Keuangan Anti Krisis saat Baru Punya Anak, Begini Caranya

Sebagian besar pasangan muda yang telah menikah, pasti mengharapkan hadirnya buah hati untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Namun di sisi lain, memiliki anak berarti kebutuhan semakin banyak.

Apakah kamu sudah siap? Jawabannya ya harus siap. Maka dari itu, persiapkan keuangan sejak dini, sehingga menghindari kamu dan pasangan dari financial shock atau kejutan keuangan setelah mempunyai anak.

Keuangan tetap stabil dengan kehadiran satu anak, dua anak, atau lebih. Anak tumbuh dengan segala kebutuhan yang dapat dipenuhi orangtua, seperti sandang, pangan, papan, dan pendidikan.

Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencapai hal tersebut? Berikut tipsnya.

Baca Juga: Masalah Keuangan Keluarga yang Paling Sering Terjadi, Apa Saja?


Mengatur keuangan saat baru punya anak

1. Cermat Mengidentifikasi Kebutuhan

Pertama adalah mengidentifikasi kebutuhan anak. Ketahuilah, ada banyak kebutuhan utama anak ketika baru lahir, seperti biaya syukuran kelahiran, popok dan susu, perlengkapan memompa ASI, biaya imunisasi, dan berobat ke dokter, stroller, ranjang, hingga gendongan.

Jika kamu dan pasangan bekerja, perlu menyiapkan pengasuh atau babysitter. Jadi, tidak ada yang namanya bujet bayi ideal. Semua tergantung dari penghasilan, gaya hidup, dan tingkat kebutuhan setiap keluarga.

Semakin rasional tingkat pengeluaran kamu, tentu semakin baik pengaruhnya terhadap beban finansial keluarga secara keseluruhan. 

Baca Juga: 6 Kiat Sukses Mencapai Tujuan Keuangan Keluarga agar Hidup Mapan

2. Buat Komitmen dan Prioritas

Setelah berhasil mengidentifikasi segala kebutuhan si kecil, langkah selanjutnya adalah membuat prioritas. Mana kebutuhan yang harus dipenuhi sekarang dan mana yang masih bisa ditunda. 

Kemudian, terapkan strategi untuk menghemat pengeluaran secara mudah. Misalnya, ada beberapa peralatan bayi yang dibanderol dengan harga mahal.

Namun, kamu bisa menyediakan barang-barang tersebut dengan menyewa. Sebab, pemakaian untuk barang-barang bayi tidak akan lama. Penggunaannya hanya sebentar saja seiring bertambahnya usia anak.


Keuangan untuk anak

3. Lengkapi dengan Asuransi yang Tepat

Bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, sehingga rawan terserang berbagai penyakit, seperti demam, batuk pilek, sakit kuning, sembelit, dan lainnya.

Jadi, harus ada perlindungan atau proteksi untuk bayi melalui asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan dapat menjadi penyelamat saat menghadapi situasi gawat ketika anak harus dilarikan ke puskesmas atau rumah sakit.

Bila bayi kamu sudah terkover asuransi kesehatan sejak awal, biaya pengobatan di rumah sakit akan ditanggung perusahaan asuransi. Kamu tidak perlu pusing memikirkan biayanya, dan bisa fokus memberikan perawatan terbaik untuk buah hatimu.

Tabungan dana darurat tetap aman. Dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak lainnya. Bukan saja mengamankan kondisi keuangan kamu di hari ini, tetapi juga di masa yang akan datang.

Pilih produk asuransi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan finansialmu. Untuk pembayaran premi, alokasikan minimal 10% dari gaji setiap bulan.

Baca Juga: Keuntungan Memiliki Asuransi Kesehatan untuk Bayi

4. Kumpulkan Dana Pendidikan Sejak Dini

Mengumpulkan dana pendidikan untuk anak hendaknya dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak awal menikah. Hal ini akan membuat dana pendidikan lebih maksimal dan bertambah seiring berjalannya waktu.

Tahu sendiri, biaya pendidikan semakin mahal. Setiap tahun naik sekitar 10%. Kalau dihitung-hitung, kebutuhan biaya pendidikan anak dari tingkat SD hingga perguruan tinggi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Jumlah yang sangat besar untuk investasi pendidikan anak. Itu untuk satu anak, bagaimana jika punya dua anak atau lebih. Bisa sampai miliaran rupiah.

Jadi, persiapkan dana pendidikan dengan baik. Kamu dapat mengumpulkannya melalui produk tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, ataupun investasi, seperti emas, saham, reksadana, dan sebagainya.


Dana darurat keluarga

5. Tingkatkan Dana Darurat

Prioritas untuk segala kebutuhan anak sudah dipersiapkan, kini giliran mengamankan keuangan keluarga. Secara tidak langsung, kebutuhan dana darurat rumah tangga secara otomatis akan meningkat ketika ada anak.

Besaran dana darurat yang ideal untuk kamu yang sudah menikah dan punya anak adalah 12 kali pengeluaran bulanan. Jika masih menikah belum punya anak sebesar 9 kali pengeluaran.  

Cara untuk mengumpulkan dana darurat ini, menyisihkan 10% dari gaji sebulan untuk dana darurat. Selain itu, untuk meningkatkannya, kamu dapat menyimpannya di instrumen investasi yang mudah dicairkan, seperti reksadana pasar uang dan emas.  

Banyak Cara Mengatasi Financial Shock

Financial shock kerap jadi momok bagi pasangan muda masa kini. Hal tersebut terjadi karena kehadiran buah hati memang membutuhkan sederet biaya yang tak bisa dikatakan murah. 

Dengan pengelolaan keuangan yang terencana, kamu bisa mengatasi masalah yang ada. Bahkan, bukan tak mungkin akan membuat keuangan keluarga nanti bakal tetap sehat tanpa terguncang oleh gangguan dalam bentuk apapun, termasuk financial shock. 

Baca Juga: Tips Mengatur Keuangan Setelah Punya Bayi, Nomor 4 Paling Utama