Awas Tertipu! Ini Modus Pencurian Data via Penjualan Online dan Cara Mencegahnya

Akal bulus penjahat untuk mencuri data seseorang tidak ada habis-habisnya. Kali ini, melalui penjualan online. Meminta foto selfie dengan KTP atau kartu ATM, serta kode verifikasi OTP (One Time Password).

Zaman now, waspada mesti ditingkatkan. Lengah sedikit, Anda bisa jadi korban pembobolan rekening bank. Uang yang ditabung selama bertahun-tahun ludes digasak pelaku dalam sekejap mata.

Sebetulnya cara kerja atau teknik yang digunakan pelaku untuk membobol rekening tidak lepas dari penipuan. Jika calon korban sudah kena tipu, maka dapat dengan mudah menguras rekeningnya.

Baca Juga: Ngeri Penipuan Online Berkedok Unggah Foto Selfie dan KTP, Kenali 7 Cirinya

Bingung cari Kartu Kredit Terbaik? Cermati punya solusinya!

Bandingkan Produk Kartu Kredit Terbaik!  

Awas Maling Data via Penjualan Online

Kasus terbaru, ini yang lagi viral di jagad Twitter. Pencurian data melalui penjualan online. Si penjual yang hampir tertipu calon pembeli. Menimpa Rega Afrilian Sungkawa.

Kisah tersebut dia bagikan untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Dikutip dari akun Twitter @regafrilian dan kompas.com, begini kronologi dan modus pencurian data yang dipakai pelaku:

  • Rega memasang iklan di OLX menjual mesin motor
  • Pelaku berpura-pura menjadi calon pembeli. Lewat chat WhatsApp pukul 01.30, pelaku menanyakan harga dan pengiriman mesin motor
  • Begitu sepakat, pelaku meminta nomor rekening Rega
  • Bukan hanya itu, agar terlihat lebih meyakinkan dan Rega percaya, pelaku mengirimkan foto selfie beserta KTP-nya
  • Kemudian gantian, pelaku minta Rega mengirimkan foto selfie dan KTP-nya. Lalu Rega percaya dan dikirimkan
  • Tidak berhenti sampai di sana. Pelaku kembali meminta Rega mengirimkan foto barang beserta kartu ATM-nya. Rega lagi-lagi percaya dan memberikannya
  • Pelaku mengirim screenshot transfer uang ke rekening Rega dari sebuah aplikasi
  • Tak lama kemudian, si pelaku menelepon Rega. Tetapi yang ditanyakan apakah Rega sudah menerima SMS dari 69888. Pelaku minta Rega menyebutkan kode verifikasi OTP 6 digit
  • Dari situ Rega sadar bahwa ini penipuan. Pelaku sedang mencoba bertransaksi menggunakan rekeningnya dan perlu kode OTP yang terkirim ke nomor HP Rega
  • Parahnya lagi si pelaku mengancam Rega akan menyebar foto selfie beserta KTP, serta menggunakan data pribadinya untuk praktik penipuan ke orang lain, melakukan transaksi, dan mengajukan pinjaman online atas namanya
  • Dengan begitu, Rega nantinya yang akan terjerat masalah, bukan pelaku
  • Karena takut, Rega melapor kasus ini ke pihak kepolisian.

Hingga Selasa (20/10), twit Reza telah mendapat lebih dari 40 ribu likes, dan 15 ribu retweet. Kasus pencurian data tersebut juga ramai diperbincangkan di komunitas online terbesar di Tanah Air.

Tips Menghindari Pencurian Data

Pencurian Data
Tips menghindari pencurian data

Kejahatan pencurian data dan pembobolan rekening bank dapat menimpa siapapun, termasuk Anda tanpa pandang bulu. Apalagi yang gampang tertipu, jadi sasaran empuk pelaku.

Oleh karena itu, jangan mudah percaya mulut manis, rayuan, atau iming-iming pelaku. Begini tips menghindari kasus penipuan dan pencurian data yang dibagikan Rega:

Baca Juga: Awas! Nomor HP Dikloning, Rekening Bank Dibobol Dalam Sekejap Mata

1. Jangan membagikan foto KTP dan kartu ATM

Data KTP sangat sensitif. Bila sampai jatuh ke tangan orang lain, apalagi orang-orang tak bertanggung jawab, habis sudah. Data Anda dapat disalahgunakan untuk tindak kejahatan.

Maka dari itu, jangan pernah membagikan foto selfie dan KTP, kartu ATM, kartu kredit, SIM, NPWP, hingga kepada orang lain. Juga ke media sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, maupun website dan aplikasi tak dikenal.  

2. Lacak nomor telepon via aplikasi

Kalau Anda mendapatkan nomor telepon asing alias tak dikenal, misterius, atau penelepon gelap, bahkan sampai berkali-kali, tak ada salahnya melacaknya melalui aplikasi, seperti Get Contact, TrueCaller, Contactive, HRL Lookup, Mobile Number Tracker Pro, Whoscall, dan lainnya.

Lewat aplikasi tersebut, Anda dapat mengetahui identitas penelepon tersebut dan memblokirnya apabila dirasa mengganggu. Terlebih untuk menghindari kasus penipuan yang marak terjadi.

3. Transaksi nominal besar melalui rekber atau marketplace

Bertransaksi melalui platform jual beli yang langsung menghubungkan penjual dan pembeli memang rawan penipuan, seperti media sosial. Harus diwaspadai.

Sebaiknya jika Anda penjual, jual barang di lapak online marketplace. Begitupun bila Anda pembeli. Bertransaksi di marketplace lebih aman karena ada perantara lain, yakni situs jual beli online tersebut.

Jadi perantara ini yang menjamin. Kalau ada kejadian apa-apa, seperti penipuan, pembeli atau penjual dapat lapor ke marketplace itu. Tetapi, pastikan Anda memilih marketplace terpercaya.

Tetapi bagaimana kalau terpaksa pakai platform jual beli langsung? Lebih baik transaksi dilakukan dengan tatap muka langsung atau COD.

Pilih tempat yang ramai dan aman. Jika masih khawatir, ajak teman atau keluarga yang dapat melindungi Anda saat bertransaksi dengan orang tak dikenal.

Cara lain, gunakan rekening bersama atau rekber. Yaitu, layanan rekening yang menampung dana transaksi jual beli online. Fungsi rekber sebagai perantara yang menjembatani transaksi antara penjual dan pembeli.

4. Perhatikan waktu

Masalah waktu juga penting. Memang sih kejahatan tidak mengenal waktu, bisa terjadi kapan saja. Namun umumnya jam-jam favorit aksi kejahatan adalah malam atau dini hari.

Mereka lebih leluasa beraksi dan menjerat korban. Sebab, di waktu-waktu tersebut, orang dalam keadaan mengantuk, sehingga akan kesulitan untuk fokus.  

Jadi Korban? Lapor ke Kepolisian

Anda menjadi salah satu korban penipuan, pencurian data, atau pembobolan rekening maupun kartu kredit? Jangan tinggal diam. Laporkan ke pihak kepolisian agar segera diusut. Dengan begitu, pelaku atau penipu bisa tertangkap dan tidak ada lagi korban kejahatan serupa berikutnya.

Baca Juga: Waduh, Spear Phishing Merajalela! Ini Lho 3 Modus Phishing dan Tips Menghindarinya