Terbukti Jitu, Begini Cara Atasi Banjir di Surabaya ala Risma

Banjir
Ilustrasi banjir

Cermati.com, Jakarta – Banjir melanda di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta seolah sudah jadi rutinitas tiap tahunnya, tak terkecuali Surabaya. Namun Kota Pahlawan ini unjuk kepiawaiannya dalam mengatasinya.

Lewat Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, masalah banjir di kota metropolitan kedua setelah Jakarta ini bukan jadi persoalan yang tak ada jalan keluarnya. Dengan ‘tangan dingin’ Risma inilah banjir Surabaya yang sudah terjadi sejak 2010-2011 lalu lambat laun bisa diatasi.

Lalu, seperti apa sepak terjang Risma sang walikota Surabaya ini dalam mengatasi dan mengantisipasi banjir di kota yang menjadi pusat bisnis kedua di Indonesia ini? Simak ulasan Cermati.com berikut ini yang dirangkum dari berbagai sumber.

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Aksi Gesit Walikota Surabaya Risma Atasi Banjir dalam 3 Jam

Risma Atasi Banjir Surabaya
Ilustrasi Risma mengatasi banjir di Surabaya

Banjir yang menerpa Surabaya, Jawa Timur, pertengahan Januari 2020 sempat menyita perhatian masyarakat nasional. Bagaimana tidak? Sebab Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mampu membuat banjir surut dalam hitungan 3 jam.

‘Kok, bisa? Hujan deras yang mengguyur beberapa kawasan di Surabaya seperti Jalan Mayjen Sungkono, Kendangsari, Ketintang, Bogowonto, dan lainnya, telah membuat wilayah ini diterendam banjir.

Struktur Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, dan sekitarnya yang cenderung cekung, membuat wilayah ini memang selalu jadi langganan banjir. Di sisi lain, hingga saat ini masih ada kendala membuat box culvert yang besar di area ini.

Guna mengatasi banjir ini, Risma mengarahkan Dinas Pekerjaan Umum Binaraga dan Pematusan (DPUMBP) untuk bergerak cepat dengan pompa-pompa dan genset yang sudah tersedia sebelumnya. Setidaknya ada 204 pompa yang berada di 59 titik rumah pompa dan 111 genset.

“Sebagus apapun pompa kita, kalau listriknya mati misal dalam 10 menit saja, maka air pasti sudah langsung naik (meluap). Nah, itu sudah diantisipasi juga oleh ibu wali kota (Tri Rismaharini) dengan pengadaan genset,” kata Kepala Dina Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya, Erna Purwanti, seperti dilansir dari Liputan6.

Baca Juga: Mudah, Cara Perbaiki Dokumen Kena Banjir ke ANRI

Cara Risma Mengatasi dan Antisipasi Banjir di Surabaya

Walikota Surabaya Tri Rismaharini
Walikota Surabaya Tri Rismaharini via IDNTimes

Keberhasilan upaya Risma dalam mengatasi dan mengantisipasi banjir di Surabaya diakui warganya. Bukan hanya mengatasi banjir dalam jangka pendek saja, namun Pemkot Surabaya juga telah menyiapkan skema mengatasi ancaman banjir dalam jangka panjang.

Bagaimana caranya Risma mengatasi dan mengantisipasi banjir secara permanen? Berikut langkah strategis Pemkot Surabaya mengatasi banjir seperti dikutip dari DetikNews.

1. Membangun Saluran (termasuk box culvert)

Pembangunan saluran air termasuk box culvert dilakukan hampir di seluruh wilayah Kota Surabaya. Menurut Dinas PUBMP Kota Surabaya, hingga saat ini jumlah saluran baru di wilayah Surabaya mencapai 293,87 kilometer.

Saluran air ini terus disambungkan hingga mencapai hilirnya yakni ke laut. Bersamaan itu pula, proyek box culvert di berbagai titik juga terus dikerjakan. Box culvert adalah beton precast berbentu persegi atau kota yang berfungsi untuk saluran drainase/gorong-gorong.

2. Mengeruk Sungai dan Saluran

Menurut Dinas PUBMP Kota Surabaya, pengerukan sungai dan saluran masih terus dilakukan. Hingga saat ini, pengerukan itu mendapai 2.865.002 meter kubik. Sementara itu, tanah dari hasil pengerukan itu digunakan untuk membangun taman, lapangan, sekolah, rusun, pasar, bozem (waduk), makan, dan berbagai fasilitas umum lainnya.

“Setelah kami hitung (pemanfaatan tanah hasil pengerukan yang digunakan untuk membangun fasilitas umum), ternyata dapat menghemat APBD sebesar Rp13-75 miliar per tahun,” kata Kepala Dinas PUBMP, Erna Purwanti, seperti dikutip dari DetikNews.

3. Membangun Tanggul Kali Lamong, Perbaikan dan Peninggian Pintu Air

Upaya pencegahan banjir rob akibat air laut yang pasang, Pemkot Surabaya telah membangun Tanggul Kali Lamong yang panjangnya lebih dari 8 km. Selain itu pintu air yang berbatasan dengan laut juga ditinggikan, sehingga saat laut pasang tidak masuk ke daratan.

4. Membangun Waduk

Disebutkan, Pemkot Surabaya juga terus menambah jumlah waduk (bozem) di wilayah ini. Hingga saat ini sudah ada sekitar 72 waduk dengan luas 1.446.925 meter persegi dan volume 6.008.139 meter kubik.

“Kami juga revitalisasi brandang (jalan kecil dan saluran air di antara petak bangunan) dengan pengerukan, rehabilitasi, dan pelarangan membangun gedung di atasnya,” ujar Erna.

5. Memperbanyak Rumah Pompa dan Genset

Pembanbangunan rumah pompa juga masih terus dilakukan hingga sekarang ini. Rencananya akan menambah pompa air di 18 titik di Kota Surabaya dan menambah kapasitas pompanya. Setidaknya sudah ada 204 pompa di 59 titik rumah pompa dan 111 genset.

6. Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau

Tak hanya itu saja, upaya Pemkot Surabaya menanggulangi banjir juga dilakukan dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan pohon-pohon di semua wilayah Surabaya agar menyerap air lebih banyak.

Hingga saat ini, jumlah total RTH di Surabaya seluas 7.290,53 hektare atau sama dengan 21,79% persen dari luas wilayah Kota Surabaya.

Baca Juga: Pilih Jenis Asuransi ini biar Mobil Kena Banjir Ditanggung Asuransi

Mungkinkah Jakarta Meniru Surabaya untuk Mengatasi Banjir?

Banjir Jakarta
Ilustrasi banjir di Jakarta

Seperti yang diketahui banjir di Ibu Kota Jakarta memang sudah seperti langganan saja. Bahkan hingga ada ungkapan ‘banjir tahunan’. Wajar saja, setiap memasuki musim penghujan, hampir tak pernah luput dari yang namanya banjir.

Tentu bukan tak ada upaya dari pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi dan menanggulangi ‘masalah rutin‘ ini. Bahkan sejak zaman Belanda pun upaya ini sudah dilakukan.

Tapi, seolah seperti kehilangan cara, meski sodetan kali di Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) terus diperbaiki, namun curah hujan dan ‘air kiriman’ dari wilayah sekitar terutama Bogor sebagai dataran yang lebih tinggi dari Jakarta ini tetap membuat banjir wilayah Ibu Kota.

Lalu, mungkinkan Jakarta perlu meniru cara Surabaya dalam mengatasi banjir? Sepertinya perlu extra effort dari Pemda DKI Jakarta untuk mencari terobosan yang sesuai dengan kebutuhan geografis wilayah Jakarta ini.

Baca Juga: Menguak Catatan Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Belanda dan Penyebabnya