Saham Biasa (Common Stock): Jenis Saham "Sejuta Umat" yang Paling Populer
Saat kamu membuka aplikasi investasi dan membeli saham perusahaan seperti Bank BCA, Telkom, atau Unilever, sadarkah kamu jenis saham apa yang sebenarnya kamu beli?
Jawabannya adalah Saham Biasa atau Common Stock.
Ini adalah jenis saham yang paling umum diperdagangkan di bursa efek di seluruh dunia. Saking umumnya, banyak investor pemula yang tidak menyadari bahwa ada jenis saham lain (Saham Preferen).
Meskipun namanya "biasa", potensi keuntungan yang ditawarkannya justru "luar biasa". Namun, ada juga risiko spesifik yang mengintip di baliknya. Yuk, kita pelajari hak-hak apa saja yang kamu miliki sebagai pemegang saham biasa!
Mau mulai investasi saham?
Apa Itu Saham Biasa?
Saham Biasa
Saham Biasa (Common Stock) adalah surat berharga yang menyatakan kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan. Pemilik saham biasa memiliki hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan (dividen) dan memiliki hak suara (voting rights) dalam rapat perusahaan.
Artinya, jika kamu membeli 1 lot saham biasa, kamu sah menjadi salah satu "Bos" atau pemilik perusahaan tersebut, sekecil apapun persentasenya.
Hak Istimewa Pemegang Saham Biasa
Berbeda dengan pemegang obligasi (surat utang) yang hanya berstatus pemberi pinjaman, pemegang saham biasa memiliki hak-hak eksklusif berikut:
1. Hak Suara (Voting Rights)
Ini adalah "kekuatan super" saham biasa. Kamu berhak memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Suaramu dihitung berdasarkan jumlah lembar saham yang kamu miliki (One Share One Vote). Kamu bisa ikut menentukan hal krusial seperti:
-
Mengangkat atau memecat Direksi/Komisaris.
-
Menyetujui pembagian dividen.
-
Menyetujui aksi korporasi besar (Merger/Akuisisi).
2. Hak Mendahului (Preemptive Right)
Pernah dengar istilah Right Issue? Ini adalah wujud dari hak mendahului. Jika perusahaan ingin menerbitkan saham baru untuk mencari modal tambahan, mereka wajib menawarkan saham tersebut kepadamu terlebih dahulu sebelum ditawarkan ke publik. Tujuannya agar persentase kepemilikanmu tidak menyusut (dilusi).
3. Tanggung Jawab Terbatas (Limited Liability)
Ini adalah fitur keamanan. Jika perusahaan bangkrut dan punya utang triliunan rupiah, kamu sebagai pemegang saham tidak bertanggung jawab untuk melunasi utang tersebut menggunakan harta pribadimu. Kerugian maksimalmu hanyalah sebesar modal yang kamu tanamkan di saham tersebut.
Tabel: Saham Biasa vs. Saham Preferen
Sering tertukar? Berikut perbedaan utamanya. Tabel ini akan membantumu memahami posisi tawar saham biasa.
| Fitur | Saham Biasa (Common Stock) | Saham Preferen (Preferred Stock) |
| Hak Suara (RUPS) | Punya (Bisa ikut voting) | Tidak Punya (Umumnya) |
| Dividen | Tidak pasti (Tergantung laba & RUPS) | Pasti/Tetap (Prioritas utama) |
| Potensi Keuntungan | Tak Terbatas (High Capital Gain) | Terbatas (Stabil) |
| Saat Likuidasi (Bangkrut) | Urutan Terakhir (Paling berisiko) | Urutan setelah Kreditur |
Karakteristik Saham Biasa
Saham Biasa
Secara umum, terdapat beberapa karakteristik utama yang dimiliki oleh jenis saham yang satu ini. Berikut adalah 3 karakteristik dari common stock.
- Ketersediaan: Soal persediaan, saham biasa kemungkinan akan selalu tersedia dan bisa dibeli oleh investor kapan saja. Oleh karena itu, bagi pemilik modal yang ingin mempunyai sebagian kepemilikan sebuah perusahaan, membeli saham biasa selalu bisa menjadi pilihan.
- Hak Pilih: Pemilik saham biasa mempunyai hak suara terkait pengambilan keputusan perusahaan. Beberapa contohnya adalah keputusan tentang pemilihan anggota atau dewan direksi, aktivitas bisnis perusahaan, seperti, akuisisi, merger, maupun pemecahan saham.
- Pembagian Dividen tergantung Kebijakan Perusahaan: Tak semua perusahaan akan memberikan dividen terhadap pemilik saham ini. Meski begitu, saat perusahaan memberikan dividen, ada potensi jika pemilik common stock baru bisa mendapatkannya saat pemilik saham preferen telah menerimanya terlebih dulu.
Kategori Common Stock
Secara umum, common stock dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau kategori. Berdasarkan panduan investasi yang dibuat oleh Bursa Efek Indonesia atau BEI, inilah kategori dasar terkait saham.
- Income stocks: Jenis saham ini umumnya memberi dividen dengan nominal relatif tinggi, tapi cenderung tidak teratur. Jenis saham ini bisa dijadikan sebagai sarana menghasilkan penghasilan tanpa melakukan penjualan.
- Blue-chip stocks: Saham jenis ini dimiliki oleh perusahaan dengan reputasi dan pengalaman yang tak perlu diragukan lagi, serta memiliki pertumbuhan yang stabil. Biasanya, saham ini memberi dividen yang tak terlalu besar, tapi teratur dan berlangsung dalam jangka panjang. Harga dari sahamnya pun terbilang stabil dan tak rentan dari gejolak di pasar saham.
- Growth stocks: Saham ini umumnya diterbitkan oleh perusahaan dengan tingkat pertumbuhan cepat di industrinya. Walaupun tak memiliki catatan historis yang pasti dan teruji, apresiasi harga dari saham ini relatif lebih potensial. Meski begitu, risikonya juga terbilang lebih tinggi ketimbang jenis saham yang lainnya.
- Cyclical stocks: Jenis saham ini diterbitkan perusahaan untuk memengaruhi tren ekonomi. Biasanya, nilai saham ini cenderung menurun di masa resesi dan akan meningkat di masa boom ekonomi.
- Defensive stocks: Saham ini akan mempertahankan nilainya di masa resesi. Contoh dari defensive stocks adalah perusahaan makanan dan minuman, asuransi, obat-obatan, dan kebutuhan harian.
- Emerging growth stocks: Saham ini dikeluarkan oleh perusahaan kecil, tapi memiliki daya tahan atau saing yang kuat. Kondisi ekonomi perusahaan yang ditawarkan saham ini juga cenderung lemah dan harga sahamnya tergolong sangat spekulatif.
- Speculative stocks: Secara prinsip, seluruh saham pada bursa efek bisa digolongkan sebagai saham jenis ini. Tidak ada kepastian apakah investor mampu mendapatkan keuntungan atau kerugian dari saham yang dibelinya.
Cara Hitung Saham Biasa
Saham Biasa
Sebagian dari kamu mungkin penasaran bagaimana cara menghitung nilai dari saham biasa. Pada neraca, common stock biasanya dilaporkan pada bagian ekuitas dari pemegang saham. Informasi tersebut muncul pada neraca berbarengan dengan tipe saham lainnya, seperti saham treasury dan saham preferen.
Nilai dari saham biasa dapat dihitung dengan cara mengurangi jumlah ekuitas dari pemegang common stock dengan ekuitas pemegang saham pilihan dan hasilnya dibagi dengan rata-rata jumlah common stock yang beredar. Dengan begitu, nilai buku dari saham biasa bisa diketahui, walaupun jarang sesuai dengan nilai pasar dari saham biasa. Nilai pasar sendiri didorong oleh pihak investor pada pasar saham, sementara nilai buku didasarkan dari aset perusahaan serta akuntansi.
Keuntungan Investasi Saham Biasa
Kenapa saham biasa menjadi favorit investor ritel maupun kakap?
-
Capital Gain Tak Terbatas: Tidak ada batasan seberapa tinggi harga saham bisa naik. Saham biasa bisa naik ribuan persen (multibagger) jika kinerja perusahaan cemerlang.
-
Dividen: Meskipun tidak wajib, perusahaan yang sehat biasanya rutin membagikan sebagian labanya sebagai dividen tunai kepada pemegang saham biasa.
-
Likuiditas Tinggi: Saham biasa sangat mudah diperjualbelikan di pasar sekunder (Bursa Efek) kapan saja selama jam perdagangan.
Risiko Utama: "Last in Line"
Ada satu kelemahan fatal dari saham biasa yang wajib kamu tahu, yaitu risiko saat Likuidasi.
Jika perusahaan bangkrut dan asetnya dijual, hasil penjualannya akan didistribusikan dengan urutan prioritas:
-
Membayar Pajak & Gaji Karyawan.
-
Membayar Utang ke Kreditur/Bank/Pemegang Obligasi.
-
Membayar Pemegang Saham Preferen.
-
Sisanya baru untuk Pemegang Saham Biasa.
Seringkali, saat perusahaan bangkrut, asetnya sudah habis untuk membayar utang. Jadi, pemegang saham biasa tidak mendapatkan apa-apa. Inilah risiko menjadi pemilik paling terakhir.
Alasan Perusahaan Menawarkan Saham Biasa
Baik perusahaan publik atau perusahaan swasta semuanya menawarkan common stock. Hanya saja, pada perusahaan swasta, jenis saham ini umumnya dicadangkan bagi pendiri, investor, maupun karyawan. Saat perusahaan swasta beralih menjadi perusahaan publik, pihak tersebut bisa melakukan IPO atau penawaran umum perdana dan bisa memperdagangkannya.
Di sisi lain, secara umum, perusahaan akan menerbitkan saham biasa dengan tujuan mengumpulkan dana atau modal bisnis melalui IPO. Cara ini juga bisa digunakan sebagai alternatif ketimbang harus mengajukan pinjaman atau utang. Penerbitan common stock ini juga bisa menjadi solusi untuk melunasi utang, menambah modal pembelian perusahaan lain, maupun mendapatkan kas tunai.
Cara Membeli Common Stock
Common stock dapat dibeli melalui pasar modal, maupun via pasar swasta. Pada pasar publik, jenis saham ini bisa dibeli maupun dijual selama hari kerja pada bursa efek. Namun, tidak jarang pula investor membeli jenis saham ini melalui broker yang dikenakan dengan beban biaya sebagai komisi sesuai kesepakatan.
Potensi Keuntungan Saham Biasa Tidak Kalah dengan Saham Preferen
Walaupun secara prioritas terkait pembagian dividen berada di bawahnya, saham biasa tetap mampu memberikan potensi keuntungan yang tak kalah menjanjikan. Pemilik common stock juga mempunyai beragam hak dan kewajiban yang tak jauh berbeda dengan jenis saham lainnya. Hal yang terpenting adalah tetap perhatikan kondisi perusahaan dan pertumbuhannya di masa depan agar mampu meraup cuan optimal dari investasi saham biasa.