Market Cap Saham dan Market Cap Crypto, Apa Itu?

Market capitalization atau market cap disebut juga kapitalisasi pasar. Istilah dalam dunia investasi, termasuk di pasar saham dan pasar crypto.

Makanya, ada market cap saham dan market cap crypto. Keduanya memiliki pengertian dan perhitungan berbeda.

Ingin tahu lebih jauh mengenai market cap, simak penjelasannya berikut ini seperti dirangkum Cermati.com.

Baca Juga: Saham Blue Chip: Pengertian, Ciri-ciri, dan Daftarnya

Bingung Cari Produk Kredit Tanpa Agunan Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk KTA Terbaik! 

Market Cap Saham

loader
Market Cap Saham

  • Pengertian Market Cap Saham

Dikutip dari Investopedia, market cap adalah nilai agregat perusahaan. Yang perhitungannya berdasarkan harga saham di pasar saat ini terhadap total jumlah saham yang beredar.

Market cap digunakan investor dan analis untuk membandingkan serta mengukur perusahaan. Perusahaan dapat dikategorikan sebagai perusahaan besar, menengah, atau kecil tergantung market cap.

Perusahaan atau saham blue chip disebut saham mega cap. Sedangkan saham paling kecil atau biasanya saham lapis tiga masuk sebagai micro cap.

  • Rumus Menghitung Market Cap Saham

Market cap adalah metode cepat dan mudah memperkirakan nilai perusahaan. Cara menghitungnya, kalikan saham beredar perusahaan dengan harga per saham di pasar saat ini. Hasilnya merupakan nilai market cap atau kapitalisasi pasar dalam mata uang rupiah maupun dolar AS.

Market Cap = Harga per Saham x Jumlah Saham yang Beredar

Untuk mencari jumlah saham yang beredar di IDX, kamu tinggal buka laporan keuangan perusahaan. Apakah itu laporan keuangan kuartal maupun tahunan.

Selanjutnya, cari di bagian Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh. Disitu terdapat jumlah saham yang beredar.

Contoh:

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

  • Harga saham BBRI = Rp 4.580 per lembar
  • Jumlah saham yang beredar = 151.559.001.604 lembar
  • Market Cap BBRI = Rp 4.580 x 151.559.001.604 = Rp 694,14 triliun.

Atau

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

  • Harga saham BBCA = Rp 8.025
  • Jumlah saham yang beredar = 123.275.050.000
  • Market cap BBCA = Rp 8.025 x 123.275.050.000 = Rp 989,28 triliun.

*Contoh di atas menggunakan data harga saham per Rabu (2/3) dan jumlah saham yang beredar per 31 Desember 2021.

Market cap suatu perusahaan bergerak fluktuatif. Ini karena harga saham perusahaan di pasar terus berubah setiap detik. Jumlah saham yang beredar pun dapat berubah dari waktu ke waktu.

Perubahan jumlah saham yang beredar akan terjadi ketika perusahaan melakukan aksi korporasi tertentu, seperti menerbitkan saham baru, buyback saham, dan lainnya.

Baca Juga: Investasi Kripto vs Saham, Mana yang Lebih Menguntungkan?

  • Jenis Market Cap Indonesia

Jenis-jenis market cap Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), antara lain:

1. Saham Lapis Satu (Big Cap/Blue Chip/First Liner)

Saham dengan nilai kapitalisasi pasar atau market cap besar, yakni di atas Rp 10 triliun. Saham jenis ini merupakan penggerak IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dan indeks LQ45.

Saham kategori big cap memiliki kinerja keuangan baik, fundamental kuat, dan harga saham yang cenderung stabil, sehingga sulit untuk ‘digoreng.’

Saham lapis satu dianggap paling aman untuk investasi dalam jangka panjang. Karena berisikan saham-saham unggulan, sering bagi-bagi dividen, dan biasanya harga sahamnya cukup mahal.  

2. Saham Lapis Kedua (Medium Cap/Second Liner)

Saham dengan nilai market cap sedang atau menengah, yaitu Rp 500 miliar sampai Rp 10 triliun. Saham jenis ini sebagian masuk dalam indeks LQ45 atau saham unggulan.

Memiliki kinerja keuangan cukup baik, harga cenderung fluktiatif, dan mencatatkan pergerakan yang beragam. Ada yang likuid dan tidak likuid.

3. Saham Lapis Ketiga (Small Cap/Third Liner)

Saham dengan nilai kapitalisasi pasar kecil, yaitu di bawah Rp 500 miliar. Harga saham yang masuk kategori ini biasanya lebih murah. Gampang ‘digoreng,’ makanya sangat berisiko tinggi untuk investasi karena fluktuasi dan volatilitas harganya juga tinggi.

  • Top 20 Saham dengan Market Cap Terbesar di BEI

Daftar top 20 saham dengan market cap terbesar di BEI:

No

Kode Emiten

Nama Emiten

Market Cap

1

BBCA

PT Bank Central Asia Tbk

Rp 930,57 triliun

2

BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

Rp 610,68 triliun

3

TLKM

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk

Rp 415,07 triliun

4

BMRI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Rp 345,34 triliun

5

ARTO

PT Bank Jago Tbk

Rp 224,97 triliun

6

ASII

PT Astra International Tbk

Rp 221,65 triliun

7

TPIA

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk

Rp 190,87 triliun

8

UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk

Rp 153,74 triliun

9

BBNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

Rp 135,23 triliun

10

BYAN

PT Bayan Resources Tbk

Rp 122,67 triliun

11

BBHI

PT Bank Harda Internasional Tbk

Rp 120,47 triliun

12

EMTK

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk

Rp 109,93 triliun

13

HMSP

PT HM Sampoerna Tbk

Rp 109,92 triliun

14

DCII

PT DCI Indonesia Tbk

Rp 104,53 triliun

15

CPIN

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk

Rp 103,31 triliun

16

ICBP

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

Rp 101,75 triliun

17

UNTR

PT United Tractors Tbk

Rp 86,25 triliun

18

BRPT

PT Barito Pacific Tbk

Rp 83,43 triliun

19

MDKA

PT Merdeka Copper Gold Tbk

Rp 83,37 triliun

20

KLBF

PT Kalbe Farma Tbk

Rp 76,87 triliun

*Data BEI per Januari 2022

Market Cap Crypto

loader
coin market caps

  • Pengertian Market Cap Crypto

Dilansir dari laman coin market caps, market cap crypto adalah satu cara untuk menggolongkan ukuran relatif mata yang kripto. Cara menghitungnya dengan mengalikan harga koin kripto dengan jumlah koin yang beredar di pasar.

  • Cara Menghitung Market Cap Crypto

Rumusnya:

Market Cap Crypto = Harga per Koin x Jumlah Koin yang Beredar

Jumlah koin yang beredar digunakan dalam perhitungan market cap crypto karena dianggap lebih baik dalam menentukan kapitalisasi pasar kripto dibanding koin yang terkunci, dicadangkan, atau tidak dapat dijual di pasar publik.

Sebab, koin tersebut tidak dapat memengaruhi harga dan kemungkinan tidak akan berdampak ke market cap crypto.

Contoh menghitung market cap crypto:

  • Budi memiliki 1.000.000 koin yang ada di pasaran. Harga per koin USD 3
  • Market cap crypto = USD 3 x 1.000.000 = USD 3.000.000.

Baca Juga: Investasi Crypto: Jenis, Manfaat dan Risiko yang Perlu Diketahui

  • 20 Coin Cryptocurrency dengan Market Cap Terbesar

Inilah daftar 20 coin cryptocurrency dengan market cap terbesar, berdasarkan data coinmarketcap.com. Coin market cap adalah situs pelacakan harga yang menjadi referensi dari seluruh dunia untuk aset-aset kripto.

No

Nama Cryptocurrency

Harga

Market Cap

1

Bitcoin

USD 43.904,84

USD 837,37 miliar

2

Ethereum

USD 2.979,71

USD 358,07 miliar

3

Tether

USD 1,00

USD 79,47 miliar

4

BNB

USD 410,69

USD 67,95 miliar

5

USD Coin

USD 0,9996

USD 53,62 miliar

6

XRP

USD 0,7668

USD 36,95 miliar

7

Terra

USD 93,75

USD 35,38 miliar

8

Solana

USD 103,40

USD 33,21 miliar

9

Cardano

USD 0,9539

USD 32,36 miliar

10

Avalanche

USD 85,66

USD 21,18 miliar

11

Polkadot

USD 18,71

USD 18,58 miliar

12

Binance USD

USD 1,00

USD 18,17 miliar

13

Dogecoin

USD 0,1333

USD 17,74 miliar

14

Shiba Inu

USD 0,00002655

USD 14,68 miliar

15

TerraUSD

USD 1,00

USD 13,10 miliar

16

Polygon

USD 1,63

USD 12,35 miliar

17

Wrapped Bitcoin

USD 43.973,86

USD 11,57 miliar

18

Cronos

USD 0,4435

USD 11,28 miliar

19

Dai

USD 0,9998

USD 9,71 miliar

20

Cosmos

USD 30,81

USD 8,81 miliar

*Data per 2 Maret 2022

Pilih Mana Investasi Saham atau Kripto?

Investasi saham dan kripto sama-sama berisiko tinggi. Apapun pilihan kamu, market cap sangat penting untuk dijadikan tolok ukur melihat nilai sebenarnya suatu perusahaan.

Berinvestasi pada saham maupun kripto yang memiliki kapitalisasi besar dianggap lebih menguntungkan dibanding yang market cap-nya kecil. Volatilitasnya juga lebih rendah.

Namun demikian, menanamkan modal di saham atau kripto yang mempunyai market cap menengah dan kecil menawarkan potensi pengembalian yang tinggi bagi investor yang berani mengambil risiko.

Sebab, saham atau koin crypto mereka lebih rentan terhadap persaingan, ketidakpastian, dan faktor lain, seperti penurunan bisnis maupun ekonomi.

Baca Juga: Mantul, Transaksi Jual Beli Bitcoin Sudah Legal di Indonesia