Faktor-Faktor Penyebab Naik Turunnya Harga Saham, Apa Saja?

Naik turunnya harga saham lumrah terjadi. Adanya permintaan dan ketersediaan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi. Harga saham sekalipun saham tersebut masuk kategori blue chips juga bisa mengalami penurunan. Sebaliknya, saham yang dikategorikan Lapis Tiga tanpa diduga-duga harganya bisa naik secara signifikan.

Ada sejumlah faktor mendasar yang dapat mengakibatkan harga saham naik ataupun turun. Secara umum, faktor-faktor tersebut diklasifikasikan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam perusahaan.

Sementara faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar perusahaan. Faktor ini bisa dibilang sulit diatasi. Contohnya, adanya masalah-masalah berkaitan dengan ekonomi makro. Dari kedua faktor tersebut, faktor eksternal lebih dominan dalam memengaruhi harga saham. Untuk lebih jelasnya, bisa Anda ketahui dari penjelasan di bawah ini.

Baca Juga: Tertarik Berinvestasi Saham? Ini Tips dan Cara Aman Investasinya

1. Aksi Korporasi Perusahaan

Harga Saham

Aksi Korporasi Memberi Andil bagi Perubahan Harga Saham via shutterstock.com

 

Aksi korporasi yang dimaksud di sini berbentuk kebijakan yang diambil jajaran manajemen perusahaan. Dampaknya dapat mengubah hal-hal yang sifatnya fundamental dalam perusahaan. Contoh dari aksi korporasi adalah terjadinya akuisisi, merger, right issue, atau divestasi.

Kebijakan-kebijakan fundamental tersebut secara otomatis akan memengaruhi harga saham di bursa. Sebagai contoh, PT APA memutuskan untuk melakukan akuisisi terhadap PT ITU. Berita tersebut akan menimbulkan sejumlah spekulasi sehingga para pemain menganggap PT APA memiliki posisi yang lebih kuat daripada PT ITU. Efeknya, harga saham PT APA akan mengalami kenaikan.

2. Proyeksi Kinerja Perusahaan pada Masa Mendatang

Kinerja Perusahaan

Kinerja Perusahaan yang Baik Memicu Kenaikan Harga Saham via shutterstock.com

 

Perkiraan terhadap performa/kinerja perusahaan juga jadi salah satu yang turut memengaruhi fluktuasi harga saham. Sebab performa perusahaan dijadikan acuan bagi para investor maupun analis fundamental dalam melakukan pengkajian terhadap saham perusahaan.

Di antara beberapa faktor, yang paling menjadi sorotan adalah tingkat dividen tunai, tingkat rasio utang, rasio nilai buku/Price to Book Value (PBV), earnings per share (EPS), dan tingkat laba suatu perusahaann.

Perusahaan yang menawarkan dividend payout ratio (DPR) yang lebih besar cenderung disukai investor karena bisa memberikan imbal balik yang bagus. Dalam praktiknya, DPR berdampak pada harga saham. Selain itu, EPS juga turut andil terhadap perubahan harga saham. EPS yang tinggi mendorong para investor untuk membeli saham tersebut yang menyebabkan harga saham makin tinggi.

Tingkat rasio utang dan PBV juga memberikan efek signifikan terhadap harga saham. Perusahaan yang memiliki tingkat rasio utang yang tinggi biasanya adalah perusahaan yang sedang bertumbuh. Perusahaan tersebut biasanya akan gencar dalam mencari pendanaan dari para investor.

Meskipun demikian, perusahaan seperti ini biasanya juga diminati banyak investor. Sebab jika hasil analisisnya bagus, saham tersebut akan memberikan imbal tinggi (high return) karena ke depannya kapitalisasi pasarnya bisa meningkat.

3. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Pemerintah Turut Memengaruhi Harga Saham via shutterstock.com

 

Kebijakan Pemerintah juga dapat memengaruhi harga saham meskipun kebijakan itu masih dalam tahap wacana dan belum terealisasi. Banyak contoh dari kebijakan Pemerintah yang menimbulkan volatilitas harga saham, seperti kebijakan ekspor impor, kebijakan perseroan, kebijakan utang, kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA), dan lain sebagainya.

Pemain saham tipe trader biasanya sangat peka terhadap isu sensitif seperti ini untuk mengambil keuntungan dengan melakukan spekulasi dalam aksi ambil untung trading harian.

4. Fluktuasi Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Kurs Rupiah

Pergerakan Harga Saham Juga Tergantung Pergerakan Kurs via shutterstock.com

 

Kuat ataupun lemahnya kurs rupiah terhadap mata uang asing sering kali menjadi penyebab naik turunnya harga saham di bursa. Secara logika, ini sangat masuk akal. Konsekuensi dari fluktuasi kurs tersebut bisa berdampak positif ataupun negatif bagi perusahaan-perusahaan tertentu, khususnya yang memiliki beban utang mata uang asing.

Perusahaan importir atau perusahaan yang memiliki beban utang mata uang asing akan dirugikan akibat melemahnya kurs. Sebab hal ini akan berakibat pada meningkatnya biaya operasional dan secara otomatis juga mengakibatkan turunnya harga saham yang ditawarkan. Sebagai contoh kasus adalah melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS sering kali melemahkan harga-harga saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

5. Kondisi Fundamental Ekonomi Makro

Makro Ekonomi Indonesia

Efek dari Makro Ekonomi Juga Berimbas pada Harga Saham via shutterstock.com

 

Kondisi fundamental ekonomi makro juga memiliki dampak langsung terhadap naik dan turunnya harga saham, misalnya:

  • Naik atau turunnya suku bunga yang diakibatkan kebijakan bank sentral Amerika (Federal Reserve).
  • Naik atau turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan nilai ekspor impor yang berakibat langsung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
  • Tingkat inflasi juga termasuk dalam salah satu faktor kondisi ekonomi makro.
  • Pengangguran yang tinggi yang diakibatkan faktor keamanan dan goncangan politik juga berpengaruh secara langsung terhadap naik atau turunnya harga saham.

Selain faktor itu, hubungan antara tingkat suku bunga perbankan dan pergerakan harga saham juga sangat jelas. Ketika suku bunga perbankan melejit, harga saham yang diperdagangkan di bursa akan cenderung turun tajam.

Hal ini dapat terjadi karena beberapa kemungkinan:

  • Pertama, ketika suku bunga perbankan naik, banyak investor yang mengalihkan investasinya ke instrumen perbankan semisal deposito. Dengan naiknya suku bunga tersebut, investor dapat meraup keuntungan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan bermain saham.
  • Kedua, bagi perusahaan, ketika suku bunga perbankan naik, mereka akan cenderung untuk meminimalkan kerugian akibat dari meningkatnya beban biaya. Hal ini terjadi karena sebagian besar perusahaan memiliki utang kepada perbankan.

6. Rumor dan Sentimen Pasar

Sentimen Pasar

Ilustrasi Analisis Sentimen Pasar via shutterstock.com

 

Pasar saham ini sangat rawan akan info-info manipulatif, berita, ataupun rumor. Sekadar isu saja yang entah darimana sumbernya bisa saja berpengaruh terhadap kenaikan atau penurunan harga saham. Misalnya, seorang CEO atau direksi perusahaan tertentu membuat pernyataan yang negatif atau positif. Secara otomatis, harga saham perusahaan yang bersangkutan akan dapat terkoreksi, baik naik maupun turun secara tiba-tiba.

Oleh karena itu, para analis sering kali menjadikan faktor ini menjadi pertimbangan tertentu sebelum memutuskan untuk mengambil saham tersebut. Mungkin untuk kasus ini tidak mudah diketahui para investor pemula saat mereka tidak jeli dalam memerhatikan informasi internal yang berasal dari perusahaan.

7. Faktor Manipulasi Pasar

Manipulasi Pasar

Ilustrasi Manipulasi Pasar via shutterstock.com

 

Manipulasi pasar saham juga kerap terjadi dan bisa secara langsung berdampak pada naik atau turunnya harga saham. Bagaimana ini bisa terjadi? Manipulasi pasar biasanya dilakukan investor-investor berpengalaman dan bermodal besar dengan memanfaatkan media massa untuk memanipulasi kondisi tertentu demi tujuan mereka, baik menurunkan maupun meningkatkan harga saham.

Namun, manipulasi pasar ini biasanya tidak bertahan lama. Karena perusahaan masih memiliki aspek-aspek fundamental yang terekam di dalam laporan keuangannya yang bisa digunakan untuk mengembalikan harga saham ke kondisi sebelumnya.

8. Faktor Kepanikan

Harga Saham Terkini

Ilustrasi Panik via shutterstock.com

 

Faktor kepanikan ini juga bisa secara langsung berefek pada fluktuasi harga saham. Ambil contoh kasus pada tahun 2006, sewaktu muncul pemberitaan di media massa tentang meledaknya salah satu pipa milik Perusahaan Gas Negara (PGN) akibat lumpur Lapindo. Munculnya berita tersebut berdampak langsung pada harga saham PGN yang memiliki kode saham PGAS. Sebab banyak investor menjual saham PGAS.

Namun, setelah melakukan analisis tentang meledaknya pipa tersebut, ternyata kejadian itu tidak menimbulkan efek yang signifikan terhadap keseluruhan bisnis Perusahaan Gas Negara (PGN). Akhirnya, sehari kemudian, harga saham PGAS mulai naik kembali.

Baca Juga: Tips Memilih Saham Terbaik dengan Analisis Fundamental dan Teknikal

Selalu Waspada dan Jangan Lengah

Sebagai investor atau pemain saham, sangat penting untuk terus memantau pergerakan harga saham. Dengan mencermati faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, setidaknya risiko-risiko yang bisa dihindari atau diantisipasi seminimal mungkin. Kerugian yang ditanggung tidak sebesar bila sama sekali tidak tahu tentang faktor-faktor tersebut. Jadi, selalu waspada dan jangan lengah.

Baca Juga: Pengertian Saham Gorengan dan Tips Mengelolanya