Window Dressing, Pengertian dan Tips Beli Saham untuk Dikoleksi Investor

Setiap mendekati akhir tahun, bukan cuma ramai promo diskon belanja. Tetapi ada satu fenomena menarik dalam dunia investasi.

Namanya window dressing. Sebuah kondisi anomali atau tidak normal. Paling sering terjadi di pasar modal. Biasanya ditandai dengan pergerakan IHSG yang cenderung menguat jelang penutupan tahun.

Tren tersebut didorong kenaikan harga saham emiten (perusahaan terbuka) di bursa efek. Berbarengan dengan masa tutup buku atau rekap hasil kinerja tahunan.

Buat yang masih penasaran tentang window dressing, berikur penjelasannya, seperti dirangkum Cermati.com dari berbagai sumber.

Baca Juga: Cara Buka Rekening Saham Online: BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Panin Sekuritas, dan IPOTGO

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Pengertian Window Dressing

Laporan Keuangan
Window dressing disebut juga rekayasa akuntansi

Window dressing adalah strategi mempercantik kinerja atau laporan keuangan maupun portofolio bisnisnya. Dipoles sedemikian rupa agar terlihat menarik di mata investor dan pemegang saham.

Siapa pelaku window dressing? Yakni emiten serta manajer investasi. Perusahaan terbuka atau emiten merekayasa neraca keuangan atau laporan rugi labanya, sehingga memiliki kinerja lebih baik dari yang sebenarnya.

Menggunakan trik akuntansi, di mana perusahaan seolah-olah membukukan laba atau keuntungan, tetapi sifatnya laba semu. Padahal sebenarnya perusahaan rugi. Atau dilaporkan labanya besar, namun sebetulnya kecil.  

Sementara manajer investasi melakukan praktik window dressing dengan memoles kinerja pengelolaan reksadananya. Dengan begitu, terlihat mencatatkan hasil positif. Ini akan berdampak besar terhadap imej mereka dari nasabah yang menggunakan jasanya.

Fenomena window dressing mampu melesatkan harga saham emiten. Terutama saham-saham unggulan, seperti saham Blue Chips. Memiliki kapitalisasi pasar besar dan menjadi penggerak utama IHSG.

Terjadi Kuartalan dan Akhir Tahun

Saham
Window dressing sering terjadi setiap kuartalan dan signifikan di akhir tahun

Perilaku window dressing bukan hal baru lagi. Sudah umum terjadi. Biasanya sering dilakukan setiap 3 bulan saat perusahaan mengumumkan laporan keuangan kuartalan.

Window dressing juga sering terjadi pada bulan Desember. Di mana saham-saham emiten terbang, dan berlangsung sampai Januari. Inilah yang dikenal dengan istilah January Effect.

Apa tanda terjadinya window dressing? Tandanya adalah kenaikan beberapa saham lebih dari 5 sampai 10% dalam satu hari perdagangan bursa.

Prediksi Window Dressing 2020

Window dressing Prediksi window dressing 2020

Seperti tahun-tahun sebelumnya, investor perlu bersiap menyambut window dressing. Fenomena ini diperkirakan datang lebih cepat pada tahun 2020.

Window dressing sering terjadi setiap kuartal dan akhir tahun. Dan tahun ini, (window dressing) agak lebih awal karena libur Desember lebih banyak, sehingga window dressing bisa lebih cepat,” kata Technical Analyst Panin Sekuritas, William Hartanto dalam 2nd Session Closing, seperti dikutip dari Channel Youtube IDX Channel, belum lama ini.

William memprediksi, laju IHSG berpotensi melanjutkan penguatan sampai dengan akhir tahun. Ditopang sentimen dari dalam maupun luar negeri. Sekadar informasi, IHSG saat ini bergerak pada level 5.700.

Baca Juga: Saham Blue Chips: Saham Incaran yang Menguntungkan

Tips Beli Saham Saat Window Dressing agar Cuan

Saham
Tips berburu saham yang layak dikoleksi investor

Analis menyarankan investor berburu saham di masa window dressing. Seperti rekomendasi William. “Berpeluang (beli saat ini). Lebih mengurangi risiko (membeli) pas lagi ada pergerakan indeks (positif),” saran William.

Berikut tips beli saham di kala window dressing supaya cuan:

1. Incar saham Blue Chip

Pilihlah saham-saham Blue Chip yang menjadi pendorong utama IHSG. Saham Blue Chip merupakan saham dengan kapitalisasi pasar besar di atas Rp 10 triliun.

Selain itu, saham Blue Chip punya likuiditas bagus. Saham emiten yang beredar di bursa efek maupun dimiliki publik banyak, sehingga bisa disebut likuid.

Sebagian besar saham Blue Chip ada di indeks LQ45. Kalau mendekap saham-saham unggulan ini, sulit bagi pemain saham untuk memanipulasi harga. Atau istilah lainnya digoreng oleh oknum pasar modal.

Atau jika harga saham Blue Chip terlalu mahal buat kantong, kamu bisa mengincar saham-saham murah di Indeks LQ45 atau indeks lain, seperti IDX30, IDX80, dan lainnya.

2. Lihat fundamental dan teknikal sahamnya

Sebelum membeli, analisis fundamental dan teknikal sahamnya. Fundamental dapat kamu lihat melalui laporan keuangan perusahaan.

Sedangkan teknikal lebih kepada pergerakan harga saham pada rentang waktu tertentu, serta informasi titik tertinggi dan terendah saham.

Sebab belum tentu saham yang kena efek window dressing di tahun lalu, polanya akan saham dengan tahun ini. Pun dengan saham Blue Chip, jangan buru-buru tergiur label unggulannya. Pastikan dulu dengan menganalisis fundamental dan teknikalnya. 

3. Alokasikan dana untuk investasi

Tertarik berburu cuan di masa window dressing, tetapi tidak punya modal investasi. Sama saja bohong.

Oleh karena itu, pastikan kamu punya alokasi khusus bujet investasi. Caranya sisihkan 20% dari gaji bulanan atau penghasilan.

Pastikan bahwa kondisi keuanganmu sehat. Tidak besar pasak daripada tiang, sehingga bisa berinvestasi dengan nyaman dan tenang.

Koleksi Saham Ini saat Window Dressing

BCA
Koleksi saham-saham ini saat window dressing

Head of Research Panin Sekuritas, Nico Laurens seperti dikutip dari Program CNBC Indonesia Investime merekomendasikan beberapa saham yang layak dibeli saat window dressing tahun 2020.

Antara lain di sektor infrastruktur, perbankan, otomotif, perkebunan, dan alat berat.

  • PT Bank Central Asia Tbk / BCA (BBCA)
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
  • PT Waskita Karya Tbk (WSKT)
  • PT Astra Internasional Tbk (ASII)
  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
  • PT United Tractors Tbk (UNTR).

Teliti dalam Membaca Laporan Keuangan

Dasar seorang investor saham adalah kemampuan membaca laporan keuangan perusahaan. Kamu harus mampu menganalisisnya dengan baik. Sebab ada saja emiten yang menyajikan laba tidak riil dalam neraca keuangannya.

Kamu bisa mencari tahunya di beban pajak. Bila PPh Badan yang dibayarkan tidak mencapai 25% dari laba usaha sebelum pajak, maka kemungkinan laba emiten tersebut bukan laba sebenarnya.

Baca Juga: Cara Membaca Laporan Keuangan Perusahaan, Investor Wajib Tahu