya).

Barang lainnya, yakni tasbih, koper, pakaian selam, tas dan sepatu bowling, ponsel, mobil jenazah, ambulan, sedan, van tahanan, tempat makanan unggas, ikat pinggang, helm sepeda motor, pompa air, laptop atau notebook, piano, baby walker, dan masih banyak lainnya.

2. Sedangkan pajak barang-barang impor yang naik menjadi 7,5%, contohnya sosis ikan, bakso ikan dan udang, permen karet, kembang gula, kue kering, es krim, wine, kopi instan, kain ihram, kelereng, wig atau rambut palsu, kondom. Ada lagi bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (T-shirt, kemeja, over coat, polo shirt, swim wear, mukena), dan masih banyak lainnya.

3. Di PMK 110/2018 juga disebutkan impor kedelai, gandum, dan tepung terigu dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,5%.

Baca Juga: Mengenal Macam-Macam Pajak untuk Bisnis Online

Impor Mobil Mewah Kena Pajak Tinggi

Buat kamu yang hobi mengoleksi mobil mewah atau berniat membeli tunggangan mewah, seperti Porsche, Lamborghini atau motor gede (moge), mending pikir-pikir lagi deh. Sebab, total jenderal kamu bisa dipungut pajak hampir 200% jika mengimpor kendaraan mewah tersebut ke Indonesia. Apalagi buat importir, pastinya bakal menaikkan harga barang ke konsumen.

  • Nih ya, perhitungannya kamu akan dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 10%, lalu kena Bea Masuk sebesar 50%, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor sebesar 10%, serta dipungut Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dengan kisaran 10% sampai 125%. Total-total, pajak yang harus kamu bayarkan mencapai 195% untuk impor 1 unit mobil mewah.

“Dalam situasi seperti ini, barang mewah sama sekali tidak penting untuk Republik ini. Urgensi kita memang mau memperbaiki neraca perdagangan,” kata Sri Mulyani.

1. Perhitungan lain contohnya kamu membeli parfum impor seharga Rp2.000.000 secara online langsung dari luar negeri dan diantar lewat jasa pengiriman, maka pajak yang dipungut:

  • Nilai impornya Rp2.000.000 melebihi ketentuan batas pembebasan Bea Masuk atas impor barang kiriman sebesar USD100 atau Rp1.480.000 (kurs Rp14.800 per USD)
  • Bea Masuk 10% = 10% x Rp2.000.000 = Rp200.000
  • PPN 10% = 10% x (Rp2.000.000 + Rp200.000) = Rp220.000
  • PPh Pasal 22 = 10% (Rp2.000.000 + Rp200.000) = Rp220.000
  • Total Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) yang harus dibayar Rp 200.000 + Rp 220.000 + Rp 220.000 = Rp640.000.

Tips Aman Menghindari Pajak Impor

Sebenarnya kamu bisa terbebas dari pajak-pajak impor tersebut. Bukan culas ya, tapi ini cara yang benar. Mengikuti aturan yang sudah ditetapkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.

1. Ikuti batas pembebasan bea masuk barang pribadi atau oleh-oleh yang dibawa dari luar negeri. Kalau kamu melancong ke luar negeri, lalu membeli produk impor dan nilainya masih di bawah USD500 atau sekitar Rp7,4 juta per orang, maka tidak dipungut Bea Masuk, PPN, dan PPh Pasal 22. Jika barang yang dibeli penumpang pesawat melebihi USD500, maka kelebihan nilai barang tersebut yang dipungut Bea Masuk dan aneka pajak itu

2. Belanja online juga bisa bebas Bea Masuk dan pajak-pajak dalam rangka impor tersebut. Syaratnya nilai impor barang kiriman Free on Board (FOB) sebesar USD100 sekitar Rp1,48 juta. Tapi batas nilai tersebut bakal diturunkan. Per 10 Oktober 2018, berlaku batas baru sebesar USD75 atau sekitar Rp1,11 juta.

Sedangkan syarat barang yang bebas dari pungutan cukai di bandara, membawa 200 batang sigaret, 25 batang cerutu, atau 100 gram tembakau iris atau produk tembakau lain, serta 1 liter minuman mengandung etil alkohol. 

“Bila dibawa penumpang maksimal USD500 dan jasa pengiriman maksimal USD100, maka tidak kena Bea Masuk, PPN, dan PPh. Tidak kena sama sekali PDRI-nya,” ujar Kepala Seksi Humas DJBC, Devid Yohannis Muhammad saat berbincang dengan Cermati.com, baru-baru ini.

3. Gunakan produk dalam negeri. Tentu saja, kamu bakal bebas dari Bea Masuk dan pajak impor yang dipungut Bea Cukai. Paling-paling hanya dikenakan PPN 10% saat transaksi. Dengan menggunakan produk buatan Indonesia, berarti kamu mendukung kemajuan industri dalam negeri.

Cintai Produk-Produk Indonesia

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik, kamu bisa membantu rupiah dengan mengurangi impor dan membeli produk-produk made in Indonesia. Hal kecil tapi dampaknya besar untuk penguatan mata uang Garuda. Banyak kok merek lokal yang sudah terbukti kualitasnya, bahkan mampu melanglang buana ke negara lain. Sudah saatnya, produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Baca Juga: Pengertian Pajak Pertambahan Nilai dan Dasar Hukumnya