Keuangan Anda Sedang Bermasalah? Coba Cek, Mungkin Ini Biang Keladinya

Setiap orang pasti menginginkan kondisi keuangan yang stabil. Antara pemasukan dan pengeluaran seimbang, tidak ada utang atau cicilan, bisa menabung, punya investasi, serta dana darurat.

Rasanya tenang hidup tanpa beban keuangan. Bisa tidur nyenyak karena kondisi keuangan aman terkendali. Sayang, harapan kadang tak selalu sesuai dengan kenyataan. Faktanya, ada saja masalah finansial yang datang, misalnya pengeluaran membengkak, utang menumpuk, dan lain sebagainya.

Masalah keuangan tersebut ada yang bersifat sementara, tapi ada juga yang berkepanjangan. Terjadi sepanjang waktu karena sudah terlanjut besar. Kalau sudah begini, sangat penting untuk Anda segera mengatasinya.

Masalah keuangan bisa menimpa siapa saja. Orangtua, anak muda, yang sudah menikah, punya anak, bahkan yang masih jomblo sekalipun. Sebetulnya apa saja penyebab dari masalah yang banyak mendera keuangan pribadi seseorang? Berikut ulasan selengkapnya.

Baca Juga: Manfaat Besar Dana Darurat agar Keuanganmu Selamat saat Wabah Corona

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

1. Konsumtif dan hedon

Belanja
Terlalu konsumtif dan hedon

Faktor penyebab munculnya masalah keuangan, paling banyak adalah terlalu konsumtif dan hedon. Hasrat belanja sangat tinggi, tanpa pikir panjang, dan untuk membelanjakan sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu mendesak. Lebih memprioritaskan keinginan dibanding kebutuhan.

Di sisi lain, gaya hidup ini tidak sesuai dengan kemampuan atau penghasilan. Misalnya gaji pas-pasan, tapi doyan banget belanja. Atau gaji cuma Rp4-5 juta per bulan, tapi hobinya jajan kopi mahal terus. Gede gengsi, bahkan terseret arus tren gaya hidup berlebihan.

2. Lebih besar pasak daripada tiang

Masalah Keuangan
Besar pasak daripada tiang

Artinya lebih besar pengeluaran daripada penghasilan. Inilah faktor lain penyebab masalah keuangan pribadi yang sering terjadi. Gaji hanya Rp6 juta, tapi pengeluaran bisa Rp7 juta, bahkan dua kali lipat lebih besar dari pemasukan.

Ada kaitannya dengan gaya hidup konsumtif dan hedon. Karena punya gaya hidup berlebihan, bermewah-mewahan, gaji tidak cukup untuk memenuhi keinginan. Tapi tetap dipaksakan, meskipun harus berutang ke sana kemari.

Tak ada pengendalian belanja. Semua dibeli tanpa melihat kemampuan. Begitu pertengahan bulan, gaji atau pendapatan sudah habis. Bukannya mencari uang tambahan dan menyetop pengeluaran tidak penting, justru semakin menjadi. Misalnya menggunakan kartu kredit untuk belanja yang sifatnya bukan kebutuhan utama.

3. Terlambat bayar tagihan

Tagihan
Terlambat bayar tagihan

Banyak orang menyepelekan kewajiban membayar tagihan tepat waktu. Entah itu tagihan kartu kredit, tagihan Kredit Tanpa Agunan (KTA), tagihan listrik dan air, hingga tagihan lainnya. Padahal dengan membayar tagihan tepat waktu, Anda akan terhindar dari denda keterlambatan.

Tapi begitu telat sehari saja membayar tagihan, utang bisa menumpuk karena Anda harus membayar utang pokok, plus bunga, ditambah dengan denda keterlambatan. Dikalikan berapa hari keterlambatan, maka jumlah utang membesar.

Walhasil menjadi beban keuangan pribadi Anda, sehingga lama kelamaan tidak kuat membayar dan jadi kredit macet. Aset berharga disita untuk melunasi utang. Dalam kondisi inilah, Anda akan mengalami paceklik keuangan berkepanjangan.

Baca Juga: 6 Tips Atur Keuangan Ketika Pasangan Resign Kerja

4. Punya utang

utang
Punya utang

Utang adalah kewajiban yang harus dibayar dan dilunasi. Utang menjadi masalah keuangan pribadi karena merupakan beban. Saat punya utang, konsekuensinya Anda harus mencicil setiap bulan. Mengalokasikan anggaran untuk membayar utang-utang tersebut sampai lunas.

Ya kalau jangka waktu utang 1-3 bulan, tidak terlalu berat. Tapi begitu sudah sampai belasan atau puluhan tahun, seperti mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR), itu akan menjadi beban tersendiri. KPR termasuk utang produktif. Karena meski dari utang, Anda bisa punya rumah sebagai tempat tinggal atau investasi masa depan.

Yang salah adalah jika Anda mengajukan utang hanya untuk konsumtif. Tenornya lama pula, misalnya sampai 5 tahun. Sudah berutang sampai puluhan bulan, Anda tidak dapat apa-apa dari barang yang dibeli. Tidak pula menghasilkan uang tambahan.

5. Tak punya tabungan dan dana darurat

Tabungan
Tak punya tabungan dan dana darurat

Hidup Anda dijamin tidak akan tenang kalau tidak punya tabungan, bahkan dana darurat. Begitu menderita sakit, kena PHK, ditimpa musibah kecelakaan, atau kondisi gawat lainnya, Anda tidak punya cadangan uang di tabungan maupun dana darurat, maka Anda akan kelimpungan sendiri.

Pilihannya, kalau tidak menjual harta benda, ya mengajukan utang ke bank, fintech, atau pinjam ke tetangga maupun teman dan keluarga. Masing-masing ada risikonya. Tapi jika Anda punya tabungan dan dana darurat, Anda tak perlu khawatir saat kondisi sulit menghampiri.

Apa Masalah Keuangan Anda Saat Ini?

Setiap orang memiliki masalah keuangan pribadi yang berbeda. Anda wajib mengenalinya dan mampu mengatasinya agar bisa keluar dari masalah tersebut. Jangan sampai masalah keuangan ini berlarut-larut menghantui jika Anda ingin hidup tenang, damai, tanpa beban, bersama keluarga tercinta.

Baca Juga: Tips Bisa Makan Enak dengan Uang Belanja Rp 20 Ribu Sehari