Waspadai Happy Hypoxia, Kenali Gejalanya dan Cara Deteksinya

Pembahasan mengenai pandemi corona sepertinya belum ada habisnya. Bahkan, seiring berjalannya waktu virus corona ini kian membahayakan banyak orang di seluruh dunia.

Awalnya, orang yang terinfeksi virus Covid-19 ini akan menunjukan gejala umum seperti, demam, batuk kering, dan flu. Sementara gejala yang tidak umumnya, seperti nyeri, sakit tenggorokan, sakit kepala, hilangnya idera perasa atau penciuman dan munculnya ruam merah pada kulit tangan atau kaki.

Belum lama ini para dokter ahli yang masih melakukan penelitian mengenai virus corona menyebutkan bahwa ada gejala baru bagi penderita Covid-19, yaitu happy hypoxia. Meski awal katanya ‘Happy’ atau senang, siapa sangka gejala baru ini justru bisa mematikan penderita Covid-19 tanpa memperlihatkan gejala Covid-19 satupun.

Untuk itu, agar masyarakat bisa terhindar dari gejala Covid-19 yang berbahaya dan menjaga kesehatan dengan benar, maka sangat penting mengetahui informasi mengenai happy hypoxia penderita Covid-19.

Simak ulasan lengkapnya berikut ini mulai dari pengertian gejala, efek samping bagi penderita hingga cara mendeteksi dini happy hypoxia seperti yang telah Cermati.com rangkum dari berbagai sumber kesehatan.

Bingung cari asuransi kesehatan terbaik dan termurah? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Asuransi Kesehatan Terbaik!  

Pengertian Happy Hypoxia

oksigen dalam darah
Oksigen dalam darah

Happy hypoxia atau hipoksemia atau disebut juga dengan silent hypoxia merupakan penurunan kadar oksigen dalam darah. Seseorang yang oksigen dalam darahnya normal, maka kadar oksigen pada rentang 95-100% atau sekitar 75-100 mmHg. Ketika sudah dibawah angka normal, maka tubuh akan mengalami kekurangan oksigen dan bisa menimbulkan sesak napas.

Namun, hasil studi dari Loyola University Health System, yang ditulis Science Daily mengungkapkan pengidap Covid-19 yang mengalami happy hypoxia masih bisa beraktivitas seperti biasanya tanpa merasakan adanya sesak napas dan tidak disertai dengan keluhan atau gejala yang dirasakan oleh pasien.

Happy Hypoxia Merusak Organ Tubuh

Memang penderita happy hypoxia ini tidak menunjukkan gejala sedikitpun, tapi tanpa disadari kadar oksigen dalam darah akan berkurang cepat atau lambat. Jika oksigen dalam darah berkurang otomatis tubuh memerlukan oksigen tambahan.

Jika tubuh tidak menerika oksigen tambahan dan oksigen dalam darah terus berkurang, maka bisa memperburuk kesehatan. Tanpa oksigen darah yang cukup, organ tubuh seperti paru-paru, jantung, ginjal, otak dan lainnya rusak dalam waktu yang cepat.

Baca Juga: COVID-19 Menyebar Luas, 7 Produk Asuransi Ini Cover Risiko Virus Corona

Happy Hypoxia Berujung dengan Kematian

pasien Covid-19

Penderita Covid-19 yang mengalami happy hypoxia dan tidak mendapatkan penanganan khusus dengan segera, organ-organ dalam tubuh akan berhenti bekerja dan ini akan membuat penderita Covid-19 meninggal dunia.

Seperti yang dikutip dari Kompas.com, ada beberapa kejadian pasien yang sudah dinyatakan terinfeksi Covid-19 dan tidak memiliki gejala tapi secara tiba-tiba mengalami sesak napas dan meninggal dunia.

Kondisi ini banyak dialami dan ditemukan pada pasien dengan infeksi virus corona belakangan ini, bahkan tak sedikit yang menimbulkan kematian tanpa gejala.

Penderita Happy Hypoxia Perlu Pemeriksaan Menyeluruh

Merangkum dari situs Kompas, pasien Covid-19 yang berujung kematian tanpa gejala sudah terlihat sejak bulan Maret 2020. Namun sayangnya, baru-baru ini para ahli menemukan nama gejala baru Covid-19 yang mematikan tersebut.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto mengingatkan, pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala penyakit tetap harus waspada dan harus tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.

Ada beberapa langkah pemeriksaan pasien Covid-19 yang mengalami happy hypoxia, antara lain:

  1. Pasien akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan derajatnya (tingkat keparahan). Pemeriksaan ini bertujuan agar dokter tahu, pasien berada di derajat tidak ada gejala yang mana. Apakah termasuk yang ringan, sedang, berat atau kritis.
  2. Selanjutnya, pasien akan melakukan pemeriksaan kadar oksigen dalam darah pasien rendah atau tidak di laboratorium
  3. Kemudian, di laboratorium juga akan pemeriksaan CT Scan atau rontgen untuk melihat kondisi paru-paru pasien ada pneumonia atau tidak. Jika ada pneumonia tapi tdak ada gejala, maka pasien dimasukan dalam kategori terinfeksi gejala Covid-19 sedang.
  4. Pemeriksaan ini juga sama bagi pasien yang tidak menunjukkan gejala tapi hasil laboratorium menunjukkan ada hipoksemia. Dalam keadaan ini, seharusnya masuk dalam kategori pasien dengan gejala sedang atau berat.

Setelah pasien sudah dinyatakan hipoksemia, barulah dokter melakukan penanganan lebih lanjut dengan melakukan perawatan pasien di ruang ICU, pemberian oksigen tambahan hingga obat-obatan dan vitamin yang bisa menunjang organ tubuh bisa bekerja secara normal sampai pasien sembuh.

Baca Juga: Cermati Bermitra dengan Simas Jiwa Pasarkan Asuransi Kesehatan Proteksi Covid-19

Cara Deteksi Kadar Oksigen dalam Darah

oximeter

Meski happy hypoxia berbahaya dan mengancam jiwa penderita Covid-19, akan tetapi gejala ini bisa dideteksi secara dini dengan cara mengukur kadar oksigen dalam darah. Berikut cara mengukur kadar oksigen yang bisa dilakukan masyarakat, antara lain:

  1. Dilakukan di fasilitas layanan kesehatan terdekat
  2. Alat pulse oxymeter. Caranya, hanya pasangkan di ujung salah satu jari, kemudian di layar alat tersebut akan menunjukan angka oksigen dalam darah merah. Alat oxymeter ini berukuran sangat kecil dan bisa dibawa kemana mana. Anda bisa membeli oxymeter di berbagai e-commerce terpercaya seperti Shopee, Tokopedia dan lainnya. Harganya pun sangat terjangkau, yaitu mulai dari Rp60 ribut – Rp500 ribu.

Cegah Covid-19 dengan Proteksi Kesehatan

Jangan lengah ditengah pandemi corona saat ini. Untuk itu, sangat penting proteksi kesehatan dengan sebaik mungkin. Konsumsi makanan dan minuman yang bergizi, dan olahraga yang seimbang agar imun tubuh kuat. Selain itu, kurangi aktivitas di luar rumah dengan bekerja dan belajar dari rumah saja. Jika terpaksa keluar rumah, pastikan dengan protokol kesehatan yang lengkap. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer secara rutin. Setelah sampai rumah, segera bersihkan diri dan cuci pakaian hingga bersih.

Baca Juga: DKI Terapkan PSBB Jilid 2, Ini Aturan dan Cara Lapor Pelanggarannya